
Dari kecil hingga menjelang wafat, Rasulullah Saw. terus beraktivitas dengan seimbang dan penuh makna—sebuah teladan bahwa usia bukanlah batas untuk berkarya.
Oleh Ridwan Manan, Pengajar Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo; Anggota Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo
Tagar.co – Di usia senja, kebanyakan orang memilih beristirahat dan mengurangi aktivitas. Namun, Rasulullah saw. justru menunjukkan teladan berbeda. Dari masa kanak-kanak hingga menjelang wafat, beliau tidak pernah berhenti berbuat kebaikan.
Produktivitasnya terjaga, bahkan di usia tua, ketika fisik mulai melemah tetapi semangat dakwah, kepemimpinan, dan pengabdian beliau tidak pernah surut.
Baca juga: Penghapusan Tujuh Kata Piagam Jakarta: Pengorbanan Umat Islam demi Persatuan Indonesia
Dalam Al-Qur’an diperintahkan menyembah Allah sampai mati: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian)” (Al-Hijr: 99).
Ayat ini menegaskan bahwa beribadah tidak mengenal pensiun. Setiap aktivitas seorang muslim adalah ibadah, dan Rasulullah Saw. menjadi teladan utama bagaimana hidup dijalani dengan efisien, seimbang, dan produktif di setiap fase kehidupan.
Fase Kehidupan Nabi
1. Usia 6–8 Tahun: Masa Mengasah Kemandirian
Setelah ditinggal wafat ibundanya, Muhammad Saw. diasuh kakeknya, Abdul Muthalib, seorang bangsawan Quraisy. Beliau menggembalakan kambing penduduk Makkah untuk mengurangi beban hidup kakek. Abdul Muthalib mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab sejak dini.
2. Usia 8–12 Tahun: Belajar Berbisnis
Sepeninggal Abdul Muthalib, Nabi Muhammad saw. diasuh pamannya, Abu Thalib, yang mengajarkan berdagang. Beliau memulai usaha dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya ke pasar lain. Pada usia 12 tahun, beliau ikut Abu Thalib melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam.
3. Usia 13–19 Tahun: Bisnis Semakin Berkembang
Keahlian Rasulullah saw. dalam mengelola seluruh bisnis Abu Thalib semakin terasah hingga beliau aktif melakukan perjalanan dagang ke Irak, Yordania, Bahrain, Syam, dan Yaman.
4. Usia 20–25 Tahun: Bermitra dan Menikah dengan Khadijah
Kredibilitas Rasulullah saw. teruji dengan karakter unggulnya: fatanah, amanah, sidik, dan tablig (FAST), sehingga mencapai puncak keemasan dengan bermitra bersama pedagang kaya Khadijah. Pulang dari perjalanan dagang, beliau membawa keuntungan besar. Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan Khadijah dengan mahar 100 ekor unta merah.
5. Usia 25–40 Tahun: Bisnis Semakin Berkembang
Rasulullah saw. terus berbisnis sebelum diangkat menjadi rasul. Banyak orang menitipkan barang untuk diperdagangkan oleh beliau. Karena kejujurannya, beliau dijuluki al-Amin. Kebijaksanaannya tampak ketika berhasil menyelesaikan sengketa dengan meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat semula setelah jatuh.
6. Usia 40–53 Tahun: Menerima Wahyu dan Tugas Dakwah
Rasulullah saw. menerima wahyu pertama di Gua Hira dan memulai dakwah kepada penduduk Makkah, menyiapkan kader muda dengan pembinaan intensif. Banyak tantangan yang beliau hadapi, bahkan ancaman kematian.
7. Usia 53 Tahun: Perjalanan Hijrah
Rasulullah saw. diperintahkan hijrah ke Madinah setelah 13 tahun berdakwah di Makkah. Perjalanan hijrah penuh risiko, bahkan kepala beliau dihargai 100 ekor unta. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya perjalanan hijrah Rasulullah.
8. Usia 53–63 Tahun: Menjadi Panglima Perang
Setelah dua tahun berada di Madinah, Rasulullah saw. membangun pemerintahan sekaligus memimpin kekuatan pasukan. Pada usia 55–63 tahun, beliau diperintahkan berjihad. Rasulullah memimpin langsung 28 kali peperangan.
Di usia yang mulai uzur, beliau tetap dituntut memiliki kekuatan fisik untuk perjalanan dan pertempuran, juga ketajaman akal untuk mengatur strategi perang serta menganalisis kekuatan dan kelemahan musuh.
Rasulullah saw. tetap produktif di usia tua. Pada usia 60 tahun, beliau masih berdakwah dan memimpin peperangan besar seperti Fathu Makkah, Tabuk, dan Hunain. Bahkan dalam 14 hari terakhir sakitnya, Rasulullah saw. masih memimpin salat berjemaah, membebaskan budak, dan memberikan nasihat kepada para sahabat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












