Feature

Rangga & Cinta: Antara Puisi, Musikal, dan Chemistry Ikonik Tokoh Utama

83
×

Rangga & Cinta: Antara Puisi, Musikal, dan Chemistry Ikonik Tokoh Utama

Sebarkan artikel ini
Rangga dan Cinta
Instagram @filmranggacinta

Film ini menampilkan nuansa musikal berupa penggalan puisi dan lagu-lagu yang menjadi medium utama narasi, memperkuat emosi serta nostalgia bagi mereka yang tumbuh bersama kisah AADC. Apakah bisa dinikmati Gen Z?

Tagar.co –  Film Rangga & Cinta hadir tidak hanya membangkitkan nostalgia penonton terhadap kisah cinta masa remaja ala Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Film ini menawarkan perspektif baru tentang cinta dan perjalanan hidup dengan pemain baru.

Meski mengadopsi cerita Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) di tahun 2000-an, sosok Rangga dan Cinta membawa cerita film ini menjadi relate dengan Gen Z. Film ini digadang-gadang menjadi jembatan antara generasi lama generasi baru.

Film Rangga & Cinta merupakan adaptasi ulang dari film legendaris Indonesia, AADC yang dirilis 2002. Versi terbarunya ini, napas musikal menjadi elemen penyegar, membedakan ‘Rangga & Cinta’ dari film aslinya.

Ceritanya berpusat pada sosok Cinta (Leya Princy), seorang siswi SMA populer, aktif, dan penuh prestasi. Hidupnya terasa sempurna dengan dukungan keluarga dan dikelilingi sahabat setia (Alya, Karmen, Maura, dan Milly).

Baca Juga:  Berbekal Kancing Lepas, Praktik Menjahit di Program Mugres Life Asah Ketelitian

Namun, dunia Cinta terganggu saat dia kalah dalam lomba puisi dari Rangga (El Putra Sarira), seorang siswa pendiam dan penyuka sastra. Rangga jarang berinteraksi sosial dan lebih suka menyendiri di perpustakaan.

Awalnya Cinta merasa kesal terhadap Rangga, namun sekaligus merasa penasaran karena kepribadian mereka yang bertolak belakang. Cinta yang terbiasa dengan lingkar pergaulan ramainya, perlahan mulai tertarik pada dunia Rangga yang sunyi dan reflektif.Dari sinilah tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Namun, seiring waktu perasaan ini dihadapkan pada benturan besar nilai dan pilihan, seperti ketika Cinta harus menentukan setia pada sahabat atau Rangga.

Film ini juga menampilkan nuansa musikal berupa penggalan puisi dan lagu-lagu yang menjadi medium utama narasi, memperkuat emosi serta nostalgia bagi mereka yang tumbuh bersama kisah AADC.

Kedewasaan Karakter

Jika dibandingkan dengan AADC, film Rangga dan Cinta lebih menekankan pada kedewasaan karakter dan dinamika hubungan yang realistis. Sementara kisah cinta AADC lebih bergejolak, simbolik, dan puitis.

Perbedaan ini juga menimbulkan reaksi beragam. Sebagian penonton merasa kehilangan nuansa remaja yang ikonik dalam AADC, sementara yang lain justru mengapresiasi kedalaman emosional yang lebih matang dalam Rangga & Cinta.

Baca Juga:  Enam Guru Mugeb Lolos Wardah Inspiring Teacher Gen 8

Para kritikus menilai Rangga & Cinta berhasil menghidupkan kembali chemistry ikonik antara dua tokoh utamanya. Banyak yang memuji bagaimana narasi sederhana tentang pertemuan kembali setelah sekian lama mampu dibalut dengan dialog yang intim dan sinematografi yang hangat.

Namun, beberapa kelemahan turut disorot, seperti ritme cerita yang dianggap terlalu lambat di beberapa bagian. Ada pula kritik bahwa konflik yang dihadirkan terasa kurang menantang, sehingga ketegangan dramatis tidak sepenuhnya terbangun. (#)

Jurnalis Ichwan Arif.