
Di panggung pelepasan siswa, dua suara kecil menghadirkan perasaan besar. Silma dan Adam membacakan puisi yang membuat waktu seolah berhenti sejenak.
Tagar.co – Suasana haru menyelimuti Ballroom Hotel Asida, Batu, Malang, pada Selasa (10/6/2025), saat dua siswa SMP Muhammadiyah 6 Krian (Meka) membacakan puisi perpisahan dalam acara pelepasan siswa kelas IX tahun ajaran 2024/2025.
Dua siswa tersebut, Nursilma Syawali Dwi Agnia dari kelas 9 ICO dan Adam Hisbullah dari kelas 9B, tampil membawakan puisi berjudul Puisi Perpisahan secara bergantian.
Dibacakan dengan suara yang tenang dan penuh penghayatan, puisi itu berhasil menggugah emosi guru, karyawan, dan siswa.
Baca juga: Empat Bintang SMP Meka: Siswa Berprestasi yang Menginspirasi
Adam membuka pembacaan dengan bait reflektif tentang hari pertama mereka bersekolah.
“Tiga tahun telah berlalu. Padahal rasanya baru kemarin kita gugup datang di hari pertama,” ucapnya pelan, menebar keheningan yang dalam di seisi ruangan.
Silma melanjutkan dengan mengenang momen-momen kecil yang membekas dalam memori, mulai dari rebutan tempat duduk, mencoret meja, hingga pura-pura paham saat diminta maju ke depan kelas. Setiap kenangan dituturkan dengan lembut, menciptakan resonansi batin hadirin.
Bagian paling menyentuh dari puisi ini adalah saat keduanya menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru, orang tua, dan teman seperjuangan.
“Kami ingin mengucapkan terima kasih. Untuk guru-guru kami yang bukan cuma mengajar, tapi juga mendengar,” ujar Adam.
“Untuk orang tua dan keluarga yang percaya, bahkan saat kami ragu pada diri sendiri,” sambung Silma dengan suara bergetar.
Puncak emosi terjadi ketika salam perpisahan diucapkan:
“Lucunya, dulu kita pengen cepat-cepat lulus. Tapi sekarang… kita justru pengin waktu bisa pelan-pelan,” ucap Silma.
“Terima kasih atas segalanya. Sampai jumpa di perjalanan yang baru,” tutup Adam.
Kepala SMP Meka, Muhammad Taufiqqurrohman, M.Pd., dalam sambutannya mengapresiasi penampilan keduanya. Ia menyebut puisi itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan proses tumbuh dan dewasa anak-anak didiknya.
“Mereka bukan hanya lulus dari sekolah, tapi juga dari proses pendewasaan diri,” ujarnya.
Acara pelepasan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Selain puisi perpisahan, kegiatan juga diisi pemutaran video dokumenter perjalanan siswa selama tiga tahun dan pembacaan kesan-pesan oleh perwakilan kelas IX.
Penampilan Silma dan Adam menjadi momen paling membekas dalam acara tersebut. Tepuk tangan panjang mengiringi akhir pembacaan puisi, menjadi simbol perpisahan yang tak hanya menyentuh hati, tetapi juga mengikat kenangan. (#)
Jurnalis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni











