
Ketidakpastian hidup bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Namun Islam memberi panduan agar kita tetap tenang: proaktif, belajar dari kegagalan, dan bersikap hemat di tengah dunia yang tak menentu.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Ketidakpastian merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia. Setiap insan akan dihadapkan pada dinamika hubungan sosial dan gejolak ekonomi yang datang secara tiba-tiba tanpa bisa diduga sebelumnya. Situasi ini dapat menimbulkan perasaan putus asa, kebingungan, dan kecurigaan terhadap orang di sekelilingnya.
Baca juga: Melihat Perselingkuhan dari Gedung Bioskop
Bagi seorang mukmin, kondisi seperti itu justru menjadi titik balik untuk kembali pada nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai rujukan utama dalam berpikir dan bersikap. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat ini mengandung makna bahwa ketidakpastian dapat datang kapan saja dan menimpa siapa saja. Oleh karena itu, ada tiga hal yang dapat kita lakukan untuk menyikapinya secara bijak:
1. Jadilah Orang yang Proaktif, Bukan Reaktif
Proaktif berarti mengambil inisiatif dan bertindak terlebih dahulu untuk mencegah masalah, sedangkan reaktif berarti merespons setelah masalah terjadi. Orang yang proaktif cenderung merencanakan ke depan dan bertindak sebelum situasi menjadi krisis.
Firman Allah Swt. dalam Surah Al-‘Ankabut 69:
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat ini mengajarkan agar manusia berusaha secara proaktif, berlandaskan standar nilai kebaikan yang ditetapkan Allah, bukan berdasarkan penilaian manusia. Sebagaimana pepatah: “Yang penting bekerja halal, tak perlu malu meski dilihat orang.”
2. Belajar pada Orang yang Sukses dari Kegagalan
Dalam Islam, kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga sejauh mana seseorang mampu menyeimbangkan kebutuhan dunia dan akhirat berdasarkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, ilmu, usaha, doa, serta kemanfaatannya bagi orang lain.
Sabda Nabi Muhammad Saw.:
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula isinya kecuali (yang digunakan untuk) berdzikir kepada Allah, ketaatan kepada-Nya, orang yang berilmu, dan orang yang belajar.” (H.R. At-Tirmidzi, no. 2322; hasan)
3. Tidak Boros, Bersikap Hemat
Dalam situasi yang serba tidak pasti seperti saat ini, Islam menganjurkan sikap sederhana dan moderat dalam membelanjakan harta, serta melarang pemborosan.
Firman Allah dalam Surah Al-Furqan 67:
وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, dan (pembelanjaan itu) berada di tengah-tengah antara yang demikian.”
Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang bisa kita kendalikan dalam situasi penuh ketidakpastian (uncertainty) saat ini. Wallāhualamubisawāb. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












