
Dalam suasana hangat menjelang berbuka di Masjid Raudlatul Jannah Sidoarjo, Ustaz Dr. Imam Syaukani mengajak para orang tua merenungi kembali peran mereka lewat tujuh bekal mendidik anak.
Tagar.co — Menjelang waktu berbuka puasa, suasana Masjid Raudlatul Jannah di kompleks Wisma Permai Pepelegi, Sidoarjo, tampak lebih hangat dari biasanya. Ahad (23/3/2025) sore itu, jemaah dari berbagai usia berkumpul untuk mendengarkan kajian bertajuk Keluarga Bahagia bersama Anak Saleh. Sang penceramah, Ustaz Dr. Imam Syaukani, M.A., menyampaikan materi dengan bahasa yang akrab, mengalir, dan menyentuh nurani.
“Anak itu amanah, titipan dari Allah Swt,” buka Ustaz Imam mengawali tausiahnya. Bukan hanya titipan biasa, tapi juga rezeki yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemberi.
Baca juga: Mewujudkan Iman dalam Pekerjaan: Kajian Jelang Berbuka Puasa di Depo Lokomotif KAI
“Apa yang pernah kita tanamkan, apa yang kita ajarkan kepada anak, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban,” lanjut ayah empat anak ini. Ia mengajak para orang tua untuk menyadari betapa besar tanggung jawab dalam mendidik anak—agar tumbuh menjadi generasi rabbani, generasi yang kelak menegakkan kalimat tauhid di muka bumi.
Ia mengutip pepatah Jawa: anak polah bapa kepradah. Tingkah laku anak tak bisa dilepaskan dari peran dan tanggung jawab orang tuanya.
“Anak yang pandai, orang pasti bertanya: itu anak siapa? Sebaliknya, kalau anak nakal, orang juga bertanya: itu anak siapa?” ujarnya sembari tersenyum kecil.
Namun, sebagaimana harta, anak juga bisa menjadi ujian atau fitnah bagi orang tuanya. Karena itu, Ustaz Imam membagikan tujuh prinsip mendidik anak dalam Islam, merujuk pada teladan Rasulullah Saw.
1. Mengenalkan Allah sejak Dini
“Sering-seringlah menyebut nama Allah di depan anak,” pesan Ustaz Imam. Hal-hal kecil seperti mengucapkan hamdalah saat bersin, berdoa ketika hujan, atau mengatakan innalillahi saat terpeleset, bisa menjadi kebiasaan yang tertanam kuat. Bahkan salat tahajud di samping anak yang tertidur pun bisa menjadi momen pembelajaran batin yang dalam.
“Anak akan merekam momen-momen itu. Ketika terbangun dan melihat orang tuanya salat di sepertiga malam, itu akan menjadi jejak batin yang membekas,” tuturnya.
Ia mengajak para jemaah untuk meneladani kisah Luqman yang diabadikan dalam Al-Qur’an bukan karena kenabiannya, tapi karena kesalehannya sebagai ayah.
“Jangan lupa untuk selalu mendoakan anak dengan doa Nabi Ibrahim: Rabihabliminasalihin—Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh,” imbuhnya.
2. Menegakkan Salat
Di era digital, teknologi seharusnya memudahkan orang tua untuk mengingatkan anak salat. Gunakan HP untuk menanyakan, “Sudah salat belum?”—nasihat yang sederhana tapi bermakna.
“Jangan biarkan anak mengulur-ulur waktu salat. Itu tanggung jawab orang tua,” tegasnya, mengutip hadis yang menganjurkan mendisiplinkan salat sejak usia tujuh tahun.

3. Menghidupkan Suasana Islam di Rumah
Rumah harus menjadi tempat yang hidup secara spiritual. Ustaz Imam menyarankan, bacalah Al-Qur’an walau satu ayat setiap hari di rumah. Biasakan salat sunah di rumah, saling memberi salam, dan menerapkan adab Islami dalam keseharian.
“Rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an itu seperti kuburan,” ujarnya. Ia juga menganjurkan doa malam untuk keberkahan rumah tangga: Allahumaighfirlizanbi, wawasi’li fidari, wabariklifimarazaktani.
4. Menanamkan Semangat Berbagi dan Jihad
Ajarkan anak untuk memberi. Ketika bertemu pengemis atau pengamen, libatkan anak dalam memberi sedekah. Dengan begitu, anak belajar bahwa hidup adalah tentang berbagi dan berjuang di jalan kebaikan.
5. Menumbuhkan Cinta Ilmu
Ustaz Imam juga menantang takmir masjid untuk menciptakan program-program yang menarik bagi anak agar cinta pada masjid dan ilmu. Orang tua juga dianjurkan membawakan oleh-oleh berupa buku, bukan hanya jajanan.
“Biasakan anak melihat orang tuanya cinta buku,” ujarnya.
6. Memperhatikan Lingkungan Pergaulan
Anak bisa berkata kasar bukan karena didikan rumah, melainkan dari lingkungan yang salah. “Kita harus tahu siapa teman akrab anak kita,” tegas Ustaz Imam, mengingatkan pentingnya memfilter pergaulan.
Ia mengutip hadis, “Seseorang tergantung agama temannya. Maka lihatlah siapa yang menjadi teman dekatnya.”
7. Mendidik dari Meja Makan dan Tempat Tidur
Makan bersama di rumah menjadi sarana pendidikan yang efektif. Ajarkan anak mensyukuri makanan, dan jangan biarkan ia membandingkan isi piringnya dengan orang lain.
“Didik anak untuk melihat piringnya sendiri. Ini bagian dari belajar bersyukur,” katanya. Demikian pula dari tempat tidur—membangunkan anak salat, menemani mereka tidur dengan doa-doa, adalah bentuk kasih sayang yang mengedukasi.
Menutup tausiyahnya, Ustaz Imam berdoa agar anak-anak kita menjadi qurataa’yun—penyejuk mata—bagi orang tuanya.
“Mudah-mudahan anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi saleh dan salehah. Mereka akan menjadi perhiasan paling indah dalam kehidupan kita,” ucapnya penuh harap, diiringi anggukan jemaah yang terenyuh menjelang waktu berbuka. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












