
Perjalanan ke Nusa Tenggara Barat membuka kesadaran bahwa memimpin madrasah bukan sekadar soal administrasi, melainkan keberanian bermimpi besar, bertahan di tengah gelombang, dan terus belajar dari kehidupan.
Oleh Nurkhan; Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.
Tagar.co – Studi banding ke Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Forum Silaturahmi Kepala Madrasah (Foskam) SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Gresik bukan sekadar agenda perjalanan kelembagaan. Ia menjelma ruang belajar yang hidup—penuh makna, sarat refleksi, dan menggugah kesadaran tentang hakikat kepemimpinan pendidikan.
Selama empat hari berpindah dari satu tempat ke tempat lain, pengalaman demi pengalaman hadir bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk direnungi. Ada pelajaran-pelajaran yang tidak akan ditemukan di ruang rapat, buku pedoman, atau seminar formal. Justru di perjalanan itulah, nilai-nilai kepemimpinan diuji dan diperkaya.
Baca juga: Bismillah di Udara: Pengalaman Pertama Seorang Guru Naik Pesawat
Pada hakikatnya, kepala sekolah atau madrasah adalah pembelajar sepanjang hayat. Ia tidak boleh berhenti pada rutinitas administrasi dan target formal semata, tetapi dituntut terus memperluas wawasan dan membuka cakrawala berpikir. Studi banding menjadi salah satu jalan strategis untuk itu—jalan belajar yang konkret, kontekstual, dan reflektif.
Dengan melihat langsung praktik baik di daerah lain, kepala madrasah belajar bahwa pengelolaan lembaga pendidikan tidak pernah tunggal. Tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua. Setiap madrasah memiliki karakter, tantangan, dan peluang yang berbeda. Di sinilah pentingnya kemampuan adaptasi: menyerap inspirasi, lalu mengolahnya sesuai konteks masing-masing.
Perjalanan menuju NTB dengan pesawat menyimpan pesan simbolik yang kuat. Terbang bukan sekadar berpindah jarak, tetapi keberanian meninggalkan zona nyaman. Kepala madrasah yang berani “terbang” sejatinya adalah pemimpin yang berani bermimpi besar—mimpi untuk memajukan madrasah, mengangkat martabat pendidikan daerah, dan memberi layanan terbaik bagi peserta didik.
Tanpa mimpi besar, madrasah akan berjalan di tempat. Ia mungkin bertahan, tetapi sulit berkembang. Pesawat juga mengajarkan bahwa perjalanan jauh menuntut kesiapan, perencanaan, dan kepercayaan. Demikian pula dalam mengelola madrasah. Pemimpin harus berani menyusun visi jangka panjang, meskipun kondisi lembaga masih sederhana, fasilitas terbatas, dan dukungan belum maksimal. Mimpi besar bukan menafikan realitas, melainkan menjadikan realitas sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi.
Refleksi kepemimpinan semakin terasa saat menyeberang ke Gili Trawangan dengan speed boat. Ombak yang menghempas, perahu yang oleng ke kanan dan ke kiri, serta rasa waswas yang menyertai perjalanan menjadi metafora yang sangat relevan dengan dunia kepemimpinan madrasah.
Mengelola madrasah tidak pernah lepas dari gelombang persoalan: keterbatasan dana, dinamika guru, tuntutan orang tua, kebijakan yang berubah, hingga tantangan era global yang berjalan beriringan dengan media sosial. Dalam situasi seperti itu, kepala madrasah dituntut memiliki keteguhan dan pijakan yang kokoh. Ia tidak boleh mudah goyah hanya karena kritik, konflik, atau keterbatasan.
Seperti nahkoda speed boat, kepala madrasah harus tetap fokus pada tujuan, menjaga keseimbangan, dan memastikan seluruh “penumpang”—guru, siswa, dan warga sekolah—merasa aman. Keteguhan prinsip, kejernihan visi, serta ketenangan dalam mengambil keputusan menjadi kunci agar madrasah tetap melaju meski diterpa ombak.
Kunjungan ke SDIT Abata memberikan pelajaran penting tentang fleksibilitas dan kemauan untuk terus belajar. Madrasah yang maju bukanlah yang merasa paling benar, melainkan yang selalu terbuka untuk berbenah. Kepala madrasah yang fleksibel mampu membaca situasi, menyesuaikan strategi, serta mengelola sumber daya yang ada dengan cerdas.
Praktik manajemen di SDIT Abata menunjukkan bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari konsistensi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang mau turun langsung. Ini menjadi cermin bahwa belajar manajemen tidak cukup dari teori, tetapi dari praktik nyata—melihat, berdiskusi, dan merefleksikan pengalaman sekolah lain.
Kunjungan ke Dusun Sasak Sade dan Mondoliko semakin menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial masyarakat. Tradisi, ekonomi keluarga, dan struktur sosial sangat memengaruhi pola hidup, termasuk cara bekerja dan bertahan hidup. Bagi kepala madrasah, hal ini menjadi pengingat bahwa kebijakan pendidikan tidak bisa disamaratakan. Madrasah harus dikelola dengan memahami denyut kehidupan masyarakat sekitarnya.
Kehidupan masyarakat Sasak yang bertahan dengan sumber daya terbatas mengajarkan tentang efisiensi dan kemandirian. Madrasah, terutama di pedesaan, sering berada dalam kondisi serupa: dana terbatas, fasilitas minim, dan dukungan yang tidak selalu ideal. Namun keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Justru dari sanalah kreativitas dan ketangguhan kepemimpinan diuji.
Jika Gili Trawangan mengajarkan keteguhan menghadapi gelombang, dan SDIT Abata memberi pelajaran tentang manajemen modern serta fleksibilitas kepemimpinan, maka Sasak Sade dan Mondoliko mengajarkan tentang akar, identitas, dan ketulusan proses. Ketiganya saling melengkapi.
Kepala madrasah yang utuh adalah mereka yang mampu memadukan visi besar, ketahanan mental, kecakapan manajerial, serta kepekaan budaya dan sosial. Tanpa salah satu unsur itu, kepemimpinan pendidikan akan pincang.
Pada akhirnya, studi banding ke Nusa Tenggara Barat bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin dan intelektual. Ia menjadi ruang kontemplasi tentang makna memimpin dan mendidik. Kepala madrasah pulang dengan kesadaran baru bahwa mengelola madrasah bukan hanya soal prestasi dan administrasi, melainkan tentang merawat mimpi anak-anak, menjaga nilai-nilai luhur, dan menyiapkan masa depan dengan penuh kesungguhan.
Dari langit NTB, ombak Gili Trawangan, ruang belajar SDIT Abata, hingga lorong-lorong sederhana Sasak Sade dan Mondoliko, semuanya menyatu menjadi pelajaran besar: pendidikan adalah perjalanan panjang yang hanya bisa ditempuh oleh pemimpin yang berani bermimpi, kuat bertahan, dan rendah hati untuk terus belajar. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












