
Di tengah banjir, longsor, dan kepanikan ekologis, bangsa ini sesungguhnya sedang kehilangan dua penyangga peradaban: cinta yang memberi makna dan kecerdasan yang memberi arah. Tanpa keduanya, masa depan kita semakin rapuh.
Oleh Prof. Triyo Supriyatno, M.Ag.; Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tagar.co – Kita hidup di zaman ketika kecerdasan dirayakan sebagai segala-galanya. Kita memuja teknologi, data, dan efisiensi. Kita menciptakan kota yang semakin canggih, kendaraan yang semakin pintar, dan kebijakan yang semakin penuh angka.
Tetapi di tengah laju ini, ada sesuatu yang hilang—nilai paling sederhana yang seharusnya menjadi kompas setiap peradaban: cinta, atau dalam bahasa yang lebih universal, rasa peduli.
Baca juga: Menyeimbangkan Ibadah dan Bisnis di Era Kompetisi tanpa Henti
Dua hal yang tampaknya berlawanan—cinta dan kecerdasan—sebenarnya adalah dua obat yang justru harus dipakai bersamaan. Tanpa cinta, kecerdasan menjadi alat yang dingin. Tanpa kecerdasan, cinta menjadi niat baik yang tak sampai pada perubahan. Dan hari ini, dunia—termasuk Indonesia—sedang membayar mahal akibat hilangnya keseimbangan dua hal itu.
Kecerdasan Tanpa Cinta: Akar Krisis Kemanusiaan dan Krisis Alam
Kecerdasan yang tidak dibimbing cinta melahirkan kemajuan yang keliru arah. Ia memproduksi inovasi, tetapi sering mengabaikan manusia dan lingkungan. Kita melihat ini dengan sangat jelas pada krisis ekologi yang kini menimpa negeri ini.
Banjir yang melanda berbagai wilayah bukan semata-mata “musibah alam”. Ia adalah hasil dari keputusan manusia yang cerdas tetapi tidak peduli: reklamasi tanpa kajian ekologis, pembukaan lahan tanpa batas, pembangunan yang meniadakan ruang resapan air, penebangan hutan tanpa pemulihan. Semua itu dilakukan atas nama logika ekonomi, tetapi mengorbankan logika kehidupan.
Demikian pula tata kota yang semakin padat dengan beton dan semakin miskin pepohonan. Kita membangun menara untuk menunjukkan kemajuan, namun lupa memastikan apakah tanah di bawahnya masih mampu menampung air hujan. Ketika banjir datang, kita seolah terkejut—padahal semua gejala telah kita abaikan bertahun-tahun.
Kecerdasan teknis yang tidak dibimbing cinta menjadikan bumi sebagai objek, bukan rumah. Dan rumah yang terus disakiti, pada akhirnya akan membalas.
Cinta Tanpa Kecerdasan: Niat Baik yang Tidak Menyelamatkan
Di sisi lain, kita memiliki solidaritas yang besar sebagai bangsa. Setiap kali bencana datang, masyarakat bergerak. Donasi mengalir, relawan turun, berbagai komunitas membuka dapur umum. Inilah cinta yang nyata.
Namun apa yang terjadi setelah itu?
Sering kali tidak ada perubahan berarti. Usai bencana, kita kembali membiarkan sungai dipersempit, sampah dibuang ke saluran air, dan bukit-bukit digunduli. Cinta bergerak cepat, tetapi kecerdasan tidak tinggal lama. Tidak ada strategi jangka panjang yang memastikan bahwa bencana kali ini tidak terulang.
Cinta yang hangat tetapi tidak diarahkan oleh kecerdasan hanya mengobati luka, bukan menghentikan penyebab luka itu.
Menggabungkan Dua Obat Krisis Hidup: Cinta dan Kecerdasan
Jika kita ingin keluar dari dua krisis yang sedang kita alami—krisis kemanusiaan dan krisis ekologis—maka jawabannya bukan sekadar memperbaiki teknologi atau meningkatkan anggaran bencana. Jawabannya adalah menyatukan cinta dan kecerdasan sebagai etika hidup bersama.
Berikut tiga langkah konkret.
Pertama, membangun kesadaran ekologis berbasis ilmu dan empati. Pendidikan harus berhenti memisahkan logika dari kepedulian. Anak-anak perlu diajari bahwa menjaga bumi bukan sekadar pengetahuan IPA, tetapi tanggung jawab moral.
Mereka perlu memahami bagaimana satu botol plastik bisa menyumbat aliran sungai; bagaimana satu pohon dapat mencegah longsor; bagaimana keputusan pribadi berdampak pada keselamatan banyak orang. Ilmu memberi arah, empati memberi makna.
Kedua, kebijakan ekologi yang efektif dan berpihak pada manusia. Kebijakan tidak boleh hanya mengandalkan data teknis; ia harus melindungi kehidupan. Kita memerlukan penataan ruang yang mengutamakan daya dukung lingkungan; perlindungan hutan berbasis riset ilmiah; pengendalian pembangunan yang mempertimbangkan risiko banjir dan perubahan iklim; serta edukasi publik yang konsisten tentang mitigasi bencana.
Kebijakan yang cerdas tetapi tidak berjiwa cinta akan gagal. Kebijakan yang penuh empati tetapi tidak berdasarkan data akan sia-sia. Keduanya harus bersatu.
Ketiga, kebersamaan dengan semesta sebagai budaya baru. Bumi tidak meminta dipuja. Ia hanya meminta diperlakukan sebagai tempat hidup. Sudah saatnya masyarakat membangun budaya ekologis baru: membuang sampah dengan benar sebagai tanda cinta; menanam pohon sebagai investasi kehidupan; tidak membeton seluruh lahan rumah sebagai bentuk tanggung jawab; mengkritisi pembangunan yang merusak sebagai sikap kewargaan ekologis.
Kebersamaan dengan semesta bukan romantisme; itu kebutuhan mempertahankan hidup.
Dua Sayap untuk Masa Depan
Bangsa yang ingin bertahan dalam era perubahan iklim bukanlah bangsa yang hanya mengandalkan teknologi, bukan pula yang hanya mengandalkan solidaritas spontan. Ia harus menjadi bangsa yang bisa berpikir jernih sekaligus merasa dalam. Bangsa yang cerdas memilih jalan, dan cinta memastikan jalan itu benar.
Di tengah banjir yang datang silih berganti, tanah longsor yang merenggut nyawa, dan cuaca ekstrem yang makin tak terduga, kita tidak hanya sedang menghadapi krisis alam—kita sedang menghadapi krisis kemanusiaan.
Dan dua obat sederhana namun paling kuat untuk mengatasi semuanya tetap sama: cinta dan kecerdasan.
Dengan dua sayap itu, kita bukan hanya bisa bangkit, tetapi juga memastikan bahwa Bumi ini tetap layak dihuni bagi generasi yang akan datang. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









