Feature

Sekolah di Atas Kebun Teh

62
×

Sekolah di Atas Kebun Teh

Sebarkan artikel ini
Sekolah itu terletak di atas bukit, di atasnya homestay kebun teh milik PT Perkebunan I Kertowono. Tiap pagi siswa berjalan dari rumah menuju sekolah menembus kabut.
Murid SD Negeri Gucialit 02 di atas kebun teh Lumajang. (Tagar.co/Ratu)

Sekolah itu terletak di atas bukit, di atasnya homestay kebun teh milik PT Perkebunan I Kertowono. Tiap pagi siswa berjalan dari rumah menuju sekolah menembus kabut.

Tagar.co – Kabut pagi masih menyelimuti hamparan kebun teh di perbukitan Kertowono, Gucialit, Lumajang, yang sejuk dan asri, Sabtu (31/1/206).

Murid-murid berseragam Pramuka berjalan pelan menyusuri jalan makadam yang mendaki di antara kebun teh. Melewati vila dan homestay milik PT Perkebunan I. Pabrik teh hijau tampak berada agak jauh di bawah vila ini, dekat rumah administratur perkebunan.

Ada juga murid yang diantar ayahnya naik motor menuju SD Negeri 02 Kertowono di atas. Lokasinya di atas homestay perkebunan. Anak-anak ini berasal dari kampung di bawah. Beberapa siswa bahkan berasal dari Desa Kenongo, desa tetangga. Mereka memilih sekolah ini karena lebih dekat jaraknya dari rumah dibandingkan sekolah di desa sendiri.

Di waktu yang sama, para pemetik teh juga menapaki jalan naik ke kebun. Perempuan kampung yang bekerja di perkebunan membawa keranjang di punggungnya. Sebelum matahari pagi meninggi adalah saat yang baik memetik pucuk daun teh. Daun-daun teh itu diolah di pabrik sini menjadi lulur kecantikan teh hijau.

Baca Juga:  Pendidikan Gratis atau Makan Gratis?

Pemandangan anak-anak bersekolah dan pemetik teh selalu berdampingan, menyatu dalam rutinitas yang dingin setiap pagi. Kecuali Ahad mereka libur.

SDN Gucialit 02 Kertowono Gucialit berdiri di atas tanah perkebunan ini sejak tahun 1978. Di zaman pemerintah banyak membangun SD Inpres.

Sekolah di atas bukit ini mempunyai 90 siswa. Sebanyak 45 siswa laki-laki dan 45 siswa perempuan. Ada sepuluh guru yang mengajar di sini dibantu tenaga kependidikan untuk urusan administrasi dan kebersihan.

Denyut kehidupan SD Negeri yang dipimpin Kepala Sekolah Titik Walasati, S.Pd. ini sudah bergerak pada pukul 05.30 WIB. Guru-guru datang naik motor matik. Kedatangannya mengalir berselingan dengan kehadiran siswa.

Rina Estuningsih, S.Pd, guru kelas 4 SDN Gucialit 02 menjelaskan, sekolah ini merupakan hasil penggabungan antara SDN Gucialit 02 dan SDN Gucialit 06, ketika jumlah murid makin sedikit pada masa lalu.

Dia menerangkan, kedatangan belajar mengajar di pagi hari ditanamkan kepada guru dan murid. Kebiasaan datang pagi sudah berlangsung lama dan tumbuh di sekolah.

Baca Juga:  Zakat untuk Program MBG? Ini Penjelasan Amil Lazismu

“Siswa-siswi SDN Gucialit 02 terbiasa berangkat sekolah sejak pukul 05.30 WIB, dan itu sudah menjadi kebiasaan dari dulu,” jelasnya.

Kegiatan pagi sebelum pelajaran dimulai di SD Gucialit 02 adalah Gerakan Sekolah Mengaji meliputi salat Duha dan murajaah Al-Quran bersama.

Pabrik teh hijau Kertowono, Gucialit, Lumajang. (Tagar.co/Sugeng Purwanto)

Selain pembelajaran di kelas, sekolah juga memfasilitasi pengembangan minat dan bakat siswa melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti drumband, Pramuka, musik al-banjari, dan sepak bola. SD ini yang pertama di wilayah Gucialit memiliki unit ekstrakurikuler drumband.

Sekolah ini belum menerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena belum ada dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) di daerah ini.

Rutinitas seperti ini tak menyurutkan siswa belajar di sekolah ini. Karena sekolah ini terdekat di kampungnya.

Aldo, siswa kelas 3,mengatakan, tiap pagi tetap bersemangat jalan kaki ke sekolah. Sudah biasa berjalan turun naik di perbukitan. Kadang berangkat sendirian. Lalu bertemu teman-teman di jalan hingga berangkat bersama.

Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan dari rumah menuju ke sekolah.  Di waktu istirahat Aldo bersama temannya terlihat sedang bermain handphone.

Baca Juga:  Pemotongan Anggaran Pendidikan untuk MBG, Tinjauan Hukum

Setelah didekati ternyata ternyata murid-murid itu tidak sedang bermain game. Tapi belajar coding lewat HP.

Jurnalis Rizal Mazaki, Cindy Rahmawati, Rawi Arfianto, Diana Putri, Yunita  Penyunting Sugeng Purwanto