
Di balik tradisi “kembali suci”, Idulfitri sejatinya adalah penanda berakhirnya puasa. Soal ampunan, hanya Allah yang berhak menilai.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Idulfitri selama ini kerap dimaknai sebagai “hari kembali suci”. Namun, jika ditelusuri dari sisi bahasa dan istilah fikih, makna yang lebih mendasar justru merujuk pada hari raya berbuka, yakni kembalinya umat Islam untuk makan dan minum setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Kata Idulfitri berasal dari dua unsur: ‘id yang berarti kembali atau hari raya, dan al-fitr yang bermakna berbuka atau makan. Dengan demikian, secara harfiah Idulfitri adalah hari raya berbuka, penanda berakhirnya larangan makan dan minum di siang hari.
Baca juga: Lailatulqadar, Momentum Menjemput Takdir Terbaik
Pemaknaan ini bukan tanpa dasar. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. tidak keluar untuk melaksanakan salat Idulfitri sebelum terlebih dahulu makan. Sebaliknya, pada Iduladha, beliau tidak makan hingga selesai salat.
Bahkan, terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa Nabi Saw. memakan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil sebelum berangkat salat Idulfitri. Hal ini menunjukkan bahwa makan sebelum salat Id bukan sekadar kebiasaan, tetapi memiliki nilai sunah sekaligus simbol bahwa pada hari tersebut umat Islam tidak lagi berpuasa.
Dari sini dapat dipahami bahwa Idulfitri secara tegas adalah hari diharamkannya berpuasa, sekaligus hari diperbolehkannya kembali menikmati makan dan minum di siang hari.
Antara Makna Bahasa dan Pemaknaan Populer
Di tengah masyarakat, Idulfitri sering dimaknai sebagai momentum “kembali suci”, yakni bersih dari dosa setelah menjalani ibadah Ramadan. Pemahaman ini biasanya dikaitkan dengan hadis Nabi Saw.:
“Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis tersebut memang menunjukkan bahwa Ramadan memiliki potensi besar sebagai sarana pengampunan dosa. Namun, penting dicatat bahwa ampunan itu memiliki syarat: dilakukan dengan iman, keikhlasan, dan disertai upaya menjauhi dosa-dosa besar.
Hal ini diperkuat oleh hadis lain yang menyatakan bahwa salat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadan ke Ramadan menjadi penghapus dosa selama dosa besar dijauhi.
Artinya, tidak otomatis setiap orang yang berpuasa akan kembali dalam keadaan suci. Bahkan, Rasulullah Saw. mengingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”
Peringatan ini menjadi kritik sekaligus refleksi bahwa kualitas puasa tidak hanya diukur dari menahan lapar, tetapi juga dari keikhlasan dan kemampuan menjaga diri dari maksiat.
Tidak Ada Klaim Kepastian Kesucian
Dalam perspektif teologis, tidak ada satu pun manusia yang berhak memastikan bahwa seseorang telah kembali suci setelah Ramadan. Sebab, penerimaan amal sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah Swt.
Dalam hadis qudsi disebutkan: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Hadis ini menegaskan bahwa puasa memiliki dimensi spiritual yang sangat personal dan rahasia. Hanya Allah yang mengetahui siapa yang benar-benar ikhlas dan siapa yang sekadar menjalankan rutinitas.
Karena itu, sikap yang tepat bagi seorang mukmin bukanlah mengklaim kesucian diri, melainkan senantiasa berharap dan berdoa agar amalnya diterima.
Idulfitri: Kembali Makan, Tetap Menjaga Sikap
Dengan demikian, Idulfitri pada hakikatnya adalah hari raya makan dan minum, yakni kembalinya umat Islam pada fitrah biologis setelah menjalani latihan spiritual selama Ramadan.
Namun, kebolehan ini bukan berarti tanpa batas. Islam tetap menekankan prinsip keseimbangan: tidak boros, tidak berlebihan, dan tetap menjaga adab dalam menikmati nikmat Allah.
Idulfitri bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan momentum untuk menunjukkan bahwa setelah ditempa selama Ramadan, seorang Muslim mampu mengelola kenikmatan dunia dengan sikap yang lebih bijak.
Pada akhirnya, Idulfitri adalah perpaduan antara kebebasan yang kembali dan kesadaran yang seharusnya meningkat. Wallahualam. (#)












