Khotbah

Khotbah Jumat: Kezaliman Pemimpin, Doa Rakyat, dan Peringatan Al-Qur’an

59
×

Khotbah Jumat: Kezaliman Pemimpin, Doa Rakyat, dan Peringatan Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Sejarah selalu mencatat: ketika pemimpin zalim, rakyat terabaikan, dan keadilan dibungkam, kehancuran negeri hanya tinggal menunggu waktu.

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah  Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Baca khotbah lainnya: Mengapa Sedekah Jariah Begitu Istimewa? Naskah Khotbah Jumat

Tagar.co – Naskah khotbah Jumat berjudul: Kezaliman Pemimpin, Doa Rakyat, dan Peringatan Al-Qur’an selengkapnya adalah:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا لِطَاعَتِهِ وَاجْتِنَابِ مَعْصِيَتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman dan Islam, memberi petunjuk untuk taat kepada-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah.

Jemaah sekalian rahimakumullah, marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah karena hanya orang-orang bertakwa yang akan memperoleh kemenangan, baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Sejarah peradaban manusia mengajarkan satu pelajaran penting: setiap pemimpin yang zalim dan otoriter, yang mematikan aspirasi kebebasan rakyatnya, menutup ruang keadilan, dan menumpuk kekayaan untuk golongan tertentu, pada akhirnya akan kehilangan legitimasi dan tumbang.

Al-Qur’an telah memperingatkan fenomena ini dalam Al-Isrā’: 16:

وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَـٰهَا تَدْمِيرًۭا

Baca Juga:  Ketika Jalan Raya Kehilangan Adab

“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi mereka durhaka di dalamnya. Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketetapan Kami, lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Surah di atas mengandung makna universal tentang kehancuran peradaban, bahwa:

  • Kemewahan tanpa kontrol moral melahirkan keserakahan elite.

  • Ketidakadilan sosial memicu delegitimasi pemimpin.

  • Perlawanan rakyat muncul ketika aspirasi dibungkam.

  • Kehancuran negeri bukan hanya takdir ilahi, tetapi konsekuensi logis dari penyalahgunaan kekuasaan.

Premis-premis bernilai teologis dan sosiologis inilah yang kemudian meruntuhkan suatu negara.

Maasyiral muslimin yang dimuliakan Allah

Dalam hadis sahih, Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللّٰهُ بِعِقَابٍ

“Sesungguhnya jika manusia melihat kezaliman tetapi tidak mencegahnya, niscaya Allah akan menurunkan azab kepada mereka semua.” (H.R. Abu Dawud dan Tirmid\zi)

Sejarah dunia membuktikan, banyak diktator besar yang akhirnya tumbang:

  • Fir’aun binasa di Laut Merah karena kesombongannya.

  • Adolf Hitler jatuh karena kebijakan rasis dan perang yang menghancurkan Jerman.

  • Nicolae Ceaușescu ditembak rakyatnya sendiri pada 1989.

Mengingatkan pemimpin yang zalim pada hakikatnya menyelamatkan semua karena kehancuran negara pasti akan dirasakan dampak langsungnya oleh rakyat jelata.

Rasulullah saw. juga bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Baca Juga:  Humor, Kekuasaan, dan Runtuhnya Keadaban Publik

Hadis ini menegaskan keberanian moral sebagai inti jihad. Amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa zalim adalah puncak ketaatan kepada Allah. Keberanian berbicara benar adalah wujud tauhid: mendahulukan kebenaran Allah daripada loyalitas politik.

Hadis ini juga menjadi landasan etis untuk kontrol sosial terhadap penguasa. Menjadi pemicu kesadaran kritis rakyat dan ulama dalam menghadapi kezaliman. Menunjukkan bahwa suara kebenaran adalah modal sosial yang dapat mencegah keruntuhan bangsa.

Semoga negara kita dijauhkan dari penguasa-penguasa zalim yang akan menghancurkan tanah yang kita cintai ini.

اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.

Segala puji bagi Allah, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad saw. adalah hamba dan utusan-Nya.

Surah Al-Isrā’: 16 menegaskan bahwa kehancuran suatu negeri terjadi ketika elite hidup mewah, rakyat tertindas, dan keadilan diabaikan. Kemewahan tanpa kendali moral memicu keserakahan, korupsi, dan kesenjangan sosial.

Saat aspirasi publik dibungkam, lahirlah krisis legitimasi, perlawanan rakyat, dan akhirnya keruntuhan peradaban, sebagaimana dibuktikan sejarah dan realitas kontemporer.

Kita harus menyadari bahwa menjaga negeri ini dari kehancuran bukan hanya tugas penguasa, melainkan tanggung jawab kolektif umat. Jika masyarakat diam terhadap kezaliman, jika ulama dan intelektual bungkam terhadap korupsi, jika suara kebenaran dikubur oleh ketakutan, maka kehancuran hanyalah soal waktu.

Baca Juga:  Hisab Dituding Menyimpang dari Sunah—Benarkah?

Marilah kita akhiri khotbah ini dengan menundukkan hati dan pikiran kita seraya berdoa, semoga negara kita menjadi negara yang baldatun tayibatun warabbun gafūr.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang hidup maupun yang telah wafat.

اَللّٰهُمَّ وَلِّ أُمُوْرَنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ أُمُوْرَنَا شِرَارَنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

Ya Allah, jadikanlah pemimpin-pemimpin kami orang-orang yang terbaik di antara kami, jangan Engkau serahkan urusan kami kepada orang-orang jahat di antara kami, dan jangan Engkau kuasakan atas kami mereka yang tidak menyayangi kami.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَّاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, tenteram, penuh rezeki, dan demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Penyunting Mohammad Nurfatoni