
Dalam Pengajian Ahad Pagi di Menganti Gresik, Ustaz Hasan Abidin mengingatkan, keikhlasan menjadi kunci diterimanya kurban, seperti dalam kisah Kabil dan Habil.
Tagar.co – Suasana Ahad pagi (1/6/2025) di Masjid At-Taqwa Wisma Sidojangkung Indah (WSI) Menganti terasa hangat oleh kehadiran para jemaah yang setia mengikuti Pengajian Ahad Pagi. Kali ini, penceramah yang hadir adalah Ustaz Hasan Abidin.
Dengan gaya bicara yang ringan namun penuh makna, ia mengajak para hadirin merenungkan kembali esensi ibadah kurban.
Baca juga: Daging Kurban Wajib Halal dan Tayib
Ustaz Hasan Abidin membuka ceramah dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan dua belas bulan dalam satu tahun. Dari dua belas bulan itu, ada empat bulan yang disebut bulan haram atau bulan mulia: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.
“Dan kita sekarang berada di bulan Zulhijah,” ujarnya. Di bulan ini, ada dua momen utama. Pertama, ibadah haji bagi saudara-saudara kita yang berangkat ke Tanah Suci. Kedua, ibadah kurban bagi kita yang tinggal.
Dengan memakai kemeja putih dibalut jas krem, serta berpeci dan bersarung hitam, Ustaz Hasan, sapaannya, memancing senyum para jemaah dengan bertanya, “Hari raya kurban itu senang atau susah? Mestinya senang. Yang kurban senang, panitia senang, yang di rumah senang, yang menerima daging senang. Ada nggak yang menerima daging malah susah? Harusnya semua bergembira.”
Ustaz Hasan menyinggung, “Tadi saya dengar dari luar, turun dari mobil sudah ada pengumuman: tiga sapi, insyaallah. Ini luar biasa. Tentu harus menggembirakan bagi semua.”
Dia lalu mengajak jemaah melihat kurban dari tiga sudut: yang berkurban, pelaksana (panitia), dan penerima sambil menengok kembali kisah kurban dari tiga zaman atau tiga era berbeda: era Nabi Adam;era Nabi Ibrahim; dan era Nabi Muhammad Saw.
Di era Nabi Adam, Allah menceritakan dalam Surat Al-Maidah 27 ada dua putra Nabi Adam, Habil dan Kabil. Keduanya mempersembahkan kurban. Habil mengorbankan binatang ternak terbaik. Kabil mengorbankan hasil panen, tapi seadanya, tidak sepenuh hati. Singkat cerita, kurban Habil diterima, kurban Kabil ditolak.
Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik itu menekankan: “Yang diterima itu karena keikhlasannya. Totalitasnya. Jangan sampai kurban kita ada yang masih digandoli. Jangan sampai kita sudah berkurban, tapi ternyata tidak sepenuhnya. Ini yang bikin nilainya berbeda.”

Untuk menjelaskan soal keikhlasan itu dia menyelipkan cerita-cerita, misalnya: “Pernah ada yang datang ke panitia, menyerahkan kambing, tapi bilang, ‘Pak panitia, ini kambing saya, tapi keluarga saya nggak makan kambing. Jadi nanti saya minta 15 bagian sapi, ya.’” Jemaah pun tertawa.
“Kalau sudah begini, ayo kita luruskan. Jangan sampai kita sudah senang, tapi malah menyusahkan yang lain. Kurban mestinya bikin semua senang. Jangan sampai yang berkurban senang, panitia malah pusing, penerima juga bingung,” urainya.
Lalu dia masuk ke contoh nyata yang sering terjadi: bagi mereka yang tiap tahun rutin berkurban, ada tantangan keihklasan.
Istri bertanya, “Yah, gimana, besok kurban?”
Suami, “Insyaallah kurban.”
Istri, “Ya mestinya, ‘kan kita tidap tahun kita sudah kurban masak saiki (sekarag) tidak kurban, yo isin (malu)’”
Menurut Ustaz Hasan, perasaan malu itu bisa merusak keihklasan, maka dia mengajak agar saat beramal seperi kurban ini tidak terpengaruh oleh kata orang. “Wes ayo diluruskan (niatnya),” ajak dia
Ustaz Hasan juga mendorong jemaah mengecek keikhlasan dengan memberi perhitungan sederhana: “Kalau kita bisa kurban sapi seharga Rp25 juta tapi masih meributkan pembagian daging kurban satu kilo yang Rp100 ribu, itu ironi,” ungkapnya. Itulah ujian keikhlasan.
Ustaz Hasan mengingatkan soal itu. “Kalau kita masih berpikir, ‘Ah, kurban di sana lebih enak, dapat lebih banyak,’ ayo hati-hati. Jangan sampai ibadah kita kehilangan nilai hanya karena pamrih-pamrih kecil. Bersihkan niat, luruskan hati. Biar kurban kita bukan hanya potongan daging, tapi amal yang diterima Allah.”
Untuk memperkuat nasihatnya, Ustaz Hasan mengutip Surat Al-Insan 9: “Kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap rida Allah. Kami tidak menghendaki balasan darimu, tidak pula ucapan terima kasih.”
Dia menjelaskan, “Kalau niat kita sudah lurus, kita nggak akan nunggu ucapan terima kasih. Kita nggak akan hitung-hitungan. Kita kasih, ya sudah, biar Allah yang membalas.” (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












