
Faqih Faizan Rama, anak dengan disleksia dan ADHD, membacakan puisi untuk Menteri Abdul Mu’ti di Umsida. Dengan terbata, ia menyuarakan mimpi semua anak: pendidikan tanpa batas dan penuh cinta.
Tagar.co – Aula Nyai Walidah Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mendadak senyap. Semua mata tertuju ke panggung. Seorang bocah laki-laki berperawakan kecil maju dengan langkah mantap.
Namanya Faqih Faizan Rama, siswa kelas 2 SD Muhammadiyah 1 Candi Labschool Umsida. Di tangannya tergenggam secarik kertas berisi puisi yang ia tulis khusus untuk tamu kehormatan di hari itu: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Faqih bukan anak biasa. Ia didiagnosis mengalami disleksia dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, dan mengeja, meskipun tingkat kecerdasannya normal atau bahkan di atas rata-rata. Anak dengan disleksia sering kesulitan membedakan huruf, membaca lambat, dan mudah tertukar dalam urutan huruf atau kata.
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian (inattentiveness), perilaku impulsif (impulsivity), dan hiperaktif (hyperactivity). Anak dengan ADHD cenderung mudah terdistraksi, sulit duduk tenang, dan mengalami kesulitan dalam mengatur perilaku atau fokus dalam waktu lama.
Meskipun mengalami keduanya, tapi pagi itu, Sabtu (10/5/2025), Faqih membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk bersuara.
Baca juga: Mendikdasmen Hadiri Peluncuran Buku Lawatan Guru Smamda ke Negeri Jiran
Setelah membuka dengan salam dan memperkenalkan diri, dengan terbata namun penuh semangat, Faqih mulai membacakan puisinya yang berjudul Menteri Pendidikan. Seorang guru mendampinginya di samping, menjadi penguat saat kata-kata mulai tersendat. Tapi sorot mata Faqih tak ragu. Ia tahu, pesannya penting.
Tahun dua lima, Pak Menteri tiba di Umsida
sekolah jadi tempat ceria
belajar bersama, sungguh gembira,
ilmu didapat, hati bahagia.
Pak Menteri hebat, cita-citanya mulia
semua anak pintar di seluruh Indonesia
sekolah maju terus, itu harapannya
terima kasih, Bapak Menteri tercinta.

Usai membaca, Faqih menoleh ke arah Abdul Mu’ti yang duduk di barisan depan dan dengan polos bertanya, “Pak Menteri boleh foto?”
Tanpa ragu, Prof. Mu’ti berdiri dan melangkah naik ke panggung. Ia menyalami dan memeluk Faqih dengan hangat, lalu berfoto bersama sambil mengangkat jempol. Momen itu sontak mengundang tepuk tangan panjang dari seluruh hadirin.
Di akun Instagram-nya, Prof. Mu’ti menuliskan kesannya, “Terima kasih Faqih Faizan Rama. Saya sungguh terharu. Semoga saya membantu cita-citamu.”
Momen Faqih menjadi titik haru dalam rangkaian Seminar Nasional dan Launching Prodi Baru dalam rangka Dies Natalis Ke-20 Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Umsida.
Baca juga: Dihadiri Mendikdasmen, FPIP Umsida Luncurkan Program Magister dan PPG
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mu’ti menyampaikan visi pendidikan dasar dan menengah periode 2024–2029: pendidikan bermutu untuk semua. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah amanat konstitusi dan setiap anak, tanpa kecuali, berhak mendapat layanan pendidikan bermutu.
“Masih banyak anak-anak kita yang belum mendapat layanan pendidikan karena fisiknya, ekonominya, domisilinya, atau keadaan tempat mereka berada. Kita coba permudah aksesnya,” ujarnya.
Baginya, keterbatasan bukan halangan. Faqih telah membuktikan itu. Ia tak hanya menyampaikan puisi, tapi juga menyampaikan pesan bahwa setiap anak Indonesia pantas diperjuangkan untuk meraih mimpi. (#)
Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












