
Hanya sahabat karena Allah yang abadi hingga ke surga, lainnya bisa berubah menjadi permusuhan di akhirat.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Kebersamaan adalah anugerah besar dari Allah. Namun, kebersamaan juga bisa menjadi ujian. Ada teman yang bisa membuat kita tertawa, tetapi enggan menuntun kita menuju sajadah.
Ada sahabat yang ringan menemani dalam cerita, namun berat ketika diajak mengingat Sang Pencipta. Pertanyaannya: apakah pertemanan kita semakin mendekatkan kepada Allah, atau justru menjauhkan?
Baca juga: Doa Mustajab dalam Bepergian
Islam mengajarkan bahwa teman memiliki pengaruh besar dalam perjalanan iman. Rasulullah ﷺ menegaskan betapa pentingnya memilih sahabat. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا
“Manusia itu laksana tambang, seperti tambang emas dan perak. Orang-orang terbaik di masa jahiliah, mereka juga akan menjadi yang terbaik dalam Islam apabila memahami agama.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa karakter seseorang sangat menentukan kualitas kebersamaannya. Jika bersama orang baik, kita akan ikut terbawa dalam kebaikan. Sebaliknya, jika bersama orang lalai, kita pun bisa tergelincir dalam kelalaian.
Al-Qur’an memberikan peringatan keras tentang pentingnya teman. Allah berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا . يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
“Dan (ingatlah) pada hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: ‘Wahai, seandainya dulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah aku! Seandainya aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab.’” (Al-Furqan: 27–28)
Ayat ini mengingatkan bahwa salah memilih teman bisa membuat seseorang menyesal di akhirat. Bahkan penyesalan itu begitu dahsyat hingga diungkapkan dengan gambaran “menggigit kedua tangan”.
Rasulullah ﷺ pun memberi perumpamaan yang sangat jelas tentang pengaruh teman:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa memberimu minyak wangi, atau kamu membelinya, atau kamu mencium bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya membakar pakaianmu, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa teman baik memberi pengaruh positif meski tanpa disengaja, sedangkan teman buruk bisa merusak kita meski tanpa disadari.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai fenomena: ada teman yang begitu hangat ketika berbagi cerita, tetapi sulit ketika diajak sujud. Ada yang ringan tertawa bersama, namun berat saat diajak mengingat Allah. Itulah tanda bahwa kebersamaan bukan sekadar untuk kesenangan, melainkan ujian arah hidup.
Para ulama menekankan pentingnya doa dalam memilih teman. Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa sahabat sejati adalah yang menolongmu untuk mengingat Allah, bukan yang menjauhkanmu dari-Nya. Karena itu, kita dianjurkan untuk memohon agar Allah memberi sahabat-sahabat yang saleh.
Allah sendiri mengajarkan doa ini:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)
Doa ini menunjukkan harapan seorang mukmin untuk menjadi bagian dari lingkaran orang-orang bertakwa, baik sebagai pemimpin maupun sahabat dalam ketaatan.
Kebersamaan yang baik adalah yang mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah. Sahabat sejati adalah yang menegur ketika kita lalai, yang menggandeng tangan kita menuju kebaikan, yang mengingatkan kita akan kematian, dan yang membuat kita lebih rajin beribadah.
Kita perlu berhati-hati dengan pertemanan yang hanya dipenuhi kelalaian. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
“Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang beriman, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmizi)
Hadis ini bukan berarti kita harus memutus hubungan dengan orang non-Muslim atau orang fasik, tetapi menunjukkan bahwa sahabat terdekat, yang paling sering berinteraksi, sebaiknya orang beriman dan bertakwa agar kita tidak terbawa pada keburukan.
Maka mari kita merenung: dengan siapa kita paling banyak menghabiskan waktu? Apakah bersama mereka kita semakin rajin salat, semakin semangat menuntut ilmu, semakin dekat dengan Al-Qur’an? Atau justru semakin lalai, semakin malas beribadah, dan semakin jauh dari Allah?
Kebersamaan sejatinya adalah jalan menuju surga atau neraka. Sebagaimana firman Allah:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)
Ayat ini menegaskan bahwa pertemanan yang tidak dilandasi takwa akan berubah menjadi permusuhan di akhirat. Hanya persahabatan karena Allah yang abadi hingga ke surga.
Oleh karena itu, marilah kita berdoa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صُحْبَةَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami sahabat-sahabat yang saleh, dan tempatkanlah kami bersama mereka di surga penuh kenikmatan.”
Semoga Allah menjaga langkah kita agar tidak salah dalam memilih teman, memperkuat ikatan dengan orang-orang saleh, dan menjauhkan kita dari sahabat yang menjerumuskan. Karena sejatinya, sahabat yang baik adalah yang menuntun kita menuju surga. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












