Opini

Satu Masjid Satu Dai: Solusi Kekurangan Pembina Umat

748
×

Satu Masjid Satu Dai: Solusi Kekurangan Pembina Umat

Sebarkan artikel ini
K.H. Fathur Rohman saat Pelepasan Dai Dewan Dakwah Jawa Timur di Masjid Al-Falah, Raya Darmo Surabaya, Sabtu malam 23 Juli 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Krisis dai di pelosok Jawa Timur membuat banyak masjid sunyi dari bimbingan rohani. Program Satu Masjid Satu Dai menawarkan solusi konkret: setiap masjid membiayai kader dakwah demi menghidupkan kembali denyut dakwah umat.

Oleh Dr. K.H. Fathur Rohman; Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Timur dan Mudir PPIC eLKISI Mojosari Mojokerto.

Tagar.co – Salah satu problem keumatan yang mendesak untuk segera mendapat jawaban adalah masalah kekurangan dai. Dakwah yang seharusnya menjadi denyut nadi kehidupan umat justru sering melemah karena tidak adanya pendamping rohani di masjid maupun musala.

Baca juga: Mabit Dai VI: Dakwah Tak Kenal Pensiun, Jangan Takut Dicela

Sejak tiga tahun lalu, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur—selanjutnya disebut Dewan Dakwah—mencanangkan program mencetak 600 dai.

Harapan kami, di setiap kecamatan, bahkan di setiap desa, ada dai yang siap membina umat. Program ini kami tegaskan kembali saat pelepasan dai Dewan Dakwah Jawa Timur di Masjid Al-Falah Surabaya, Sabtu (23/8/2025).

Masjid sepi Tanpa Pembina

Kondisi di pelosok Jawa Timur cukup memprihatinkan. Tidak sedikit masjid yang sepi dari kegiatan dakwah karena ketiadaan ustaz atau pembina tetap.

Baca Juga:  Berjalan di Atas Luka, Menuju Cahaya Ilmu

Masjid yang seharusnya menjadi pusat peradaban Islam malah menjadi bangunan sunyi tanpa denyut keilmuan.

Di sinilah urgensi program Satu Masjid Satu Dai. Jika setiap masjid mengambil bagian dengan mendampingi satu dai saja, problem kelangkaan dai dapat segera teratasi.

Jemaah Pelepasan Dai Dewan Dakwah Jawa Timur di Masjid Al-Falah, Raya Darmo Surabaya, Sabtu malam 23 Juli 2025 (Tagar.co/Istimewa)

Tantangan Kaderisasi Dai

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur sebagai kepanjangan tangan Dewan Dakwah Jatim memang sudah berupaya mencetak kader, namun jumlahnya masih jauh dari harapan.

Sejak 2022 hingga 2025, baru 90 dai yang berhasil diluluskan dan ditempatkan di daerah-daerah pedalaman. Pada tahun akademik 2026, pendaftar baru tercatat 23 orang, padahal targetnya 40 orang—20 ikhwan dan 20 akhwat.

Ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi dai membutuhkan dukungan lebih luas. Tidak mungkin hanya mengandalkan ADI semata.

Pesantren-pesantren yang menjadi bagian dari keluarga besar Dewan Dakwah diharapkan ikut mem-backup program kaderisasi ini agar lebih massif dan terarah.

K.H. Fathur Rohman (kedua dari kiri) bersama pengurus Dewan Dakwah Jatim dan Takmi Masjid Al-Falah Raya Darmo Surabaya, Sabtu malam 23 Juli 2025 (Tagar.co/Istimewa

Skema Kolaborasi Masjid

Melalui program Satu Masjid Satu Dai, Dewan Dakwah menawarkan model konkret: setiap masjid membiayai satu orang kader untuk menempuh pendidikan setahun di ADI, sekaligus memberikan mukafaah bagi dai yang bertugas.

Baca Juga:  Tragedi Charlie Kirk dan Luka Polarisasi yang Membayangi Muslim Amerika dan Dunia

ADI berperan dalam menyiapkan pendidikan dan kaderisasi, sementara Dewan Dakwah mengatur distribusi penugasan. Dengan cara ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lembaga pemberdayaan yang melahirkan dai-dai berintegritas.

Penutup

Sudah saatnya masjid kembali pada fungsi aslinya: pusat dakwah, pendidikan, dan peradaban. Masalah kekurangan dai bukanlah beban satu pihak, melainkan tanggung jawab kolektif umat.

Jika setiap masjid di Jawa Timur berkomitmen mengambil peran, maka cita-cita menghadirkan dai di setiap pelosok negeri bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni