Feature

Presean dan Pendidikan Karakter: Pelajaran Hidup dari Sasak Sade

49
×

Presean dan Pendidikan Karakter: Pelajaran Hidup dari Sasak Sade

Sebarkan artikel ini
Dari kanan: Saiful Ulum, Syaiful Uddin, dan Fadloli Aziz di depan pintu masuk Dusun Sasak Sade, Rembitan, Lombok, NTB (Tagar.co/Nurkhan)

Kunjungan Anggota Foskam SD/MI Kabupateh Gresik ke Dusun Sasak Sade, Rembitan, Lombok, NTB menghadirkan pelajaran tentang keberanian yang beradab, tradisi yang hidup, dan pendidikan karakter berbasis budaya lokal.

Tagar.co – Hari ketiga perjalanan rombongan Forum Silaturahim Kepala Sekolah (Foskam) SD/MI Kabupaten Gresik di Lombok diisi dengan kunjungan ke Dusun Sasak Sade, Rembitan, Lombok, NTB Rabu (13/1/2026).

Perkampungan adat ini menjadi salah satu titik belajar penting, tempat tradisi Suku Sasak masih dijalani sebagai laku hidup, bukan sekadar warisan yang dipamerkan kepada tamu.

Baca juga: Bismillah di Udara: Pengalaman Pertama Seorang Guru Naik Pesawat

Begitu memasuki kawasan dusun, rombongan disambut lanskap rumah adat yang berundak mengikuti kontur tanah. Atap alang-alang membentang rendah, dinding anyaman bambu tersusun rapi, dan lorong-lorong tanah menghubungkan satu rumah ke rumah lain.

Kesederhanaan arsitektur itu bukan tanpa alasan. Anyaman bambu memungkinkan sirkulasi udara alami, menjaga rumah tetap sejuk tanpa teknologi modern—cerminan kecerdasan ekologis masyarakat Sasak yang hidup berdamai dengan alam.

Sebelum menyusuri perkampungan lebih jauh, rombongan diajak menyaksikan Tari Presean, seni tradisi khas Sasak yang menggambarkan keberanian, ketangguhan, dan sportivitas.

Dua penari saling berhadapan di arena, masing-masing membawa rotan (penjalin) dan perisai kulit sapi. Tabuhan musik tradisional Sasak mengiringi setiap langkah dan ayunan, menghadirkan suasana tegang namun terkendali.

Baca Juga:  Studi Banding dan Keberanian Bermimpi Kepala Madrasah

Seorang pakembar—wasit adat—berdiri sigap mengatur jalannya pertunjukan. Ia memastikan setiap gerak tetap berada dalam aturan. Meski tampak keras dan penuh adrenalin, Presean sejatinya tidak dilandasi kebencian.

Setiap pertarungan selalu diakhiri dengan jabat tangan dan pelukan, menandai bahwa keberanian harus berjalan seiring dengan pengendalian diri dan persaudaraan. Pesan itulah yang paling kuat ditangkap rombongan: keras dalam keberanian, lembut dalam adab.

Rombongan Foskam SD/MI Kabuparen Gresik di depan pohon cinta (Tagar.co/Nurkhan)

Guru Menari Presean

Suasana edukatif kian terasa ketika dua anggota rombongan, Teguh Abdillah dan Ulul Ilmi, mendapat kesempatan mempraktikkan langsung Tari Presean.

Dengan bimbingan pelaku adat setempat, keduanya memasuki arena kecil, mengenakan perlengkapan sederhana—rotan di tangan kanan dan perisai kulit sapi di tangan kiri.

Diiringi tabuhan musik yang sama, mereka mencoba gerak dasar Presean: langkah menyamping, kuda-kuda ringan, ayunan rotan yang terkontrol, serta sikap waspada dalam bertahan.

Meski dilakukan dalam suasana penuh canda, praktik ini tetap menjaga disiplin adat. Di titik ini, Presean tampil bukan sebagai adu kekerasan, melainkan latihan mental, etika, dan tanggung jawab.

Baca Juga:  Serius Hadapi TKA, Siswa SD Almadany Ikuti Tryout CBT FGM Jatim
Ulul Ilmi (kiri) dan Teguh Abdillah sedang mempraktikkan Tari Presean saat berkunjung di Dusun Sasak Sade (Tagar.co/Nurkhan)

“Awalnya terlihat keras dan menegangkan,” ujar Ulul Ilmi seusai praktik. “Tetapi setelah mencoba langsung, saya merasakan bahwa Presean justru mengajarkan pengendalian diri. Ada aturan, ada batasan, dan yang paling penting tidak ada dendam. Ini pelajaran karakter yang sangat dalam.”

Teguh Abdillah menilai Presean sebagai simbol pendidikan mental dan spiritual masyarakat Sasak. “Berani tampil, berani menghadapi lawan, tetapi tetap menjaga etika dan persaudaraan. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan pendidikan karakter yang kita tanamkan di sekolah dan madrasah,” tuturnya.

Keterlibatan langsung keduanya membuat pengalaman rombongan terasa lebih hidup. Presean tidak lagi sekadar tontonan budaya, melainkan media pembelajaran karakter yang konkret—tentang keberanian yang beradab dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, selaras dengan nilai-nilai keislaman dan pendidikan Muhammadiyah.

Didik Hermawan sedang melihat salah satu rumah adat di dusun Sasak Sade yang sebagian lantainya diolesi campuran kotoran kerbau (Tagar.co/Nurkhan)

Rumah Unik Dusun Sasak Sade

Usai pertunjukan, rombongan diajak menyusuri Dusun Sasak Sade lebih dekat. Sekitar 700 jiwa tinggal di kawasan ini, menempati kurang lebih 150 rumah dan 160 bangunan yang masih mempertahankan arsitektur adat.

Lantai rumah terbuat dari tanah liat yang diolesi campuran kotoran kerbau—praktik turun-temurun yang dipercaya menjaga kebersihan, mengusir serangga, dan memperkuat struktur lantai.

Dalam kehidupan sosialnya, adat memegang peran sentral. Tradisi perkawinan umumnya dilakukan dalam lingkup keluarga sendiri demi menjaga garis keturunan dan kelestarian adat.

Baca Juga:  Bismillah di Udara: Pengalaman Pertama Seorang Guru Naik Pesawat

Perempuan yang telah menikah tidak bekerja di luar rumah, namun tetap produktif melalui kegiatan menenun kain tradisional Sasak dari rumah. Tenun-tenun itu bukan hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya.

Di tengah keterikatan kuat pada adat, masyarakat Sasak Sade tetap beradaptasi dengan zaman. Kebutuhan air bersih dipenuhi melalui sumur bor yang dialirkan menggunakan pipa.

Di sudut dusun, terdapat pula “pohon cinta”, penanda kultural yang dipercaya menyimpan simbol doa, kesetiaan, dan jodoh—kisah yang kerap diceritakan kepada para tamu sebagai bagian dari filosofi hidup masyarakat setempat.

Kunjungan ke Dusun Sasak Sade menjadi salah satu fragmen paling bermakna dalam perjalanan Foskam SD/MI Kabupaten Gresik di Pulau Lombok. Di tengah laju modernitas, dusun ini menunjukkan bahwa adat yang dijaga dengan kesadaran mampu melahirkan manusia-manusia tangguh, beretika, dan berkarakter.

Nilai-nilai itulah yang pulang bersama rombongan: inspirasi bahwa pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi dihidupkan melalui laku budaya yang konsisten dan bermakna. (#)

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni