Feature

Siswa Bersimpuh, Air Mata Bicara: Momen Haru Pelepasan Siswa SD Al-Islam Morowudi

60
×

Siswa Bersimpuh, Air Mata Bicara: Momen Haru Pelepasan Siswa SD Al-Islam Morowudi

Sebarkan artikel ini
Vishenza Nadine Artaisyah Kirana (kiri) dan Rezkya Shakirah Putri bersimpuh dipangkuan ibunda masing masing (Tagar.co/Mardiyana Z.)

Sungkeman menjadi momen puncak yang menggugah hati dalam pelepasan siswa kelas VI SD Al-Islam Morowudi. Tangis pecah, pelukan menguat, dan lagu kasih sayang menggema di Hall Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik, Sabtu sore (14/6/2025).

Tagar.co – Tangis haru pecah di Hall Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik pada Sabtu sore, 14 Juni 2025. Puluhan siswa kelas VI SD Al-Islam Morowudi, Cerme, Gresik, Jawa Timur, bersimpuh di hadapan orang tua mereka dalam prosesi sungkeman, momen paling emosional dalam Haflah Akhirissanah Ke-46 dan Penghargaan Tahfizul Qur’an Ke-4.

Sejak pukul 12.30 WIB, lantai 3 Gedung Dakwah Muhammadiyah telah dipadati orang tua, siswa, dan para guru. Suasana khidmat menyelimuti ruangan. Acara dimulai dengan penampilan ekstra Tapak Suci yang disambut tepuk tangan hangat para hadirin.

Baca juga: Bertabur Apresiasi, SD Al-Islam Morowudi Gresik Rayakan Prestasi Lulusan

Salah satu segmen yang menyentuh adalah persembahan dari dua siswa kelas VI, Vishenza Nadine Artaisyah Kirana (Shensa) dan Rezkya Shakirah Putri (Kia). Keduanya menyanyikan lagu Terima Kasih Ibu yang diselingi puisi dari Siti Fatimah, berisi pesan kasih sayang, syukur atas perjuangan orang tua, dan harapan masa depan.

Baca Juga:  Siswa SD Al-Islam Kompak Berbagi dalam Jumat Berkah

Emosi makin memuncak saat Vishenza dan Kia menyanyikan lagu Kaulah Ibuku karya Haddad Alwi. Suara lembut mereka mengalun memenuhi hall, membangkitkan perasaan hangat yang sulit terbendung. Kia bahkan sempat menitikkan air mata, menahan tangis di tengah lagu.

Siswa siswi bersimpuh dipangkuan ibunda tercinta.ungkapan terimakasih atas perjuangan orang tua (Tagar.co/Mardiyana Z.)

Puncak Haru: Sungkeman tanpa Komando

Puncak dari rangkaian acara terjadi saat prosesi sungkeman dimulai. Diiringi lantunan puisi haru oleh Siti Fatimah, Vishenza dan Kia menggandeng ibunda mereka ke atas panggung. Sontak, puluhan siswa lainnya mengikuti, menghampiri orang tua masing-masing, bersimpuh, memeluk, dan mencium tangan mereka.

Tangis pun pecah di mana-mana. Para orang tua dan guru larut dalam momen sakral yang menjadi simbol pengakuan tulus dan rasa terima kasih mendalam dari para siswa.

“Terharu, bersyukur sudah bisa melewati masa sekolah di SD Al Islam Cerme,” ucap Hanifah, salah satu lulusan, dengan mata berkaca-kaca.

Sang ibu, Qoulan, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada sekolah yang telah mendampingi tumbuh kembang anaknya selama enam tahun.

“Saya sangat menghargai pembiasaan agama dan etika yang diajarkan di sini. Mulai dari salat duha, menghafal Al-Qur’an, hingga mengaji dengan metode Tilawati. Hasilnya belum sempurna, tapi pembiasaan itu sangat berarti,” ujar Qoulan.

Baca Juga:  Menjelang TKA, Siswa SD Al-Islam Perkuat Mental dan Spiritual lewat Doa Bersama

Ia juga memuji keberadaan kegiatan ekstrakurikuler yang menurutnya membentuk karakter anak menjadi lebih percaya diri dan mandiri. “Yang paling terasa, anak jadi lebih hormat kepada orang tua. Itu yang sangat kami syukuri,” imbuhnya.

Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan. Ia adalah selebrasi cinta, refleksi nilai-nilai pendidikan, dan ikrar sunyi dari para siswa untuk melanjutkan langkah mereka ke jenjang berikutnya—dengan doa dan restu dari orang tua yang telah mereka peluk erat hari itu. (#)

Jurnalis Mardiyana Z. Penyunting Mohammad Nurfatoni