Feature

Tangisan dalam Tiga Wajah: Munajat, Penyesalan, dan Syukur

64
×

Tangisan dalam Tiga Wajah: Munajat, Penyesalan, dan Syukur

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Tangisan bukan sekadar luapan emosi. Dalam Islam, ia bisa menjadi tanda kekhusyukan, penyesalan mendalam, atau syukur yang tak terucapkan. Tiga wajah tangisan ini menyimpan kekuatan spiritual untuk menguatkan hati yang rapuh dan menuntun jiwa kembali kepada Allah.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Tangisan adalah respons alami terhadap berbagai emosi, baik yang negatif seperti kesedihan, kekecewaan, dan rasa sakit, maupun yang positif seperti kebahagiaan dan keharuan. Adapun yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tangisan bermakna positive thinking, yang memotivasi seseorang untuk meraih hidup yang lebih bermakna, optimistis, dan produktif, serta menjauhkan dari keputusasaan.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Najm ayat 43:

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى

“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menafsirkan ayat di atas dengan menyatakan:

“Allah-lah yang menciptakan sebab-sebab tertawa dan menangis, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Dan dalam hal itu terdapat hikmah yang agung.”

Baca Juga:  Krisis BBM dan Seruan WFH Menurut Kaidah Fikih 

Kesimpulannya, tangisan yang positif memiliki dampak baik terhadap kesehatan mental dan mampu memotivasi seseorang untuk meraih keberhasilan hidup serta mendapatkan ampunan Allah Ta’ala.

Setidaknya ada tiga keadaan yang menjadikan tangisan sebagai bentuk kebahagiaan dan penguatan hati saat menghadapi kesedihan, kekecewaan, atau depresi tanpa sebab yang jelas:

1. Tangisan saat Bermunajat kepada Allah

Tangisan saat berdoa, khususnya dalam sujud, bukan hanya mempercepat terkabulnya doa, tetapi juga membawa ketenangan hati. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 109:

وَيَخِرُّوْنَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعًا

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.”

2. Tangisan Penyesalan atas Dosa dan Kesalahan

Tangisan ini memotivasi seseorang untuk bertekad tidak mengulangi kesalahan yang dapat menggagalkan tujuan hidupnya. Nabi Saw. bersabda:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: « أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ »

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., ‘Apa itu keselamatan?’ Beliau menjawab, ‘Jagalah lisanmu, cukupkan rumahmu (dengan ibadah), dan tangisilah dosa-dosamu.’” (H.R. Tirmizi dan Ahmad, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Baca Juga:  Bermazhab kepada Ulama

3. Tangisan saat Mendapatkan Nikmat Hidup

Tangisan ini timbul dari rasa syukur atas nikmat Allah berupa kesehatan, keamanan, dan kecukupan kebutuhan pokok. Nabi Saw. bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian yang pada pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (H.R. Tirmizi)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tangisan yang disertai positive thinking mampu memperkuat hati yang rapuh agar menyandarkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada Allah Ta’ala. Wallahualam bisawab. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni