Cerpen

Senyum Syifa

77
×

Senyum Syifa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Syifa selalu tersenyum. Ia jarang menangis, jarang mengeluh. Namun perlahan, gurunya menemukan bahwa senyum itu menyimpan cerita yang tidak pernah ia ucapkan.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah, guru TK IT Handayani, Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co — Setiap pagi, Syifa selalu datang ke sekolah dengan penuh semangat. Bajunya rapi, sepatunya bersih, dan senyumnya tidak pernah lupa ia tampakkan. Senyum itu lebar, manis, dan tampak seperti matahari kecil yang siap menyinari siapa pun yang melihatnya.

“Assalamualaikum, Ustazah!” katanya ceria, seolah tidak pernah ada hari buruk dalam hidupnya.

Di antara tujuh belas anak di kelasku, Syifa adalah yang paling jarang menangis. Saat teman-temannya berebut mainan, Syifa mengalah. Saat temannya jatuh, Syifa yang pertama menolong. Jika ada yang marah, Syifa hanya tertawa kecil.

“Tidak apa-apa,” katanya selalu.

“Aku senang kok,” begitu kata yang paling sering ia ucapkan.

Meski begitu, saya merasa ada yang berbeda dari senyumnya. Senyum itu terlalu rapi, terlalu siap. Seolah bukan sekadar ekspresi bahagia, melainkan tugas yang harus dilakukan.

Baca cerpen lainnya: Senyum di Balik Nomor Antrean

Baca Juga:  Ramadan Ceria di KB-TK IT Handayani: Latihan Salat Idulfitri hingga Aksi Berbagi

Suatu hari, saat saya meminta anak-anak menggambar rumah mereka, anak-anak lain menggambar rumah lengkap dengan ayah, ibu, pohon, atau kucing kesayangan. Namun Syifa menggambar rumah yang sangat kecil, tanpa pintu, tanpa jendela. Di atasnya ada gambar matahari yang tersenyum lebar.

“Ini rumah siapa, Syifa?” saya bertanya.

“Rumah saya, Ustazah,” jawabnya cepat.
“Ini rumah bahagia,” lanjutnya.

Saya mengangguk, mencoba memahami makna dari coretan tangan Syifa.

Saat bermain di lapangan, anak-anak berlarian ke sana kemari. Namun Syifa hanya duduk di bangku kecil, mengamati teman-temannya.

Ketika seorang temannya tak sengaja menyenggolnya hingga terjatuh, ia terdiam sejenak, lalu membersihkan bajunya yang kotor terkena tanah liat. Senyumnya tetap ada, tetapi matanya berkaca-kaca.

“Tidak apa-apa,” katanya lagi, meski suaranya nyaris tak terdengar.

Saya menghampiri Syifa dan berkata, “Kamu boleh menangis, Syifa.”

Mendengar suara saya, Syifa menunduk. Tangannya mengepal di atas rok kecilnya.

“Saya harus senyum, Ustazah,” bisiknya.
“Kenapa?”
“Karena saya harus jadi anak yang baik. Anak yang baik harus selalu tersenyum. Kalau saya tidak bisa jadi anak yang baik, nenek akan sedih dan mendiamkan saya lama sekali. Saya takut nenek sedih.”

Baca Juga:  Menjaga Napas Ayah dengan Doa

Kata-kata itu jatuh pelan, tetapi berat.

Saya hanya bisa menarik napas, menahan air mata, dan mengusap kepala Syifa dengan lembut. Rupanya, anak sekecil ini harus berusaha menjadi anak yang sempurna di hadapan keluarga yang mengasuhnya. Sejak perceraian kedua orang tuanya, Syifa terpaksa tinggal bersama neneknya, jauh dari mama dan papanya.

“Kamu anak yang baik, Syifa. Kamu boleh menangis.”

Syifa tidak langsung menjawab. Untuk kali pertama, senyumnya menghilang. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. Saat saya memeluk tubuh mungilnya, tangis yang selama ini ia simpan pun pecah. Tangisan itu tidak keras—hanya isak pendek, seperti hujan gerimis yang lama tertahan di awan.

Sejak hari itu, jika Syifa tiba-tiba terdiam, saya segera mendekat dan duduk di sampingnya. Jika ia tersenyum, saya bertanya, “Itu senyum sungguhan atau senyum pura-pura?”

Kadang Syifa menjawab jujur, kadang hanya mengangkat bahu.

Suatu hari saya bertemu nenek Syifa tanpa sengaja.

“Syifa anak yang baik, kan, Ustazah? Itu hasil didikan saya,” kata sang nenek dengan bangga.

Baca Juga:  Dongeng Jadi Senjata Pendidikan, Guru TK Menganti Asah Kompetensi Berkisah

Saya tersenyum mendengarnya.
“Anak yang baik juga perlu didengarkan, Nek.”

Nenek Syifa terdiam, entah bingung atau terkejut dengan ucapan saya.

##

Beberapa pekan kemudian, ada perubahan kecil di kelas. Syifa masih tersenyum, tetapi tidak selalu. Kadang ia cemberut saat mainannya diambil, kadang ia menangis jika merasa kecewa. Dan setiap kali itu terjadi, saya tahu bahwa Syifa sedang belajar jujur pada perasaannya sendiri.

Assalamualaikum, Ustazah,” sapa Syifa seperti biasa. Namun kali ini ia tidak langsung tersenyum.

Waalaikumsalam, Syifa. Bagaimana perasaanmu hari ini?”

Syifa berpikir sejenak, lalu menjawab, “Campur-campur, Ustazah. Tapi tidak apa-apa.”

Saya tersenyum mendengarnya. Itu bukan senyum yang sempurna, tetapi bagi saya, itulah senyum yang jujur.

Untuk kali pertama, Syifa tidak lagi berpura-pura bahagia. Ia belajar bahwa bahagia bukan berarti selalu tersenyum, melainkan berani merasakan apa pun yang ada di dalam hatinya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni