
Nasihat Pimpinan Pondok Pesantren Darul Muhajirin disampaikan kepada santri yang sedang mengerjakan ujian tulis selama sepekan.
Tagar.co – Santri Pondok Pesantren Darul Muhajirin, Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, menghadapi ujian tulis semester I mulai Ahad (2/11/2025).
Selama sepuluh hari ke depan para santri berhadapan dengan serangkaian mata pelajaran dari Matematika, mutholaah, tafsir, Ilmu Pengetahuan Alam, hingga pelajaran khas pesantren seperti nahwu, sharaf, dan fikih.
Segala persiapan telah dilakukan dengan matang. Panitia menata ruang ujian, menyiapkan soal, dan mengatur tempat duduk dengan teliti agar pelaksanaan berjalan tertib.
Sebelum ujian dimulai, seluruh santri berkumpul di halaman pondok mengikuti apel pengarahan. Udara pagi terasa sejuk, barisan mereka rapi dan khidmat.
Di hadapan para santri, Pimpinan Pondok Darul Muhajirin Ustaz Samsul Mu’arif, S.Pd.I, memberikan nasihat yang menancap kuat di hati. “الإمتحان للتعلم و ليس التعلم للإمتحان,” ucapnya lantang.
Artinya, ujian diadakan untuk belajar, bukan belajar demi ujian.
Ustaz Samsul mengutip sabda Rasulullah Saw,”Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga.”
Dia menjelaskan, nilai sejati seorang santri bukan pada angka, tapi pada kejujurannya. “Percuma nilai bagus jika diraih dengan cara curang,” katanya.
Ketua Panitia Ujian, Khafsoh Aulia, menambahkan, pondok memberikan tambahan jam belajar agar para santri bisa lebih siap.
”Kami ingin mereka menghadapi ujian dengan tenang, fokus, dan percaya diri,” ujarnya.
Para ustaz dan ustazah pengabdian pun ikut terlibat. Mereka membantu santri mengulang pelajaran, menyimak hafalan, dan memberikan latihan soal.
”Kami berusaha menguatkan mereka dari sisi pemahaman dan mental,” tutur Ghea Nanda, salah satu guru muda di pondok tersebut.
Suasana pondok selama ujian terasa berbeda. Dari serambi masjid hingga asrama, terdengar suara santri mengulang hafalan. Buku-buku tak pernah lepas dari tangan, menjadi teman setia di setiap waktu luang.
Syifa Mufidah, salah satu santriwati, mengaku bersemangat menghadapi ujian. “Kalau tidak belajar, apa yang bisa aku dapatkan? Aku punya target, dan aku ingin mencapainya dengan usaha sendiri,” ujarnya dengan senyum.
Malam hari di pondok santri tekun belajar. Di bawah cahaya lampu, beberapa santri masih menunduk menulis dan membaca.
Di balik kesunyian, mereka sedang berjihad berjuang menuntut ilmu dengan ikhlas.
Bagi santri Darul Muhajirin, ujian tulis bukan akhir dari pembelajaran, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju ilmu yang bermanfaat. Mereka belajar untuk menjadi manusia berilmu, berakhlak, dan diridai ilahi. (#)
Jurnalis Afida Ummayatuz Zulfa Penyunting Sugeng Purwanto












