Feature

Smamda Surabaya Luncurkan Buku 50 Tahun Emas: Menyulam Sejarah, Menjemput Masa Depan

70
×

Smamda Surabaya Luncurkan Buku 50 Tahun Emas: Menyulam Sejarah, Menjemput Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Soft launching buku 50 Tahun Smamda Emas secara simbolis diserahkan kepada Wakil Ketua PWM Jawa Timur Ir. Tamhid Masyhudi (ketiga dari kiri) (Tagar.co/Alumdadini Bilqis Lanisari)

SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya meluncurkan buku 50 Tahun Smamda Emas dalam puncak milad ke-50. Buku ini menjadi penanda transformasi sekolah unggulan ini dari tradisi ke era digital.

Tagar.co – Sabtu pagi beberapa waktu lalu (17/5/2025) , Mas Mansur Hall lantai enam Smamda Tower dipenuhi wajah-wajah penuh cerita. Lebih dari 400 orang—mulai dari pendiri sekolah, guru dan karyawan yang telah purna tugas, alumni lintas generasi, komite sekolah, wali murid, hingga jajaran pimpinan Muhammadiyah dari tingkat cabang hingga wilayah—berkumpul dalam peringatan 50 tahun SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda).

Setengah abad perjalanan bukan sekadar angka. Ia adalah rentetan sejarah panjang perjuangan pendidikan, pengabdian, dan inovasi. Milad emas ini pun diangkat dalam tema “Berkarya untuk Negeri”—sebuah refleksi yang tidak hanya menengok ke belakang, tapi juga menatap masa depan.

Astajab, S.Pd., M.M., Kepala SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya, menegaskan bahwa peringatan ini bukanlah seremoni biasa. “Ini adalah momentum refleksi. Kita ingin melihat sejauh mana perjalanan Smamda, capaian yang telah diraih, dan ke mana sekolah ini akan diarahkan ke depan,” ujarnya.

Baca Juga:  Capaian Gemilang Siswa Spemdalas Alesha Sabrina Sakhi di Ajang Panahan Tingkat Provinsi

Baca juga: Menyelami Spiritualitas, 399 Siswa Smamda Surabaya Darul Arqam di PPIC Elkisi

Suasana semakin haru saat dokumentasi perjalanan lima dekade Smamda ditayangkan, menggambarkan dinamika dan capaian dari masa ke masa. Setiap periode kepemimpinan kepala sekolah direkam dan dipaparkan sebagai bagian dari milestone institusi, dari kepala sekolah pertama hingga ketujuh.

“Setiap 10 tahun kami evaluasi capaian. Kami ingin cita-cita para kepala sekolah sebelumnya terus berlanjut,” tambah Astajab.

Sebagai bagian dari warisan emas ini, diluncurkan pula buku “50 Tahun Smamda Emas”, ditulis kolaboratif oleh tiga guru: Dio Yulian Sofansyah, M.Pd., Moch. Hendy Bayu Pratama, M.Pd., dan Mustakim, S.Pd.

Buku tersebut tidak hanya merangkum sejarah dan prestasi sekolah, tetapi juga menyajikan kontribusi para kepala sekolah dari generasi ke generasi. Untuk pertama kalinya, buku ini juga tersedia dalam versi digital yang bisa diakses oleh seluruh alumni dan masyarakat luas—simbol bahwa Smamda telah menjejak ke era digital tanpa meninggalkan akar sejarahnya.

Silaturahmi, Harapan, dan Gairah Masa Depan

Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan siswa, mulai dari bela diri hingga paduan suara. Ada pula cek kesehatan gratis dan pembagian doorprize, dari voucher belanja hingga smartwatch dan smartphone. Rangkaian milad pun melibatkan kegiatan lain seperti Smamda Cup 2025, seminar pendidikan, bakti sosial, dan jalan sehat.

Baca Juga:  Tauhid sebagai Spiritual Power: 350 Siswa Smamda Ikuti Darul Arqam di eLKISI

Yang istimewa, bukan hanya para tamu undangan yang larut dalam kebanggaan. Guru-guru senior yang telah pensiun pun turut hadir dan berbagi kesan. Wedyasning Wulandari, mantan guru Biologi yang mengajar sejak 1988 hingga 2019, mengaku masih mengikuti perkembangan sekolah. “Baik guru maupun siswanya punya semangat yang luar biasa untuk terus maju,” katanya.

Ummu Tukmiyati, guru Bahasa Inggris yang mengabdi dari 1983 hingga 2007, turut menyampaikan kebanggaannya. “Kami ikut bersyukur karena Smamda di mata internasional semakin berkembang,” tuturnya.

Acara ditutup dengan tausiah inspiratif dari Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Ir. Tamhid Masyhudi, yang mengangkat pentingnya gerakan tajdid dalam Muhammadiyah. Doa bersama dan sesi foto menutup hari penuh kenangan itu.

Dengan semangat 50 tahun, Smamda terus melangkah. Tak hanya sebagai sekolah unggulan nasional, tapi juga sebagai ladang amal dan cahaya ilmu yang terus menyala—untuk negeri, untuk umat, dan untuk masa depan. (#)

Jurnalis Alumdadini Bilqis Lanisari Penyunting Mohamamd Nurfatoni