Feature

Praktik Mengajar, Santri Pondok Damhar Dibekali Ilmu Ini

63
×

Praktik Mengajar, Santri Pondok Damhar Dibekali Ilmu Ini

Sebarkan artikel ini
Praktik Mengajar Santri Pondok Damhar
Santri tingkat akhir Pondok Darul Muhajirin Gucialit Lumajang praktik mengajar di kelas. (Tagar.co/Cindy Rahmawati)

Tagar.co – Sebanyak 33 santri kelas 12 Pondok Pesantren Darul Muhajirin (Damhar) di Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Lumajang, mengikuti program Amaliyatu Tadris atau praktik mengajar.

Program ini berlangsung sejak Rabu (21/1/2026) hingga 14 Februari 2026 mendatang sebagai bagian dari kewajiban santri tingkat akhir sebelum menyelesaikan masa pendidikan pesantren.

Peserta terdiri 12 putra dan 21 putri. Mereka praktik mengajar adik-adik kelas sebagai upaya melatih keberanian, tanggung jawab, sekaligus menguji penerapan teori pembelajaran yang telah dipelajari di bangku pesantren.

Amaliyatu Tadris menyasar santri kelas 7, 8, dan 9 sebagai tempat praktik pembelajaran. Kegiatan praktik mengajar mulai menyampaikan materi, menyusun I’dadu Tadris atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sederhana, mengelola kelas dengan berbagai metode, mulai dari ceramah, tanya jawab, hingga diskusi.

Pembimbing program, Cindy Rahmawati, menyampaikan, praktik ini dinilai melalui lima aspek utama. Meliputi penguasaan materi, metode mengajar, penggunaan bahasa dan intonasi, sikap atau adab, serta kemampuan mengelola suasana kelas agar tetap kondusif.

Etika Pendidik

Baca Juga:  Sekolah di Atas Kebun Teh

Sebelum terjun ke ruang kelas, santri praktik lebih dahulu mendapatkan pembekalan mental dan etika mengajar. Arahan ini disampaikan oleh pengasuh Pondok Damhar, Ustaz Samsul Mu’arif, S.Pd.I dan Ustaz Kusdiawan, Lc.

Pembekalan ini guna memastikan kesiapan batin santri sekaligus memperkuat pemahaman mereka tentang peran guru menurut nilai-nilai pesantren.

Ustaz Samsul Mu’arif mengatakan, menjadi pendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu, melainkan menanamkan keteladanan dan membentuk karakter.

“Amaliyatu Tadris ini menjadi kawah candradimuka bagi santri untuk membangun mental pendidik dan dai yang kompeten sebelum terjun mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pelaksanaan Amaliyatu Tadris dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Mulai pembekalan teori, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga praktik langsung di kelas.

Pada akhir kegiatan, setiap santri praktik mengikuti evaluasi dan refleksi sebagai bahan ukur perkembangan kemampuan pedagogiknya.

Melalui program ini, sambung Ustaz Samsul Mu’arif, Pesantren Darul Muhajirin berharap melahirkan pendidik yang mandiri, disiplin, dan percaya diri.

”Pengalaman mengajar secara langsung menjadi bekal penting agar santri tidak lagi canggung saat berbicara di depan umum maupun memimpin forum keagamaan di masa mendatang,” tuturnya. (#)

Baca Juga:  IMM Lumajang Kunjungi Polres

Jurnalis Cindy Rahmawati  Penyunting Sugeng Purwanto