Rileks

Syahdu, Pendaki Tembus Kabut Kelud di Jalur Sugihwaras

×

Syahdu, Pendaki Tembus Kabut Kelud di Jalur Sugihwaras

Sebarkan artikel ini
Ratusan pendaki memadati jalur Sugihwaras Gunung Kelud meski kabut tebal dan hujan melanda. Mereka berburu sensasi sejuk dan panorama kawah hijau yang tersembunyi di balik awan.
Zafran Althaf (kanan) berfoto bersama keluarganya usai melihat pemandangan di kawah Kelud. (Tagar.co/Istimewa)

Ratusan pendaki memadati jalur Sugihwaras Gunung Kelud meski kabut tebal dan hujan melanda. Mereka berburu sensasi sejuk dan panorama kawah hijau yang tersembunyi di balik awan.

Tagar.co — Suara gesekan ranting pohon dan langkah kaki yang menapak tanah basah memecah keheningan di lereng Gunung Kelud, Kediri. Sejak Sabtu malam hingga Ahad pagi, 17–18 Januari 2026, alam seolah sedang memamerkan sisi misteriusnya. Kabut tebal menyelimuti jalur pendakian via Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, mulai dari pos pertama hingga pos ketujuh.

Hujan yang mengguyur kawasan tersebut sejak Sabtu malam baru benar-benar reda sekitar pukul 06.30 WIB. Sisa-sisa air langit meninggalkan jejak jalur trekking yang licin namun menantang. Terpaan angin dingin menusuk kulit, sementara jarak pandang menjadi sangat terbatas bagi siapa pun yang melintas.

Namun, rintangan alam itu justru menjadi magnet bagi para pencinta ketinggian. Berdasarkan pantauan di lapangan, arus pendaki tidak kunjung surut. Mereka datang silih berganti sejak fajar menyingsing. Udara pagi yang segar dan sensasi berjalan menembus kabut menjadi alasan utama mereka tetap melangkah.

Baca Juga:  Menyibak Kabut Merapi: Menilik Sejarah Kelam Bunker dan Menikmati Guyuran Adrenalin

Tercatat hampir 400 orang memadati jalur tersebut sepanjang akhir pekan. Para pendaki berasal dari berbagai daerah dan didominasi oleh kelompok pendaki pemula hingga komunitas pecinta alam

Petugas pos pendakian terakhir, Sumardiyono, mengonfirmasi bahwa fenomena kabut ini memang tergolong ekstrem karena bertahan cukup lama. “Sejak pos pertama sampai pos tujuh tertutup kabut cukup tebal. Hujan turun sejak Sabtu malam sampai pagi hari, tapi alhamdulillah pendaki tetap tertib dan mematuhi arahan petugas,” ujar Sumardiyono saat memantau pergerakan para pendaki.

Sumardiyono juga tidak bosan-bosan mengingatkan para pengunjung agar tidak meremehkan cuaca. Ia mengimbau para pendaki untuk selalu mengutamakan keselamatan, membawa perlengkapan yang memadai, serta waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu di kawasan Gunung Kelud. Hingga Minggu siang, suasana tetap kondusif tanpa ada laporan keadaan darurat.

Baca Juga: Dieng: Negeri di Atas Awan yang Menyimpan Sejuta Pesona

Ratusan pendaki memadati jalur Sugihwaras Gunung Kelud meski kabut tebal dan hujan melanda. Mereka berburu sensasi sejuk dan panorama kawah hijau yang tersembunyi di balik awan.
Pemandangan di Gunung Kelud. (Tagar.co/Anis Shofatun)

Keajaiban Kecil di Puncak Uncal

Di antara ratusan orang tersebut, tampak keluarga Rudi Ircham yang ikut serta menjajal ketangguhan fisik mereka. Bagi mereka, pendakian bukan sekadar olahraga, melainkan momen mempererat kedekatan keluarga. Mereka memulai langkah pada pukul 06.00 WIB, saat suhu sedang rendah-rendahnya.

Baca Juga:  Peserta Kajian Ramadan Buka Bersama, Menikmati Hangatnya Sayur Asem di Joglo Unmuh Jember

Rudi mengaku terkesan dengan karakteristik Kelud yang ramah bagi pendaki lintas usia. “Medannya tidak terlalu berat, tapi suasananya syahdu sekali. Udara dingin, tenang, dan cocok untuk pendakian keluarga,” ungkap Rudi dengan nada puas. Menurutnya, meski treknya tidak sesulit Gunung Ijen, Kelud menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Sekitar pukul 08.30 WIB, keluarga ini berhasil memijakkan kaki di kawasan Puncak Pelataran (PP) Uncal Kelud. Namun, ekspektasi mereka untuk langsung melihat pemandangan indah sempat terhalang tembok putih raksasa. Kabut tebal masih memeluk area kawah dengan erat. Tidak ada warna hijau, tidak ada tebing yang terlihat jelas—hanya warna putih sejauh mata memandang.

Pengalaman unik justru datang dari putra Rudi, Zhafran Althaf Fahrezi Ircham. Siswa kelas XI-1 SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio) ini sempat merasa putus asa karena kabut tidak kunjung menipis. Althaf pun memutuskan untuk turun lebih awal.

Namun, alam rupanya menyimpan kejutan. Baru berjalan turun sekitar 100 meter, keajaiban kecil terjadi. Angin kencang tiba-tiba menyapu kabut tersebut ke arah lain. “Awalnya kabut tebal sekali, tapi pas turun sedikit, awannya bergeser. Tiba-tiba kelihatan hijau, sejuk, dan indah sekali,” kata Althaf dengan mata berbinar penuh antusias.

Baca Juga:  Takjil Sehat untuk Berbuka

Melihat perubahan cuaca yang mendadak itu, Althaf segera memutar balik dan mengajak keluarganya kembali ke titik akhir pendakian. Keputusan itu berbuah manis. Langit perlahan membuka tabirnya, memperlihatkan kemegahan kawah Gunung Kelud dan siluet Gunung Sumbing yang menjulang di kejauhan. Di ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut (mdpl), keluarga ini akhirnya berhasil mengabadikan momen berharga tersebut. Perjalanan menembus kabut itu berakhir dengan memori indah yang tak akan terlupakan. (#)

Jurnalis Anis Shofatun Penyunting Sayyidah Nuriyah