
Di Palembang, semangkuk mi celor tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan, kebersamaan, dan kehangatan yang sulit dilupakan.
Tagar.co — Palembang selalu punya cara istimewa untuk menyambut siapa pun yang datang. Bukan hanya lewat kemegahan Sungai Musi dan siluet ikonik Jembatan Ampera, tetapi juga melalui semangkuk kehangatan bernama mi celor—hidangan tradisional yang menyimpan jejak sejarah sekaligus rasa yang sulit dilupakan.
Pada Kamis, 25 Desember 2025, di sela perjalanan menyusuri Kota Pempek, saya bersama suami tercinta, Kemas Asrozi, sengaja meluangkan waktu untuk berburu cita rasa legendaris ini.
Sebuah warung sederhana menjadi tujuan kami. Dari luar, tampilannya biasa saja. Namun begitu semangkuk mi celor terhidang di meja, segala lelah perjalanan seolah luruh.
Baca juga: Kampung Pempek Koyek: Merawat Rasa di Jejak Tua Kapitan Palembang
Mi kuning berukuran besar itu tenggelam dalam kuah kental berwarna kecokelatan—perpaduan kaldu udang, santan, dan rempah pilihan yang menghasilkan rasa gurih lembut dengan sentuhan manis yang khas.
Aromanya langsung menguar, menggoda indera sebelum sendok pertama menyentuh bibir. Irisan telur rebus, tauge segar, serta taburan bawang goreng melengkapi tampilannya: sederhana, bersahaja, namun menggugah selera.
Kami menikmati setiap suapan dengan perlahan. Mi yang kenyal berpadu dengan kuah yang kaya rasa menciptakan harmoni yang hangat di lidah.
Uap dari mangkuk mengepul pelan, menyatu dengan obrolan ringan dan tawa kecil kami. Di meja sempit itu, waktu seolah melambat, memberi ruang untuk benar-benar hadir dalam kebersamaan.

Bagi saya, momen itu bukan sekadar wisata kuliner. Ia adalah jeda dari kesibukan, ruang untuk berbagi cerita, dan kesempatan mensyukuri perjalanan hidup bersama orang terkasih. Mi celor menjadi pengikat suasana, menghadirkan kehangatan yang tidak hanya terasa di perut, tetapi juga di hati.
Mi celor memang lebih dari sekadar makanan. Di Palembang, ia hidup sebagai bagian dari budaya. Disantap sebagai sarapan atau makan siang, terutama di kawasan-kawasan tua kota, resepnya dijaga turun-temurun oleh para penjual setia. Setiap mangkuk menyimpan warisan rasa yang tak berubah oleh zaman.
Hari itu, kami pulang dengan perasaan hangat dan kenangan yang bertambah. Di balik kelezatan mi celor, tersimpan cerita tentang kebersamaan, tradisi, dan keindahan sederhana yang membuat Palembang selalu layak untuk dirindukan.
Mi celor bukan hanya soal rasa. Ia adalah cerita. (#)
Penulis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni












