
Kaki sapi yang “copot sendiri” usai penyembelihan jadi cerita lucu sekaligus ironi. Di balik kisah itu, tersimpan pesan penting tentang tanggung jawab panitia kurban—bukan sekadar teknis, tapi urusan ibadah yang harus ditunaikan dengan benar.
Tagar.co — Dalam ibadah kurban, terdapat tiga pelaku utama yang memegang peran sentral: pengurban, panitia, dan penerima kurban. Ketiganya membentuk satu rangkaian ibadah yang utuh dan penuh hikmah.
Selain membahas tentang pentingnya niat dan keikhlasan dari sisi pengurban, kali ini sorotan tertuju pada peran panitia—pihak yang menjembatani amanah pengurban kepada penerima yang berhak.
Baca juga: Bisa Kurban Sapi Rp25 Juta tapi Masih Meributkan Pembagian Daging 1 Kg?
Pembahasan ini mengemuka dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid At-Taqwa, Wisma Sidojangkung Indah, Kecamatan Menganti, Gresik, pada Ahad (1/6/2025). Hadir sebagai penceramah, Ustaz Hasan Abidin menyampaikan materi seputar profesionalisme dan tanggung jawab panitia kurban dalam perspektif syariat dan praktik sosial.
Bukan Sekadar Sukarelawan, tapi Penanggung Amanah Ibadah
Ustaz Hasan mengingatkan bahwa menjadi panitia kurban bukanlah tugas ringan. Meski sifatnya sukarela, namun tanggung jawab yang diemban bersifat ibadah dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Panitia itu pelaksana. Tapi bukan sekadar pelaksana teknis. Mereka ini pelaksana amanah. Dan amanah itu berat,” ujarnya mengajak jemaah merenung.
Ia menegaskan bahwa ada tiga syarat utama yang harus dimiliki oleh setiap panitia kurban, yaitu: amanah, berilmu, dan memberi manfaat. Ketiganya tidak bisa dipisahkan dan menjadi satu paket yang menentukan kualitas pelaksanaan kurban.
Amanah: Menjaga Titipan Pengurban dan Hak Penerima
Syarat pertama, kata Ustaz Hasan, adalah amanah. Ini adalah fondasi utama dari seluruh proses pelaksanaan kurban.
“Pelaksana ini, Bapak Ibu, harus amanah. Jangan sampai ada yang dititipi hewan kurban, lalu dilaksanakan asal-asalan, atau bahkan ada bagian yang disalahgunakan,” ujarnya.
Ia menyebutkan beberapa kejadian yang pernah ia temui, termasuk kasus pencurian bagian daging hewan kurban secara diam-diam. Salah satu kisah yang ia ceritakan membuat jemaah tertawa getir.
“Pernah, setelah penyembelihan, tiba-tiba ada satu kaki sapi yang hilang. Katanya copot sendiri. Ndilalah ya copot pas nggak ada yang lihat. Modusnya macam-macam. Tapi intinya, panitia harus menjaga betul agar tidak ada kebocoran. Jangan sampai ada yang menyelundupkan bagian tertentu, apalagi untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Ia bahkan menyarankan penggunaan teknologi seperti CCTV dalam pelaksanaan kurban untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan masyarakat.

Berilmu: Paham Fikih dan Tata Kelola yang Syari
Syarat kedua yang ditekankan adalah berilmu. Ustaz Hasan menegaskan bahwa panitia harus mengetahui hukum-hukum fikih kurban, termasuk pembagian daging, pengelolaan kulit, hingga pembagian jeroan.
“Pelaksana harus tahu hukum. Kulit ini diapakan, jeroan ini dibagikan atau dibuang? Jangan sampai tidak tahu. Harus paham betul. Karena ini ibadah, bukan sembarang kegiatan sosial,” jelasnya.
Ia membagikan pengalaman pribadi yang menunjukkan pentingnya pemahaman fikih.
“Saya pernah dapat kiriman kurban, isinya kulit 30 sentimeter persegi lengkap dengan bulunya. Istri saya bingung, ‘Ini diapakan, Mas?’ Saya jawab, ‘Bungkus lagi, kasihkan tetangga.’ Tapi saya membayangkan, berapa banyak orang lain yang seperti saya? Nggak tahu harus diapakan. Akhirnya mubazir. Ini harus jadi evaluasi,” katanya seraya menyarankan kulit hewan kurban dibagikan secara utuh pada seseorang.
Ustaz Hasan menambahkan bahwa penting bagi panitia untuk mengetahui batasan mana yang boleh dimanfaatkan dan mana yang harus disalurkan. “Ada keyakinan pelaksana yang mengatakan kulit harus dibagi habis. Tapi kalau tidak ada edukasi ke penerima, bisa jadi malah mubazir. Nah, itu juga bagian dari ilmu,” tambahnya.
Memberi Manfaat: Kurban yang Berdampak Sosial
Syarat ketiga adalah memberi manfaat. Kepala SMK Muhammadiyah 3 Cerme Gresik itu menekankan bahwa keberhasilan panitia tidak hanya diukur dari jumlah hewan yang disembelih atau banyaknya paket yang dibagikan, tetapi dari kemanfaatan riil yang dirasakan masyarakat.
“Kurban ini jangan sekadar potong hewan, bagi-bagi daging. Ini ibadah sosial. Harus jelas siapa yang menerima. Jangan sampai ada warga miskin tidak kebagian, sementara orang mampu malah dapat jatah duluan,” pesannya.
Ia menyoroti pentingnya distribusi yang adil dan terstruktur. Bahkan ia menyarankan agar panitia memiliki basis data penerima manfaat agar pembagian daging kurban bisa lebih tepat sasaran.
“Kalau kita bisa memberi manfaat seluas-luasnya, maka barulah kurban itu terasa berkahnya. Jangan asal cepat selesai, tapi tak jelas siapa yang menikmati,” ujarnya.
Pengajian yang Mendidik dan Membekas
Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa WSI kali ini terasa berbeda. Tidak hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga praktis dan menyentuh persoalan teknis di lapangan. Beberapa jemaah terlihat serius mencatat, bahkan mulai berdiskusi tentang teknis distribusi dan SOP penyembelihan yang sesuai syariat.
Bagi panitia yang akan bertugas Iduladha mendatang, pengajian ini menjadi semacam briefing spiritual dan manajerial yang mencerahkan. Dan bagi jemaah lain, ini menjadi bekal untuk lebih menghargai dan memahami kerja berat para panitia.
“Insyaallah, kalau tiga hal ini dipenuhi: amanah, berilmu, dan memberi manfaat, maka kurban kita akan lebih bermakna,” tutup Ustaz Hasan. (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












