Feature

Rabu Malam Penuh Cahaya di MI Mutwo: Tilawah Al-Qur’an Jadi Ekstrakurikuler Baru

37
×

Rabu Malam Penuh Cahaya di MI Mutwo: Tilawah Al-Qur’an Jadi Ekstrakurikuler Baru

Sebarkan artikel ini
Siswa MI Mutwo belajar bimbingan Tilawah Al-Quran bersama Ustaz Two Arofatur Rozaidi di ruang rapat, Rabu malam 3 September 2025 (Tagar.co/Ali Fathoni)

MI Mutwo meneguhkan perannya bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga melembutkan hati. Tilawah Al-Qur’an jadi jalan cahaya bagi generasi penerus.

Tagar.co – MI Muhammadiyah 2 (MI Mutwo) Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur, kembali melangkah maju dalam ikhtiarnya membentuk generasi qur’ani. Pada Rabu malam (3/9/2025), madrasah yang terus berbenah ini resmi meluncurkan ekstrakurikuler baru: Tilawah Al-Qur’an.

Kegiatan ini diasuh oleh Two Arofatur Rozaidi, pembina muda yang dikenal dekat dengan anak-anak. Dengan suara merdu dan metode yang menyenangkan, ia membimbing siswa memahami seni membaca Al-Qur’an sekaligus melantunkan ayat-ayat suci dengan indah sesuai kaidah tajwid.

Baca juga: Lapangan Indoor di Atap Madrasah, Inspirasi dari MI Mutwo

“Anak-anak kita bukan hanya belajar memperbaiki bacaan, tetapi juga dilatih melagukan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh penghayatan. Tilawah ini bukan sekadar seni, melainkan cara agar mereka semakin cinta kepada Al-Qur’an,” ujar Ustaz Arofat, sapaannya, sambil tersenyum hangat.

Belajar di Malam yang Teduh

Berbeda dari kegiatan lain yang umumnya digelar siang hari, program ini dilaksanakan setiap Rabu malam selepas salat Magrib. Suasana malam yang damai menambah kekhusyukan anak-anak dalam belajar. Di bawah temaram lampu, lantunan ayat suci menggema indah, menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya.

Baca Juga:  Presean dan Pendidikan Karakter: Pelajaran Hidup dari Sasak Sade

Ada siswa yang masih terbata-bata, ada pula yang mulai lancar. Namun semuanya menunjukkan tekad untuk belajar. Sesekali, suara lembut Ustaz Arofat terdengar membenarkan bacaan. “Coba ulangi, Nak. Panjangkan sedikit mad-nya, biar lebih indah,” ucapnya penuh kesabaran.

Sheeren Al-Mahyra, siswi kelas 4, dengan polos berkata, “Saya ingin bisa baca Al-Qur’an dengan suara yang bagus, biar ibu saya bangga. Katanya, kalau kita bisa tilawah, pahalanya sampai ke orang tua.” Ucapan sederhana itu membuat suasana seketika hening, menyentuh hati semua yang hadir.

Siswa MI Mutwo belajar bimbingan Tilawah Al-Quran bersama Ustaz Two Arofatur Rozaidi di ruang rapat, Rabu malam 3 September 2025 (Tagar.co/Ali Fathoni)

Dukungan Madrasah dan Orang Tua

Kepala MI Mutwo, Nurkhan, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari visi qur’ani madrasah. “Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ruh spiritual yang kuat. Tilawah adalah cara kami menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an, agar menjadi cahaya dalam hidup mereka,” jelasnya.

Orang tua pun menyambut penuh syukur. A’thy Mufazy, wali murid kelas 6, merasa bangga anaknya mendapat kesempatan belajar tilawah sejak dini. “Di rumah, anak saya sering mencoba melagukan bacaan. Meski kadang masih lucu, tapi kami merasa bahagia. Al-Qur’an menjadi bagian dari keseharian mereka—itulah yang kami harapkan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga:  Foskam SD/MI Gresik Serap Inspirasi Pendidikan di SDIT Abata Lombok

Di akhir sesi, Ustaz Arofat berpesan, “Jadikanlah Al-Qur’an sebagai temanmu sejak kecil. Karena jika kita bersama Al-Qur’an di dunia, insyaAllah kelak ia akan menemani kita sampai ke surga.”

Jalan Cahaya untuk Generasi Qurani

Nurkhan mengatakan, lebih dari sekadar kegiatan tambahan, Tilawah di MI Mutwo menjadi sarana mendidik disiplin, melatih percaya diri, sekaligus menumbuhkan jiwa tenang yang dekat dengan kalamullah.

“Dengan hadirnya program ini, MI Mutwo semakin meneguhkan perannya sebagai madrasah yang mendidik bukan hanya otak, tetapi juga hati,” ujarnya.

Malam Rabu di MI Mutwo kini bukan lagi malam biasa. Ia menjelma menjadi malam penuh cahaya, saat suara polos anak-anak menembus langit, membawa doa dan harapan. Dari mushaf yang terbuka, lahirlah generasi penerus yang tumbuh dengan hati terpaut pada Al-Qur’an. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni