Feature

Sentuhan Kasih PMR Smapa untuk Lansia Panti Werdha Muhammadiyah Probolinggo

57
×

Sentuhan Kasih PMR Smapa untuk Lansia Panti Werdha Muhammadiyah Probolinggo

Sebarkan artikel ini
Penyerahan Sembako diwakili oleh Ita Yuniastuti Zuhria, S.Pd. kepada Ketua Panti Lansia Tresna Werdha Muhammadiyah Kota Probolinggo Sri Ratnaningsih, S.H. (Tagar.co/Uswatun Chasanah)

PMR Smapa Probolinggo kunjungi Panti Werdha, berbagi kasih dan keceriaan. Membawa sembako, menghibur lansia, dan mendengarkan kisah mereka. Aksi sosial yang menyentuh hati, menumbuhkan kepedulian.

Tagar.co – Puluhan anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMA Negeri 4 (Smapa) Probolinggo menyambangi Panti Lansia Tresna Werdha Muhammadiyah Kota Probolinggo, Jumat (24/1/2025). Kunjungan ini merupakan wujud kepedulian dan kasih sayang generasi muda kepada para lansia melalui kegiatan bakti sosial (baksos).

Sebanyak 27 siswa anggota PMR Smapa, didampingi tiga guru pembina, yaitu Ita Yuniastuti Zuhria, S.Pd., Anung Bayu Saptowo, S.Pd., dan Uswatun Chasanah, S.Pd., datang membawa sembako dan uang tunai hasil penggalangan dana dari siswa-siswi Smapa. Tak hanya itu, mereka juga membawakan bingkisan berupa kue dan minuman untuk para lansia.

Kegiatan diawali dengan foto bersama dan penyerahan sembako secara simbolis oleh Ita Yuniastuti kepada Ketua Panti Lansia, Sri Ratnaningsih, S.H., disaksikan oleh pengurus panti, Enggar Cucu Prowindasari, Turiyah, dan Titis Endah R. Suasana hangat pun tercipta saat ramah tamah di ruang kantor panti.

Baca Juga:  Kontribusi Muhammadiyah Jatim Besar, Dukungan Pemerintah Harus Lebih Proporsional

Baca juga: Ratusan Tunas HW Ramaikan Launching Ceria Pandu Athfal di Probolinggo

Dalam sambutannya, Ita Yuniastuti menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk kepedulian dan pembelajaran bagi siswa-siswi PMR Smapa. “Kami ingin anak-anak belajar berempati dan peduli kepada para lansia. Harapannya, kelak jika mereka memiliki orang tua yang sudah lanjut usia, mereka akan merawatnya dengan penuh kasih sayang, bukan menitipkannya di panti,” ungkap Ita, menyentuh hati para hadirin.

Reny Indriani Hardianti, Ketua PMR Smapa, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan program kerja rutin PMR Smapa sekaligus wujud keinginan para anggota untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama, khususnya para lansia.

Foto bersama di Panti Lansia Tresna Werdha Muhammadiyah Kota Probolinggo (Tagar.co/Uswatun Chasanah)

Sementara itu, Sri Ratnaningsih, yang akrab disapa Ratna, menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan dan kepedulian PMR Smapa. Ia kemudian berbagi kisah tentang sejarah Panti Lansia Tresna Werdha Muhammadiyah yang berdiri sejak tahun 1949, menjadikannya panti lansia pertama di Indonesia.

“Didirikan pascakemerdekaan, panti ini menjadi tempat bernaung bagi para lansia yang kehilangan keluarga atau terlantar akibat penjajahan,” jelas Ratna.

Baca Juga:  Tujuh Sikap Muhammadiyah untuk Krisis Timur Tengah

Ratna juga menceritakan realita kehidupan para lansia di panti, yang jauh dari keluarga dan anak-anak mereka. “Mereka merindukan kasih sayang keluarga. Kedatangan anak-anak PMR Smapa bagaikan oase, penawar rindu mereka akan kehadiran cucu,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Berbagai kisah haru dan lucu pun mengalir, mewarnai perbincangan siang itu. Tentang lansia berusia 80 hingga lebih dari 100 tahun, dengan kondisi yang beragam. Ada yang masih sehat, ada yang sudah pikun, bahkan ada yang harus digendong untuk beraktivitas. Turiyah, salah satu pengasuh panti, dengan sabar merawat dan menjaga mereka, termasuk menggendong para lansia yang sudah tidak mampu berjalan.

Puncak acara adalah kunjungan langsung ke kamar para lansia. Sembilan nenek yang berasal dari Probolinggo, Jember, Surabaya, dan Tebo, Jawa Tengah, telah menanti dengan senyum merekah. Anak-anak PMR Smapa dengan sigap membagikan kue dan minuman, tak sungkan menyalami dan mencium tangan para lansia, menghadirkan kehangatan dan keceriaan di tengah kesunyian panti.

Kunjungan PMR SMAPA ke Panti Lansia Tresna Werdha Muhammadiyah Probolinggo ini meninggalkan kesan mendalam, baik bagi para lansia maupun para siswa. Sebuah bukti nyata bahwa kepedulian dan kasih sayang dapat melintasi batas usia, memberikan kebahagiaan dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Baca Juga:  Jadi Posko Jemaah 1 Abad NU, SD Muhammadiyah 1 Kota Malang Menuai Apresiasi

Jurnalis Uswatun Chasanah Penyunting Mohammad Nurfatoni