Opini

Pelukan Terakhir Seekor Sapi: Cerita Haru Penyembelihan Hewan Kurban

36
×

Pelukan Terakhir Seekor Sapi: Cerita Haru Penyembelihan Hewan Kurban

Sebarkan artikel ini
Penulis dan sapi kurban

Seekor sapi kurban itu tak melawan. Ia justru meminta dipeluk sebelum disembelih. Inilah kisah nyata penuh haru dari pedalaman Kalbar, tentang cinta, kurban, dan keikhlasan.

Oleh Muhammad Damanhuri alias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia dan Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat. Bersama Mualaf, Kita Mampu!

Tagar.co – Dini hari itu, Sabtu, 7 Juni 2025, suasana masih gelap saat seekor sapi kurban digiring ke lokasi penyembelihan. Ia berjalan pelan, tanpa perlawanan. Diam, tenang, seolah tahu bahwa saatnya telah tiba. Tak seperti hewan lain yang biasanya gelisah, sapi ini justru mendekat. Menundukkan kepala. Meminta dielus. Lalu bersandar.

Air mata tampak mengalir dari sudut matanya. Tak ada suara selain desir angin dan helaan napas kami yang menyaksikan.

Panitia pun ikut terdiam, hanyut dalam suasana yang tak biasa. Saat itulah, saya membungkuk, memeluknya, mengusap punggung dan lehernya pelan-pelan. Seperti orang yang akan berpisah untuk selamanya.

Kurban Menembus Hutan: Kisah Perjuangan demi Mualaf di Pedalaman Kalbar

Baca Juga:  Ihsan dalam Menjaga Amanah

Setelah beberapa menit, barulah ia bersedia direbahkan. Kedua kaki diikat dengan hati-hati. Tapi ketika saat penyembelihan tiba, saya memilih mundur. Bukan karena ragu, tapi karena tak sanggup menyaksikan detik-detik terakhirnya. Berpura-pura mengambil minum, saya menjauh, sementara di balik langkah itu, tangis tak lagi bisa dibendung.

Iduladha tahun ini menjadi momen luar biasa. Bersama Yayasan Kejayaan Muallaf Indonesia dan Lembaga Majelis Taklim Muallaf Kalbar, kami menyembelih lima ekor sapi dan dua ekor kambing. Donasinya datang dari berbagai pihak—pegawai Bappeda Kalbar, Koperasi Gubernur Kalbar, aparat Polda, dan beberapa donatur perseorangan.

Pembagian daging dilakukan sepanjang hari dan malam, menembus jalanan licin dan berlumpur, menyusuri dusun-dusun yang jauh dari sorotan. Di sana, para muallaf menyambut dengan senyum tulus. Banyak di antara mereka baru pertama kali menerima daging kurban dalam hidupnya.

Rasa lelah hilang seketika. Semua perjuangan—termasuk kendaraan mogok, jalan tak rata, hingga kantuk yang menyerang—terbayar lunas oleh rasa syukur dan kebahagiaan mereka.

Atas nama lembaga, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada seluruh donatur. Semoga Allah membalas dengan rezeki yang luas, kesehatan yang paripurna, dan amal yang diterima di sisi-Nya.

Baca Juga:  Merawat Iman Para Mualaf Pontianak lewat Pesantren Ramadan

Kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ia adalah bahasa cinta, bentuk pengorbanan, dan jalan sunyi menuju keikhlasan. Kadang, bahkan dari pelukan terakhir seekor sapi, manusia belajar tentang makna pengabdian. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni