
Ukasya, bocah lincah yang memandu saya menaklukkan Mirror Maze Heha Sky View Yogyakarta dengan kemampuan memori visual spasialnya yang luar biasa.
Tagar.co — Pesona Yogyakarta seolah tak pernah habis menawarkan sudut-sudut magis bagi para pelancong. Salah satunya adalah HeHa Sky View, destinasi yang populer dengan julukan “Taman Langitnya Yogya”. Pada Sabtu siang, 17 Januari 2026, rombongan kader Nasyiatul Aisyiyah asal Kota Pudak membelah jalur berkelok menuju perbukitan Gunungkidul.
Sepanjang perjalanan, bus yang membawa rombongan kader Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik ini melintasi bentang alam hijau yang mendominasi sisi jalur menanjak. Setibanya di lokasi, mereka langsung mengeksplorasi titik-titik estetis dan mencicipi hidangan di food stall kolaborasi dengan UMKM lokal.
Di tengah keriuhan itu, saya bertemu kembali dengan Ria Tri Wulandari yang sedang menggandeng putra sulungnya, Auliya Ukasya Al Khawarizmi.
Wulan, sapaan akrab sang Ketua Panitia Tapak Tilas Yogya Bersama PDNA Gresik, bercerita tentang sebuah wahana unik yang baru saja mereka kunjungi. Namanya Mirror Maze. Nama yang unik itu seketika memantik rasa penasaran saya untuk mencobanya.
Tanpa ragu, Wulan menawarkan Ukasya untuk menemani saya masuk kembali ke dalam labirin cermin tersebut. Bocah itu mengiyakan mantap. Sementara Wulan menunggu di pintu masuk, saya dan Ukasya bersiap menantang diri di dalam sana.
Setelah membayar tiket seharga Rp20.000 per orang, seorang petugas di lobi menjelaskan tata cara bermain. Ia juga menyerahkan sebilah stik gabus putih kepada kami. “Gunakan ini untuk memandu jalan agar tidak menabrak cermin,” pesannya.
Awalnya, saya percaya diri bisa menaklukkan labirin tersebut dengan mudah. Namun, begitu melangkah masuk, pantulan bayangan yang artistik dari berbagai sisi mulai mengacaukan orientasi arah saya.
Baca Juga: Lezat! Aneka Kuliner Berjalan ala Nasyiah Gresik di Atas Bus

Navigasi Cerdas Sang Pemandu Cilik
Rasa tertantang berbaur dengan kecemasan karena kami hanya memiliki waktu satu jam untuk mengeksplorasi seluruh area Heha Sky View. Sementara mayoritas waktu sudah kami gunakan untuk berfoto di beberapa titik. Alhasil, tinggal hitungan menit yang tersisa.
Namun, keraguan saya pupus saat melihat strategi Ukasya. Ia berjalan cepat dan gesit. Tangan kecilnya lincah mengetukkan stik gabus pada setiap permukaan di hadapannya. Setiap kali menemukan celah atau kelokan yang benar, bocah kelas III SD itu menoleh dan berseru, “Lewat sini!”
Saya memutuskan untuk menaruh kepercayaan penuh pada panduan Ukasya. Di luar dugaan, ia memiliki daya ingat yang tajam dalam mengenali “petunjuk” arah yang kabur.
Langkah gesit Ukasya akhirnya membawa kami mendekati area cermin ubur-ubur yang ikonik. “Kita sudah dekat!” teriaknya penuh kegembiraan saat kami menemui cermin berputar dengan tiang di tengahnya.
Ukasya seolah memiliki peta di dalam kepalanya. “Nah, lewat sini,” ujarnya lagi saat melihat sebuah cermin dengan retakan sekitar 30 sentimeter.
Benar saja, tak lama kemudian, ia mengantarkan saya pada sebuah ruang yang dipenuhi “ubur-ubur bercahaya”. Pemandangan itu seketika membawa ingatan saya terbang pada film Avatar. Kabel fiber optik yang tersusun rapi memancarkan cahaya warna-warni yang memukau mata.
Baca Juga: Menyibak Kabut Merapi: Menilik Sejarah Kelam Bunker dan Menikmati Guyuran Adrenalin

Langkah Kilat ke Pintu Keluar
Wulan menyambut kami dengan senyum hangat di pintu keluar. Saya menyampaikan terima kasih yang mendalam karena telah mengizinkan Ukasya menemani saya. Tanpa bantuan bocah itu, mungkin saya masih terjebak di antara pantulan bayangan sendiri.
Ia pun terkejut saat mengetahui betapa cepat putranya menghafal alur labirin tersebut. Berdasarkan rekaman video di ponsel saya, kami hanya membutuhkan waktu 1 menit 50 detik untuk mencapai ruang ubur-ubur hingga pintu keluar.
Ibu dua anak itu kemudian teringat pada pengalamannya sendiri saat masuk ke labirin itu bersama Ukasya beberapa saat sebelumnya. Ia harus bersusah payah mengimbangi langkah lincah sang anak. “Uka jangan cepat-cepat, nanti Bunda nyasar,” kenangnya sambil menirukan celetukannya kala itu.
Rupanya, kelincahan Ukasya bukan tanpa alasan. Ia sebelumnya pernah menelusuri bersama sang bunda dan lama Sebelumnya, mereka juga mengunjungi wahana serupa di Malang.
Meski demikian, kemampuan memori visual spasial Ukasya tetap mengundang decak kagum. Di usia yang masih belia, ia mampu memetakan ruang yang rumit dengan sangat presisi. Perjalanan ke HeHa Sky View hari itu bukan sekadar wisata swafoto, melainkan bukti betapa tajamnya kecerdasan seorang anak dalam menaklukkan tantangan di Taman Langitnya Jogja. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












