
Keberangkatan studi banding ke Nusa Tenggara Barat menjadi ujian keberanian seorang guru saat pertama kali naik pesawat, menaklukkan rasa takut melalui kebersamaan, doa, dan keyakinan yang menguatkan.
Tagar.co – Keberangkatan ke Nusa Tenggara Barat (NTB) dbersama rombongan Foskam SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Gresik menjadi pengalaman yang tak mudah saya lupakan.
Bukan semata karena nilai studi bandingnya, melainkan karena satu tantangan personal yang cukup menguji mental: untuk pertama kalinya, saya harus naik pesawat.
Baca juga: Menembus Ombak Menuju Gili Trawangan, Perjalanan Laut yang Menguji Adrenalin
Sejak keputusan program studi banding itu diambil, pikiran saya dipenuhi berbagai bayangan. Bagaimana jika cuaca memburuk di udara?
Bagaimana jika pesawat mengalami turbulensi? Kekhawatiran tersebut kian menguat ketika beredar kabar adanya puting beliung di sekitar Bandara Juanda. Hati pun berada di persimpangan antara melangkah dengan keberanian atau mengalah pada rasa takut.
Pada akhirnya, keyakinan menjadi jawaban. Bismillahirrahmanirrahim. Hari keberangkatan pun tiba. Alhamdulillah, suasana kebersamaan bersama rekan-rekan kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik yang penuh semangat dan antusiasme perlahan menenangkan batin. Energi positif mereka terasa menular, menguatkan hati yang semula gundah.
Namun, kegelisahan itu kembali muncul ketika kaki benar-benar melangkah memasuki kabin pesawat Citilink, Senin (12/1/2026), di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Saya duduk di deretan tiga kursi. Di sebelah kiri saya, Ustaz Ghoniyul Ulum; di sebelah kanan, Ustazah Athiq Amiliyah.
Keduanya tampak tenang, seolah perjalanan udara adalah rutinitas biasa. Saya berusaha menyembunyikan kegugupan, meski jantung berdegup lebih cepat dari biasanya.
Saat pesawat mulai mengudara, rasa syukur sempat memenuhi dada. Alhamdulillah, penerbangan terasa cukup tenang. Namun, ketenangan itu belum sepenuhnya menetap. Beberapa saat kemudian, rasa takut kembali menyergap ketika pesawat terasa sedikit miring ke kiri dan bergerak naik turun, seakan menghindari kondisi cuaca tertentu.
Meredam Kegelisahan
Untuk meredam kegelisahan, saya mengalihkan pikiran dengan berdiskusi bersama Ustaz Ghoniy dan Ustazah Athiq Amiliyah. Obrolan mengalir ringan namun bermakna. Bersama Ustaz Ghoniyul Ulum, pembicaraan mengarah pada manajemen MIM 2 Banyuurip dan perjalanan beliau mengantarkan sekolah yang dipimpinnya meraih prestasi Adiwiyata.
Dengan nada tenang, ia bercerita tentang perubahan sederhana yang berdampak besar. Salah satunya adalah mengubah tanah kosong di belakang madrasah—yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah—menjadi taman yang rindang dan asri.
Dari pengelolaan sampah, kesadaran lingkungan tumbuh, karakter siswa terbentuk, dan wajah sekolah pun berubah. Cerita itu terasa menenangkan, seolah menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Nuansa diskusi berbeda ketika obrolan berlanjut bersama Ustazah Athiq Amiliyah, Kepala SD Muhammadiyah Manyar (SDMM). Bersama dia, perbincangan mengarah pada pengalaman kepemimpinan, tantangan dunia pendidikan modern, serta ikhtiar panjang membangun sekolah unggul yang berdaya saing.
Cerita tentang budaya mutu, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan mengalir tanpa terasa. Prestasi SDMM—baik nasional maupun internasional—hadir bukan secara instan, melainkan buah dari kerja kolektif, disiplin, dan visi yang jelas.
Penghargaan dari Acer melalui ajang Acer Smart School Awards 2025 kategori School of the Year serta capaian peringkat nasional menjadi penegas bahwa sekolah Muhammadiyah mampu bersaing di level global tanpa kehilangan ruh keislaman.
Sekitar 40 menit saya larut dalam diskusi bermakna tersebut. Tanpa disadari, rasa takut yang sejak awal menghantui perlahan menghilang. Percakapan, kisah perjuangan, dan inspirasi kepemimpinan menjadi penenang yang jauh lebih ampuh daripada sekadar memejamkan mata.

Hikmah Ketinggian
Di ketinggian ribuan kaki dari permukaan bumi, saya justru menemukan ketenangan baru: bahwa perjalanan—baik di udara maupun dalam dunia pendidikan—selalu menuntut keberanian, keyakinan, dan kemauan untuk terus belajar.
Ujian kecil sempat datang kembali ketika terdengar suara dari badan pesawat, mirip kendaraan yang melintasi jalan berlubang. Seketika, jantung kembali berdegup kencang.
Namun kali ini, saya memilih untuk tidak larut dalam ketakutan. Saya menenangkan diri dengan berdoa dan berserah, meyakini bahwa setiap perjalanan berada dalam penjagaan dan kehendak-Nya.
Tak lama kemudian, pengumuman dari awak kabin terdengar: pesawat akan segera mendarat. Hati pun terasa plong. Rasa takut luruh perlahan, digantikan rasa syukur dan keyakinan baru bahwa ketakutan dapat ditaklukkan ketika keberanian dipilih untuk tetap melangkah.
Pengalaman itu terasa semakin lengkap saat perjalanan pulang dari NTB. Kali ini, saya kembali naik pesawat Lion Air dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid menuju Bandara Internasional Juanda Surabaya, Rabu (14/1/2026).
Ada perasaan yang berbeda. Rasa takut yang dulu mendominasi kini bergeser menjadi keberanian. Bahkan, di tengah penerbangan, saya sempat terlelap—sesuatu yang terasa mustahil pada penerbangan pertama.
Jika saat berangkat pikiran dipenuhi kecemasan, maka saat pulang hati justru diliputi ketenangan dan kepercayaan diri. Perjalanan ini menegaskan satu hal sederhana namun bermakna: keberanian tumbuh dari pengalaman, dan ketakutan perlahan akan jinak ketika kita berani menghadapinya. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












