Feature

Salat Idulfitri di Morowudi Tekankan Pentingnya Menjaga Kesucian dan Ukhuah

71
×

Salat Idulfitri di Morowudi Tekankan Pentingnya Menjaga Kesucian dan Ukhuah

Sebarkan artikel ini
Ustaz Ahmad Zimam, Lc. menyampaikan khutbah dalam pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 di Lapangan Perguruan Muhammadiyah Morowudi, Cerme, Gresik, Jumat (20/3/2026). (Tagar.co/Mardiyana Zulifah)

Ratusan jemaah memadati Lapangan Perguruan Muhammadiyah Cerme sejak pagi, mengikuti Salat Idulfitri 1447 yang sarat pesan tentang pentingnya saling memaafkan dan merawat hubungan sesama.

Tagar.co — Ratusan jemaah memadati lapangan Perguruan Muhammadiyah Morowudi, Cerme, Gresik, pada Jumat (20/3/2026) sejak pagi hari untuk menunaikan Salat Idul Fitri 1447 H yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah Morowudi.

Kegiatan yang dimulai pukul 06.00 WIB tersebut berlangsung khidmat, dengan khutbah yang menekankan pentingnya merawat kesucian diri dan menjaga hubungan antarsesama.

Baca juga: Tiga Pesan Khotbah Idulfitri dari Sumedang  

Salat Idulfitri dipimpin oleh Imam Ustaz Khatibul Umam, sementara khotbah disampaikan oleh Ustaz Ahmad Zimam, Lc., yang hadir dari Gresik. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, jamaah mengikuti rangkaian ibadah hingga selesai dengan tertib.

Dalam khotbahnya, Ustaz Ahmad Zimam, Lc. mengangkat tema Merawat Kesucian dan Menjaga Hubungan Sesama” sebagai refleksi pasca-Ramadan. Ia mengawali dengan mengajak jamaah untuk menyikapi perbedaan, khususnya dalam penentuan hari raya, secara bijak.

Baca Juga:  Menyiapkan Puasa dengan Ilmu: Kajian Fikih Ramadan Wali Murid SD Al-Islam Cerme

Mengutip pandangan ulama, termasuk Gus Baha, ia menegaskan bahwa perbedaan yang masih dalam batas kewajaran tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan harus disikapi dengan sikap saling menghormati dan menjaga kerukunan.

Lebih lanjut, ia menekankan makna kembali ke fitrah. Setiap muslim yang menjalankan puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, menurutnya, akan memperoleh ampunan Allah sehingga kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

Jamaah salat Idhul Fitri di perguruan Muhammadiyah Morowudi. (Tagar.co/Mardiyana Zulifah)

Namun, kesucian tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah (habluminallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (habluminanas). Ia mengingatkan bahwa persoalan antarmanusia harus diselesaikan di dunia melalui saling memaafkan. Jika tidak, hal tersebut dapat berdampak pada berkurangnya pahala di akhirat.

“Jangan sampai ketika kita meninggal kelak, kita masih menyisakan masalah yang belum tuntas dengan sesama manusia,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, khatib juga mengingatkan tiga amalan utama yang dicintai Allah dan perlu dijaga setelah Ramadan, yakni salat tepat waktu, berbakti kepada kedua orang tua (birulwalidain), serta berjihad di jalan Allah dalam makna yang luas.

Baca Juga:  Menjemput Impian ke Baitullah, 128 Siswa SD Al-Islam Manasik Haji di Masjid Ahmad Dahlan

Gema takbir yang berkumandang sejak malam Idulfitri, lanjutnya, merupakan bentuk hidayah yang patut disyukuri. Dengan menyambutnya secara tulus dan penuh kebahagiaan, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur sebagaimana terkandung dalam pesan Al-Qur’an.

Di bagian akhir khutbah, jamaah—terutama yang telah berusia di atas 40 tahun—diimbau untuk memperbanyak doa dan menjaga kerendahan hati. Sikap sombong harus dijauhi, serta pintu maaf harus selalu dibuka sebelum datangnya ajal.

Pelaksanaan salat Idulfitri tahun ini tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memperbaiki diri dan mempererat ukhu\ah Islamiah. (#)

Penulis Mardiyana Zulifah Penyunting Muhammad Nurfatoni