
Musik jalanan bernama Angklung Doa Ibu berhasil menghibur undangan tasyakuran pernikahan di sebuah perumahan di Gresik.
Tagar.co – Sinar matahari terasa menyengat di Sidojangkung, Menganti, Gresik, Kamis (28/11/24) pukul 10.30 WIB. Saat itu rombongan pengantin baru Aqil Rausanfikr Mohammad-Dewi Wulandari tiba di Wisma Sidojangung Indah, di kediaman Mohammad Nurfatoni-Siti Rondiyah—orang tua Aqil.
Bersama pengantin baru adalah orang tua Dewi: Lutfiyanto-Umi Fauziyah. Mereka datang bersama sekita 50 orang anggota keluarga.
Kedatangan mereka untuk mengantar mempelai disambut ‘lagu’ salawat yang rancak melalui tiga harmoni alat musik: drum, ketimpung, dan angklung.
Sebuah grup musik bernama Angklung Doa Ibu yang memainkannya. Rumah yang biasanya tenang, kini riuh dengan gema suara musik jalanan yang menyambut para undangan.
Di ujung jalan, empat pemuda bernama Rian, Riky, Farel, dan Sipil, memainkan lagu-lagu seperti Perahu Layar, Ikan dalam Kolam, Sido Rondo, selain Salawat, yang menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh keceriaan.
“Lagu-lagu ini kami suguhkan untuk menghibur tamu undangan yang datang dari berbagai kota, termasuk rombongan besan dari Cikarang,” ungkap Rian dengan senyum lebar.
Tamu-tamu yang datang segera terhanyut dalam irama yang menyenangkan. Musik ini tidak hanya mengiringi kedatangan tamu, tetapi juga menemani saat-saat ramah tamah hingga mereka pulang. Suara musik ini seolah menjadi benang merah yang mengikat semua hati dalam kebahagiaan.

Hari itu, Kamis, 28 November 2024, adalah hari di mana Dewi Wulandari dan Aqil Rausanfikr Mohammad mensyukuri kebahagiaan mereka dengan keluarga dan teman-teman.
Beberapa hari sebelumnya, pada Sabtu, 23 November 2024, di Holiday Inn Cikarang Jababeka, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, telah diadakan akad nikah dan resepsi pernikahan mereka. Dan Kamis itu sang mempelai menemui keluarga pengantin pria (Jawa: ngunduh mantu).
Rian, salah satu personil, bercerita bagaimana mereka bisa tampil di acara ini. “Awalnya kami ngamen di perumahan Wisma Sidojangkung Indah di rumah Bapak Mohammad Nurfatoni. Dia kemudian minta alamat kami untuk menyewa jasa kami,” ujarnya.
Dia menjelaskan, kelompok musik yang berdiri tahun 2018 dan punya basecamp di Benowo Surabaya ini awalnya beraksi di lampu merah, namun demi ketertiban jalan, mereka harus berpindah ke kampung-kampung untuk melanjutkan tradisi ngamen mereka.
Cerita ini adalah bukti bahwa musik jalanan tidak hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga menyebarkan kebahagiaan dan keceriaan di setiap sudut kehidupan. (#)
Jurnalis Slamet Hariadi












