
Naik Whoosh Kereta Cepat Jakarta-Bandung adalah sebuah pengalaman baru yang menghadirkan cerita tersendiri, diwarnai fakta menarik, harapan, dan juga sedikit polemik.
Oleh Mohamad Isa, Dokter di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin
Tagar.co – Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dan berlanjut ke Bandung kali ini terasa berbeda. Setelah mendarat di Stasiun Gambir, Jakarta, saya memutuskan untuk menjajal moda transportasi yang tengah hangat diperbincangkan: Kereta Cepat Whoosh. Sebuah pengalaman baru yang menghadirkan cerita tersendiri, diwarnai fakta menarik, harapan, dan juga sedikit polemik
Petualangan saya dimulai dari Stasiun Gambir. Dengan taksi bertarif Rp100.000, saya menuju Stasiun Kereta Cepat di Halim. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit.
Stasiun Halim menyambut dengan kemegahan dan modernitasnya. Bangunan baru, peralatan canggih, dan suasana yang bersih langsung terasa. Namun, ada satu catatan kecil, ketiadaan troli dan porter cukup merepotkan bagi penumpang dengan koper besar. Untungnya, tersedia lift dan eskalator yang membantu mobilitas.

Pembelian tiket bisa dilakukan secara online dengan pilihan waktu yang fleksibel. Pembelian langsung di loket stasiun juga tersedia. Untuk tarif, Halim-Padalarang-Tegalluar (dan sebaliknya) pada hari Senin-Kamis dibanderol Rp200.000, dan Rp250.000 untuk Jumat-Minggu.
Kelas Business tersedia dengan harga Rp400.000, dan First Class Rp600.000. Sedangkan rute Padalarang-Tegalluar (dan sebaliknya) bertarif Rp50.000. Pembelian tiket rombongan juga dimungkinkan.
Di Stasiun Halim, berbagai restoran siap memanjakan lidah penumpang dengan beragam pilihan makanan dan minuman.
Saya memilih turun di Stasiun Padalarang. Di sana, sebuah Hiace Premio Luxury yang telah disewa dengan tarif Rp2.500.000 per hari (kapasitas 10 penumpang) sudah menanti. Sebagai informasi, Hiace Commuter (kapasitas 15 penumpang) tersedia dengan tarif Rp1.750.000 per hari.
Perjalanan Halim-Padalarang hanya memakan waktu 30 menit, sementara Halim-Tegalluar 47 menit. Sebagian penumpang dari Padalarang bisa melanjutkan perjalanan ke Stasiun Bandung dengan KA Feeder gratis yang memakan waktu 20 menit.
Namun, lagi-lagi, ketiadaan troli dan porter menjadi kendala bagi penumpang dengan barang bawaan banyak. Bagi yang turun di Stasiun Tegalluar, tersedia feeder yang mengantar hingga Mall Summarecon.

Inilah fakta yang saya alami. Keberadaan kereta cepat dengan kecepatan 350 km/jam ini memang nyata mempersingkat waktu tempuh. Namun, di balik itu, polemik tak terhindarkan. Biaya pembangunan yang mencapai Rp108 triliun, beban pembayaran jangka panjang, dan kepemilikan institusi ini menjadi perdebatan hangat.
Masyarakat terbagi. Ada yang pragmatis, melihat ini sebagai fasilitas modern yang patut dinikmati. Urusan utang, biarlah menjadi tanggung jawab pemerintah dan DPR. Yang terpenting, jajaran eksekutif, yudikatif, dan legislatif benar-benar menjalankan amanat rakyat agar proyek ini tidak menjadi beban di kemudian hari.
Namun, lebih dari sekadar polemik, Whoosh menghadirkan pelajaran berharga. Fakta sudah di depan mata, kini saatnya kita mengambil hikmah. Kita perlu belajar tentang teknologi pembuatan kereta cepat ini, yang tentunya melalui proses panjang dan inovasi tiada henti.
Whoosh menggunakan teknologi Electric Multiple Unit (EMU) tipe KCIC 400 AF atau CR400 AF. Dirancang hemat energi dan ramah lingkungan, kereta ini juga dilengkapi fitur keselamatan yang kuat dan termutakhir. Terhubung dengan Operation Command Center (OCC), kereta ini terintegrasi dengan peralatan pemantau bahaya alam seperti hujan deras, angin kencang, gempa bumi, serta objek asing, dan tahan api.
Dari kabin, berbagai parameter dapat dimonitor, mulai dari pantograf, suhu ruangan, tegangan dan arus listrik, hingga status pintu di tiap kereta. Kemampuannya meminimalisir getaran dan kebisingan memberikan kenyamanan ekstra bagi penumpang. Sistem emergency brake pada CR400 AF juga menambah tingkat keamanan, melindungi kereta dari kesalahan sistem maupun human error.
Belajar dari Whoosh, kita melihat pentingnya komitmen pemimpin negara dalam mendorong penguasaan teknologi. Kita perlu mendorong rakyat untuk belajar dari negara lain, seperti Amerika belajar ke Eropa, Jepang belajar ke Amerika, Korea belajar ke Jepang, dan Tiongkok belajar ke Jepang.
Dengan metode “AMPUH”: amati, modifikasi, perbaiki/sempurnakan, ungguli, dan hargai usaha, kita bisa mengejar ketertinggalan.
Sebagai penutup, semoga suatu saat nanti, Indonesia mampu memproduksi kereta cepat sendiri dan bahkan menjualnya ke negara lain. Why not? (#)
Bandung, 15 Desember 2024
Penyunting Mohammad Nurfatoni












