
Beberapa dari kami sukses meraih posisi yang membanggakan, sementara yang lain hidup dengan rezeki yang pas-pasan, bahkan ada pula yang kekurangan. Telaga Sarangan kembali merekatkan kami.
Rekatkan Persahabatan di Tengah Legenda Telaga; Oleh Rujito, alumnus Fakultas Eekonomi Universitas Airlangga, tinggal di Yogyakarta.
Tagar,co – Bertemu kembali dengan teman-teman sekolah selalu menghadirkan keindahan tersendiri. Momen itu menjadi ajang bernostalgia, berbagi cerita masa lalu, dari yang membahagiakan hingga yang mungkin tak ingin dikenang.
Kali ini, kami merayakan 40 tahun kelulusan dari SMA Negeri 3 Madiun dengan sebuah reuni yang istimewa. Setelah panggung seni dan bincang-bincang kangen di Madiun, kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata di Kabupaten Magetan, sekitar 30 km dari Kota Madiun.
Pilihan kami jatuh pada Sarangan, sebuah kawasan alam yang memesona berupa telaga di dataran tinggi Gunung Lawu, tepat di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Telaga ini telah lama menjadi primadona wisata, memikat hati pengunjung dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan daerah lainnya.
Sekilas Pesona Sarangan
Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, di lereng Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Sarangan menawarkan keindahan alam yang menakjubkan. Telaga ini berjarak sekitar 16 kilometer arah barat Kota Magetan, membentang seluas 30 hektare dengan kedalaman 28 meter. Suhu udaranya yang sejuk, berkisar antara 15 hingga 20 derajat celsius, menambah kenyamanan berwisata.
Titik pusat kunjungan wisatawan adalah telaga indah yang dikelilingi jalan setapak sepanjang 2,5 km. Untuk menjelajahi keindahan telaga, pengunjung dapat menyewa perahu motor, perahu bebek, atau menunggang kuda dengan biaya Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Namun, bagi yang ingin merasakan sensasi berbeda dan lebih menyehatkan, berjalan kaki mengelilingi telaga bisa menjadi pilihan, seperti yang saya lakukan. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan satu putaran.
Baca juga: Whoosh: Menjajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Antara Fakta, Harapan, dan Polemik
Sarangan juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti puluhan hotel, vila, dan wisma, dari kelas menengah hingga sederhana. Kawasan ini ideal untuk berlibur bersama keluarga maupun komunitas.
Sejumlah pedagang tampak menjajakan dagangan di sekitar telaga, mulai dari minuman hangat, berbagai makanan, hingga sayuran segar hasil kebun warga sekitar. Sate kelinci, makanan khas Sarangan, menjadi primadona kuliner dengan rasa yang mirip sate ayam namun dengan potongan daging yang lebih kecil.
Sayangnya, banyaknya pedagang yang kurang tertata membuat beberapa titik tampak macet dan kumuh. Bahkan, beberapa warung semi darurat berdiri di jalan, menimbulkan keluhan dari wisatawan. Penataan pedagang ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi.

Tapak Tilas Kenangan
Telaga Sarangan menyimpan kenangan tersendiri bagi saya. Sejak masih duduk di bangku SMP, tempat ini menjadi langganan wisata keluarga. Saya masih ingat betul saat itu, menginap di hotel yang dikelola oleh yayasan milik TNI AU bersama ayah, ibu, kakak, dan adik. Rasa senang begitu membuncah, karena itu pengalaman pertama saya menginap di hotel yang berlokasi di kawasan wisata. Terlebih, saya bisa menginap dengan harga murah karena ayah adalah anggota TNI AU.
Untuk sarana ibadah, terdapat Masjid Baitul Makmur yang berkapasitas besar, sekitar 200 meter dari tepi telaga. Mushola dengan kapasitas 10-20 jamaah juga banyak tersedia, meski lokasinya sedikit tersembunyi di antara bangunan penginapan, toko, atau warung. Dalam perjalanan menuju atau meninggalkan telaga, kita akan melewati beberapa masjid dengan bangunan yang indah dan menarik.

Warna-warni Kehidupan dalam Bingkai Persahabatan
Kunjungan kali ini, 15-16 September 2024, saya habiskan bersama teman-teman SMA 3 Madiun yang tergabung dalam komunitas Dolaners 84, sebuah komunitas yang gemar menjelajahi wisata alam (tadabbur alam). Di Sarangan, kami larut dalam perbincangan tentang kehidupan yang telah kami lalui. Tak semuanya mulus, ada kalanya kami melewati masa-masa yang keras dan terjal. Namun, kami disadarkan bahwa tujuan akhir kami sama, yakni kembali kepada Allah.
Beberapa dari kami sukses meraih posisi yang membanggakan, sementara yang lain hidup dengan rezeki yang pas-pasan, bahkan ada pula yang kekurangan. Pertemuan ini menjadi ajang untuk saling mendukung. Teman yang sukses membutuhkan teman untuk berbagi beban pikiran, sementara yang kekurangan mendapatkan sedikit bantuan materi. Ada pula teman yang sukses secara diam-diam membantu banyak teman yang membutuhkan.
Gelak tawa kerap mengiringi perbincangan kami, mengenang peristiwa-peristiwa lucu semasa sekolah. Kami teringat dengan guru-guru yang serius memberikan pelajaran dan juga penjaja makanan di sekeliling sekolah. Ada pula cerita tentang teman yang tergoda dan mencoba miras saat sekolah, beruntung kebiasaan itu telah hilang. Namun, ada satu-dua yang kebablasan hingga merusak kesehatannya.
Suasana dingin dan menyegarkan di Sarangan mendukung obrolan-obrolan kami semakin hangat. Kisah-kisah ini tentunya menjadi bahan yang berharga untuk dibagikan kepada orang lain, sebagai bahan kajian, nasihat untuk anak-cucu, dan pembelajaran hidup.

Asyiknya Kebersamaan
Kami menginap di hotel yang sama dengan tempat saya menginap bersama keluarga saat SMP dulu. Sekitar 40 orang, kami menikmati udara dingin menyegarkan di kawasan Gunung Lawu. Malam harinya, kami berkumpul dan berbincang, khususnya tentang acara reuni 40 tahun yang baru saja kami selenggarakan di Madiun. Reuni itu dihadiri lebih dari 100 alumnus, sebuah rekor jumlah terbanyak yang pernah terjadi pada angkatan kami. Mungkin karena sebagian besar dari kami telah memasuki masa pensiun, sebuah alasan yang mengundang senyum.
Pagi harinya, saat azan Subuh berkumandang, saya dan tiga teman berjalan bersama menuju Masjid Baitul Makmur. Sementara beberapa teman lain berjamaah di mushola hotel. Sepulang dari masjid, kami sempat berbincang sejenak dengan jemaah lain dari daerah lain dan berfoto di pinggir telaga. Kegiatan pagi kami lanjutkan dengan senam ringan dan berfoto di halaman hotel.
Saat menikmati pagi di halaman hotel, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Kami berdiri di tanah datar seluas setengah lapangan bola. Di hadapan kami, tampak puncak Gunung Lawu yang diselimuti pepohonan hijau. Tanah lapang itu dibatasi oleh beberapa pohon cemara dan pohon lainnya, menciptakan latar belakang yang sempurna untuk berfoto, baik sendiri maupun bersama teman-teman.
Siang harinya, kami berkeliling Telaga Sarangan, menembus keramaian wisatawan dan pedagang. Berjalan-jalan untuk jogging, berburu oleh-oleh khas Sarangan, dan membeli sayuran segar. Kepadatan yang kami temui, mudah-mudahan menjadi bahan evaluasi bagi pengelola tempat wisata dan Pemkab Magetan untuk menata Telaga Sarangan agar lebih nyaman dan tertib. Sarangan masih dan akan selalu menjadi idola tempat wisata di kawasan perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Menjelang siang, kami kembali ke daerah asal masing-masing. Ada yang kembali ke Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Malang, dan Madiun. Meninggalkan Sarangan dengan membawa kenangan indah tentang persahabatan yang terjalin erat, di tengah keindahan telaga yang melegenda. (#)
Yogyakarta, 20 Januari 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












