
Muslimah memegang peran krusial di era Industri 5.0. Melalui Gerakan Perempuan Mengaji, kader Aisyiyah didorong menjadi cahaya peradaban, mendidik anak, membina umat, dan menyebar hikmah.
Tagar.co – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Wringinanom menggelar Gerakan Perempuan Mengaji (GPM) di Masjid Al Amin, Randosongo, Gresik, Jawa Timur, Ahad (18/5/25).
Ranting terjauh dari Cabang Wringinanom ini menghadirkan Dr. Kiki Cahya Muslimah, M.Pd. Kiki mengupas tema “Peran Muslimah dalam Membangun Peradaban Islam di Era Industri 5.0.”.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) ini menjabarkan peran Muslimah tidak hanya terbatas sibuk di dapur atau menata meja tetapi juga menjadi cahaya dalam dunia maya. “Mendidik anak, membina umat, dan menyebar hikmah penuh makna,” tuturnya.
Ia mengawali tausiyahnya dengan pertanyaan, “Mungkin ada yang bertanya, apa yang dimaksud dengan Era Industri 5.0 itu? Adakah yang tahu?” Hening menyeruak di antara jemaah.
Kiki lantas menjelaskan, Era Industri 5.0 adalah zaman di mana manusia dan teknologi bekerja bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi.
“Setelah sebelumnya kita mengenal Industri 4.0 dengan robot, internet, dan kecerdasan buatan, kini di era 5.0, sentuhan manusia, nilai-nilai kemanusiaan, dan spiritualitas menjadi lebih penting,” ungkapnya.
Maka dari itu, sambungnya, peran mereka sebagai muslimah, ibu rumah tangga, guru mengaji; guru TK, SD, SMP, SMA; dosen, pedagang di pasar, tenaga kesehatan, atau siapa saja, sangat penting. “Untuk menjaga nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan agar tetap hidup di tengah kemajuan teknologi,” imbuhnya.
Peran Perempuan dalam Islam
Kiki pun menjelaskan QS. At-Taubah: 71. “Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya,” paparnya.
Ia menerangkan, ayat tersebut menegaskan, laki-laki dan perempuan setara atau sama kedudukannya. “Yaitu, sama-sama memiliki peran aktif dalam membangun masyarakat yang baik. Kita, para muslimah, bukan hanya pendamping, tapi juga penggerak, penopang, dan penentu arah peradaban,” jelasnya.
Sekretaris Majelis Tabligh dan Ketarjihan PCA Karangpilang ini menyampaikan, sesungguhnya Muslimah masa kini bertugas melanjutkan warisan peradaban. Kenapa? “Karena sejak zaman dulu, Muslimah adalah sosok beradab!” tegasnya.
Pertama, ia mencontohkan peran Aisyah binti Abu Bakar. Peran Aisyah adalah istri Nabi Muhammad ﷺ yang terkenal sangat cerdas dan menjadi guru besar umat Islam.
Kontribusi Aisyah ialah meriwayatkan lebih dari 2000 hadist dan menjadi rujukan utama dalam ilmu fikih, tafsir, dan kedokteran. “Maknanya, perempuan bisa menjadi sumber ilmu dan pengajar umat, bahkan menjadi tempat bertanya para sahabat laki-laki.
Kedua, sebagai penggerak pengajian. Contohnya, Asma’ binti Yazid. Ia terkenal sebagai da’iyah (juru dakwah) dan penyambung suara perempuan kepada Rasulullah.
Adapun kontribusinya, sering bertanya tentang hak-hak perempuan dan menyampaikan ilmu kepada kaumnya. “Aktif menyampaikan nilai-nilai Islam dalam komunitasnya,” terang Kiki.
Menurut Kiki, hal ini bermakna, seorang perempuan bisa menjadi penggerak pengajian yang memperjuangkan pendidikan spiritual dan sosial perempuan lainnya.

Peran Perempuan Lainnya
Ketiga, pelaku UMKM. Contohnya, Khadijah binti Khuwailid. Ia berperan sebagai seorang saudagar perempuan kaya dan sukses di Mekkah.
Kontribusinya, menggunakan kekayaannya untuk mendukung dakwah Nabi Muhammad. “Menjadi tulang punggung finansial dakwah Islam awal,” imbuh Kiki.
Maknanya, “Perempuan pelaku usaha tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga bisa menjadi penggerak ekonomi umat dan pendukung dakwah.”
Keempat, pejuang hidup. Contohnya Nusaibah binti Ka’ab. Ia berperan sebagai pejuang yang ikut serta dalam berbagai peperangan membela Islam.
Kontribusinya dalam Perang Uhud, ia terluka parah demi melindungi Nabi ﷺ. “Perannya menunjukkan bahwa perempuan turut andil dalam membela peradaban Islam secara langsung,” jelasnya.
Ini bermakna, membangun peradaban itu luas. “Bisa lewat ilmu, ekonomi, bahkan pengorbanan fisik dan jiwa,” ungkapnya.
Kelima, perempuan pembelajar. Contohnya, perempuan-perempuan Anshar. Perempuan Madinah terkenal semangat menuntut ilmu dan aktif dalam majelis Rasulullah.
Mereka berkontribusi dalam riwayat Bukhari. Rasulullah memuji mereka: “Sebaik-baik perempuan adalah perempuan Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk belajar agama.”
Ini bermakna, “Perempuan yang terus belajar dan berani aktif di ruang publik adalah fondasi peradaban Islam yang kuat.”
“Hari ini kita hidup di tengah era Industri 5.0, zaman teknologi maju, kecerdasan buatan, dan perubahan sosial yang cepat. Tapi satu hal tak pernah berubah: Islam tetap membutuhkan perempuan-perempuan hebat, yang bukan hanya shalihah di rumah, tapi juga berperan di tengah umat, aktif dalam ilmu, sosial, dan ekonomi,” urainya.

Kesetaraan Tanggung Jawab
Selanjutnya praktisi dan akademisi inspiratif ini menyitir Quran surat Al-Ahzab: 35.
“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar”
Kata Kiki, ayat ini menegaskan kesetaraan tanggung jawab dan pahala. Termasuk dalam membangun umat dan peradaban.
“Membangun peradaban tidak selalu harus menjadi pemimpin negara. Bisa dimulai dari membimbing anak di rumah, mengajar Al-Qur’an, menyelenggarakan pengajian, hingga membangun ekonomi keluarga. Semua itu adalah ladang amal yang besar,” terangnya.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai muslimah di era modern ini? Kiki menegaskan, di era Industri 5.0, manusia dan teknologi bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi ini.
Muslimah Modern
Pertama, menjadi ibu yang mendidik dengan cinta. Peradaban dimulai dari rumah. Ibu adalah sekolah pertama.
“Di era teknologi ini, mari kita pastikan anak-anak kita tidak hanya pintar gadget, tapi juga memiliki akhlak mulia,” tuturnya.
Nabi bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, menjadi pendidik dan penggerak masyarakat. Ia menyadari, banyak ibu-ibu yang jadi guru ngaji, penggerak pengajian, atau pelaku UMKM. Semua itu adalah bagian dari membangun peradaban.
“Mari kita isi majelis-majelis ilmu, aktif di kegiatan masyarakat, dan terus belajar,” imbuhnya.
Ketiga, melek teknologi dan literasi dengan tetap menjaga nilai adab. Pakar media pembelajaran Bahasa Arab ini mengatakan, teknologi bisa jadi teman, bisa juga jadi ancaman. Menggunakan media sosial untuk dakwah, untuk menyebarkan kebaikan.
“Ajak anak-anak kita menggunakan HP dengan bijak. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam dunia maya tanpa arah,” ajaknya.
Empat, berkarya sesuai potensi karena setiap perempuan punya potensi. Ada yang pandai menjahit, memasak, menulis, mengajar, atau bahkan berwirausaha. Jangan ragu berkarya. “Niatkan untuk mencapai ridho Allah SWT maka akan panen pahala,” tegasnya.
Ia lanjut bertanya, “Coba ibu-ibu pikirkan sekarang, apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat sekitar? Kita wariskan kepada anak-anak kita? Sudahkah menjadi muslimah yang membawa cahaya dalam keluarga?”
Ia mengimbau pengajian ini bukan hanya tempat duduk bersama, tapi juga tempat menyalakan semangat baru. “Semangat untuk membangun masyarakat beradab dimulai dari pergerakan. Gerakan yang nyata seperti Gerakan Perempuan Mengaji ini,” harapnya.
Muslimah Cahaya Peradaban
“Kita hidup di zaman yang maju secara teknologi, tapi jangan sampai kehilangan arah dan nilai. Di tengah dunia yang serba cepat, mari kita hadir sebagai penyejuk, pemberi makna, dan penggerak kebaikan,” paparnya.
Kemudian Kiki menekankan era teknologi serba cepat. “Jangan sampai iman kita terlewat. Peran Muslimah bukan sekadar pelengkap, tapi pilar utama yang kokoh dan hebat. Mulai dari rumah, majelis, sampai media sosial, di sanalah ladang dakwah dan amal,” paparnya.
Ia mengingatkan, peradaban besar tak lahir dari kekuatan semata, Tapi dari ibu-ibu tangguh yang mencetak generasi penuh taqwa.
“Muslimah di era 5.0 haruslah seperti pelita yang terus menyala. Karena dari rahim ibu-ibu desa seperti kita, akan lahir generasi ulama, pemimpin, dan pejuang peradaban,” katanya.
Ibu satu putri ini menyampaikan tiga pesan untuk Muslimah pembangun peradaban Islam. Pertama, isi majelis-majelis ilmu. “Karena ilmu adalah cahaya. Tanpa ilmu, umat Islam gelap dan mudah goyah,” tegasnya
Kedua, aktif di kegiatan masyarakat. “Karena masyarakat yang sehat dimulai dari perempuan yang peduli, jangan diam jika ada keburukan, tapi juga jangan bosan mengajak kebaikan,” ujarnya.
Ketiga, terus belajar. “Karena zaman berubah. Kita harus jadi muslimah yang melek teknologi, cerdas membaca zaman, dan tetap terikat pada nilai-nilai Qur’an dan Sunnah,” urainya.
Bangun Peradaban
Kiki juga mengajak jemaah mulai hari itu menjadi bagian dari sejarah besar. Sejarah peradaban yang dibangun dengan cinta, ilmu, iman, dan amal.
Lalu ia bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk Islam?” Maka jawabannya bukan harus besar, tapi harus ikhlas dan istiqamah. “Bisa jadi amal kecil kita hari ini, seperti mengajar anak mengaji atau membimbing kelompok pengajian, akan menjadi batu bata dalam bangunan peradaban Islam,” harapnya.
Ia melanjutkan, mari kita isi hidup kita dengan amal yang bernilai. Karena ketika para muslimah bangkit, maka peradaban pun ikut terangkat.
Sebelum GPM berakhir, ia tutup dengan pantun penyejuk hati:
Ke pasar beli semangka
Pulangnya bawa bunga melati
Muslimah cerdas bukan hanya berkata
Tapi hadir membangun negeri dengan hati. (#)
Jurnalis Kusmiani Penyunting Sayyidah Nuriyah












