
Semarak Ramadan UMM 2025 menegaskan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai pilar peradaban. Muhammadiyah terus berinovasi dalam pendidikan global, mengusung moderasi, dan menyiapkan umat untuk masa depan cerah.
Tagar.co – Semarak Ramadan kembali menyapa sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 8 Maret 2025. Tahun ini, acara tersebut mengusung tema “Navigasi Ramadan: Misi Muhammadiyah yang Mencerahkan”, menghadirkan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D.
Dalam pemaparannya, Sayuti menegaskan bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata utama dalam memajukan peradaban, sebagaimana yang telah menjadi komitmen Muhammadiyah sejak awal berdirinya.
Baca juga: Dosen UMM Jadi Pembicara di TSUL Uzbekistan
Sejak didirikan, Muhammadiyah telah menunjukkan dedikasinya dalam bidang pendidikan. Komitmen ini tidak hanya diwujudkan di Indonesia, tetapi juga merambah dunia internasional, seperti melalui pendirian Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) dan Muhammadiyah Australia College (MAC). Inisiatif ini mencerminkan visi Muhammadiyah dalam memperluas cakupan pendidikan sebagai wahana mencerdaskan umat.
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah juga telah menggagas berbagai gerakan besar yang berdampak luas. Sayuti mengingatkan pentingnya gerakan seperti wujudul hilal, Taman Pustaka Muhammadiyah (1915), Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), serta Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO/PKM) pada 1920. Kontribusi ini membuktikan peran Muhammadiyah dalam membangun peradaban yang lebih maju dan berorientasi pada kesejahteraan umat.
7S Framework dan Kunci Kesuksesan Muhammadiyah
Dalam pemaparannya, Sayuti juga menyoroti keberhasilan Muhammadiyah dalam menjalankan misinya melalui penerapan 7S Framework dari McKinsey, yang meliputi Strategy, Structure, System, Skill, Staff, Style, dan Shared Values. Ia menjelaskan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah sebagai organisasi besar yang terus berkembang tidak terlepas dari penerapan strategi ini.
Sayuti juga menyinggung hasil survei yang menunjukkan bahwa di Indonesia, hanya ada dua institusi yang memiliki citra positif tinggi, yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Muhammadiyah. Fakta ini mengindikasikan betapa besar pengaruh Muhammadiyah dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan sosial.
Moderasi sebagai Pilar Keberlanjutan
Salah satu prinsip utama yang dibahas dalam acara ini adalah moderasi. Sikap moderat, menurut Sayuti, menjadi kunci bertahannya Muhammadiyah di tengah perubahan zaman. Moderasi inilah yang memungkinkan Muhammadiyah untuk tetap relevan dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dengan menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, Muhammadiyah tetap menjadi gerakan yang membawa pencerahan bagi umat.

Tangga Sulaiman dan Pentingnya Ilmu Pengetahuan
Dalam penyampaiannya, Sayuti mengibaratkan ilmu pengetahuan sebagai Tangga Sulaiman, yang menjadi pijakan pertama menuju kemajuan. Ilmu adalah kunci utama yang menghubungkan seseorang dengan kedudukan dan kesejahteraan. Tanpa ilmu, kekayaan dan jabatan tidak akan bermakna, sedangkan dengan ilmu, manusia dapat mencapai kebijaksanaan dan kesuksesan yang hakiki.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pusat keilmuan dunia saat ini mengalami kemunduran, termasuk dalam ranah keislaman. Padahal, ilmu pengetahuan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban dan menjadi kekuatan umat. Oleh karena itu, Muhammadiyah terus berkomitmen untuk mendorong kemajuan melalui pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi (iptek).
Muhammadiyah dan Cita-Cita Futuristik
Senada dengan Sayuti, Wakil Rektor V UMM Bidang Pengembangan SDM dan Pembinaan AIK Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si menegaskan bahwa berpikir futuristik adalah cita-cita Muhammadiyah. Sebagai organisasi yang mendunia, Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada kemajuan lokal, tetapi juga memiliki misi besar untuk menjadi rahmatanlilalamin, sebagaimana yang diajarkan dalam Surah Muhammad 107.
“Dengan terus berpikir maju, Muhammadiyah tidak hanya memberikan pencerahan bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh manusia. Inilah yang menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang terus berkembang dan membawa manfaat luas bagi masyarakat dunia,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin (10/3/25) siang.
Semarak Ramadan UMM 2025 menjadi momentum refleksi bagi sivitas akademika dan masyarakat luas bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci utama untuk mencapai kemajuan. Muhammadiyah, dengan berbagai inisiatif dan kontribusinya, terus berupaya menjadi pilar pencerahan yang menerangi peradaban. (*)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












