
Peternakan unta, Masjid Ibnu Abbas, aroma parfum Arab, hingga Jabal Al-Hada menyatu dalam satu hari penuh pengalaman spiritual peserta K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya.
Catatan seri ke-9 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya
Udara sejuk menyergap begitu rombongan turun dari bus di dataran tinggi Taif. Jaket mendadak dicari, napas menguap tipis, dan mata disuguhi hamparan alam yang jauh berbeda dari panas Makkah. Di kota pegunungan inilah, perjalanan spiritual para peserta Safari Spiritual Leader Inspiration Journey menemukan wajah lain: dingin, sunyi, dan sarat perenungan.
Sejak pagi, peserta K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya meninggalkan Makkah dengan satu tujuan—menyusuri Taif, kota yang menyimpan jejak ilmu, keteladanan, dan sejarah dakwah Rasulullah Saw. Perjalanan kali ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menyusuri makna.
Ransel di punggung, senyum di wajah, dan doa di hati. Sebuah bus besar berwarna biru donker membawa rombongan menembus satu hari penuh petualangan spiritual. Berbeda dengan city tour pada hari-hari sebelumnya yang hanya menyita separuh waktu, agenda kali ini benar-benar full day. Empat destinasi disiapkan: peternakan unta, Masjid Ibnu Abbas, pabrik parfum, dan Jabal Al Hada di Taif.

Punuk Unta dan Susu Kehidupan
Tujuan pertama adalah peternakan unta di wilayah Taif. Begitu turun dari bus, lanskap alam menyambut dengan hamparan tanah luas, langit biru cerah, serta bukit unik menyerupai punuk unta. Bukit ini bukan sekadar pemandangan alam, melainkan bagian dari pengembangan ekonomi lokal—ikon wisata yang menghidupkan denyut masyarakat sekitar.
Antusiasme peserta terlihat jelas. Ada yang sibuk berfoto, ada pula yang mendekat ke kandang. Di sinilah pengalaman langka itu terjadi: mencicipi susu unta langsung di lokasi. Rasanya sedikit asin, khas, dan diyakini kaya manfaat. Sebuah pelajaran sunyi terhampar—bahwa di tanah yang tampak gersang pun, Allah menumbuhkan sumber kehidupan.
Jejak Ilmu di Masjid Ibnu Abbas
Perjalanan berlanjut menuju Masjid Ibnu Abbas, masjid yang dibangun untuk mengenang Abdullah bin Abbas, sepupu Rasulullah Saw., ulama besar dan ahli tafsir Al-Qur’an. Doa Rasulullah untuknya masyhur: “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama.”
Di kompleks masjid terdapat makam Ibnu Abbas, menjadikannya tempat ziarah yang sarat makna. Masjid ini bukan sekadar ruang ibadah, melainkan monumen ilmu, dakwah, dan keteladanan. Di hadapan sejarah keilmuan itu, peserta diajak merenung: kepemimpinan sejati lahir dari kedalaman ilmu dan ketulusan amal.

Wangi yang Menenangkan Jiwa
Pukul 13.00, rombongan bergerak menuju pabrik pembuatan minyak wangi. Begitu melangkah masuk, aroma harum langsung menyeruak, menyelimuti indera. Lelah perjalanan seolah menguap, digantikan rasa tenang yang merambat pelan.
Peserta disuguhi proses pembuatan parfum—dari bahan-bahan alami hingga menjadi minyak wangi khas Arab. Alat-alat produksi tampak sederhana, tetapi menuntut ketelitian. Tak sedikit yang berburu oleh-oleh, memilih aroma favorit sebagai kenangan wangi dari Tanah Suci.
Dingin Taif dan Jejak Dakwah Rasulullah
Menjelang Asar, bus menanjak menuju Jabal Al-Hada. Begitu pintu bus terbuka, udara dingin langsung menyergap. Suhu berkisar 15–18 derajat Celsius. Peserta yang semula santai tanpa jaket mendadak berbalik mengambil pelindung dingin. Taif memang berbeda—sejuk, menusuk, sekaligus menenangkan.
Di kota inilah Rasulullah Saw. pernah berdakwah, mencari dukungan dan perlindungan, namun justru menghadapi penolakan dan lemparan batu. Mengingat kisah itu, dingin Taif terasa seperti pengingat: jalan dakwah tidak selalu hangat, tetapi selalu menguatkan jiwa.
Usai salat jama’ qashar, sebagian peserta merasakan sensasi naik kereta gantung (tarif 65 riyal). Kereta melaju sekitar empat kilometer, menggantung di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Dari atas, pegunungan berlapis, jalan berliku, dan awan seolah dapat disentuh. Degup jantung, rasa takjub, dan tasbih berpadu.
Sementara itu, peserta yang tidak naik menikmati suasana dengan cara berbeda: duduk santai memandangi alam, menyeruput kopi Arab, menghangatkan badan dan obrolan dalam balutan hawa dingin khas Taif.

Kembali dengan Hati Penuh
Menjelang Magrib, rombongan kembali ke hotel. Perjalanan sekitar dua jam terasa singkat—barangkali karena hati telah penuh oleh ilmu, pengalaman, dan rasa syukur. Taif meninggalkan dingin di kulit dan kehangatan di batin.
Hari itu ditutup dengan kelelahan yang nikmat dan cerita yang kelak lama tinggal di ingatan—tentang alam, sejarah, dan pelajaran kepemimpinan yang dipetik di dataran tinggi Taif.
Jurnalis: M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












