Opini

Reorientasi Pendidikan: Dari Kompetensi Teknis Menuju Ululalbab

84
×

Reorientasi Pendidikan: Dari Kompetensi Teknis Menuju Ululalbab

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Pendidikan qur’ani menuntut perubahan orientasi: dari kecakapan teknis menuju pembentukan Ululalbab, manusia berakal hidup, berhati terjaga, berilmu bermakna, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan serta peradaban.

Oleh Cak MuhidPenulis buku Geprek Series (4 judul) dan Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)

Tagar.co – Pendidikan tidak cukup menghasilkan kecakapan. Al-Qur’an mengajarkan bagaimana ilmu harus menghidupkan akal, menjaga hati, dan melahirkan tanggung jawab peradaban.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, serta pada pergantian malam dan siang, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi Ululalbab; (yaitu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka berpikir secara mendalam tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.’” (Ali Imran: 190–191)

Ayat ini tidak sedang mengajarkan kekaguman spiritual belaka, tetapi sedang membangun kerangka epistemologi. Realitas—langit, bumi, dan pergiliran waktu—diperkenalkan sebagai ayat (tanda), bukan sekadar fenomena fisik. Artinya, sejak awal Al-Qur’an mengarahkan manusia untuk membaca, bukan hanya melihat.

Baca Juga:  Menyempurnakan Ramadan dengan Takbir

Baca juga: Rusaknya Moral Politik dan Ancaman bagi Masa Depan Indonesia

Di titik inilah ayat ini layak dijadikan objek kajian pendidikan, bukan sekadar ayat hafalan. Ia mendefinisikan cara mengetahui yang benar: realitas tidak berdiri netral dan otonom, tetapi menunjuk kepada makna di luar dirinya. Pendidikan Qur’ani dimulai dari perubahan sudut pandang ini.

Ululalbab dalam ayat ini adalah hasil dari proses pendidikan yang utuh. Mereka tidak hanya berpikir, tetapi mengetahui bagaimana seharusnya berpikir. Tafakkur mereka tidak berakhir pada data atau teori, tetapi bermuara pada kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan dan tanggung jawab.

Urutan ayat ini juga penting secara epistemologis. Zikir mendahului tafakur. Ini bukan pelemahan akal, melainkan penjagaan arah akal. Akal yang tidak diikat oleh kesadaran ketuhanan mudah berubah menjadi pusat kebenaran itu sendiri. Dari sinilah lahir kesombongan ilmiah dan krisis makna yang menjadi ciri peradaban modern.

Jika ayat ini dijadikan fondasi, maka orientasi pendidikan—baik di sekolah formal maupun pesantren—harus direvisi. Pendidikan tidak cukup dinilai dari kecakapan teknis, capaian akademik, atau kepatuhan administratif, tetapi dari sejauh mana ia membentuk cara pandang Ululalbab: cara membaca realitas, cara memaknai ilmu, dan cara menempatkan diri di hadapan kebenaran.

Baca Juga:  Puasa dan Al-Qur’an: Dua Pilar yang Disatukan Ramadan

Reorientasi ini menuntut langkah serius dari para pemangku kepentingan pendidikan. Pengambil kebijakan perlu meninjau ulang visi dan indikator keberhasilan. Guru dan ustaz perlu diposisikan sebagai pembimbing cara berpikir, bukan sekadar penyampai materi. Kurikulum perlu diarahkan agar ilmu tidak berhenti sebagai informasi, tetapi menjadi sarana pembentukan kesadaran.

Dengan menjadikan ayat ini sebagai objek kajian, pendidikan Qur’ani menemukan kembali ruhnya. Ia tidak hanya mencerdaskan, tetapi meluruskan. Tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi mengembalikan arah.

Dan di situlah tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an menjadi jelas: membentuk Ululalbab—manusia yang akalnya hidup, hatinya terjaga, dan ilmunya mengantarkan pada tanggung jawab di hadapan Allah dan kehidupan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni