
Sore di Palembang bukan sekadar peralihan waktu, melainkan ruang bagi kenangan, kebersamaan, dan makna perjalanan yang tumbuh perlahan di tepi Sungai Musi.
Tagar.co — Sabtu, 20 Desember 2025, menjadi hari yang menenangkan sekaligus berkesan bagi saya, suami tercinta Kemas Asrozi, serta adik tersayang Nyimas Huliyah. Setelah seharian menyusuri berbagai sudut Kota Palembang, kami memilih menutup perjalanan dengan cara paling sederhana: duduk santai di tepian Sungai Musi, menyerap senja dan denyut kehidupan kota.
Langkah kami melambat begitu tiba di kawasan tepi sungai. Angin sore berembus lembut, membawa aroma khas air dan kota yang berpadu harmonis. Di hadapan kami, Sungai Musi mengalir tenang, memantulkan cahaya senja yang perlahan meredup.
Langit memulas warna jingga dan keemasan, sementara air sungai seolah menjadi cermin raksasa bagi keindahan itu. Waktu terasa melambat, memberi ruang bagi hati untuk benar-benar hadir di momen ini.
Baca juga: Jembatan Ampera: Jantung yang Tak Pernah Berhenti Berdetak
Di sepanjang tepian sungai, kehidupan bergerak tanpa jeda. Perahu-perahu kecil dan kapal penyeberangan hilir mudik membawa penumpang dan barang. Kapal wisata melintas perlahan, sarat wisatawan yang ingin merasakan Palembang dari perspektif air.
Suara mesin kapal, percakapan warga, dan tawa pengunjung berpadu menciptakan orkestrasi khas kawasan pesisir sungai—ramai, namun menenangkan.
Kami duduk sambil menikmati kudapan ringan dari pedagang sekitar. Kesederhanaan suasana justru menghadirkan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Anak-anak bermain di tepi sungai, pedagang menawarkan dagangan dengan senyum ramah, sementara para wisatawan sibuk mengabadikan detik-detik senja dengan kamera dan ponsel mereka. Semua bergerak dalam irama yang sama: menikmati sore, menikmati hidup.

Dari tempat kami duduk, Jembatan Ampera tampak berdiri megah, membentang gagah di atas Sungai Musi. Jembatan legendaris itu seperti penjaga waktu—menyaksikan Palembang tumbuh, berubah, dan terus bergerak.
Sesekali kapal besar melintas di bawahnya, menghadirkan pemandangan yang begitu ikonik. Di sanalah saya benar-benar memahami: Sungai Musi bukan sekadar aliran air, melainkan nadi yang menyatukan sejarah, budaya, dan kehidupan warganya.
Bagi kami, momen di tepi sungai ini bukan sekadar menikmati pemandangan, melainkan meresapi kebersamaan. Percakapan ringan, tawa kecil, dan keheningan yang nyaman menjadi kenangan yang terpatri dalam ingatan.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, Sungai Musi menghadiahkan jeda yang berharga—tempat untuk bernapas, bersyukur, dan menyadari bahwa kebahagiaan kerap hadir dalam hal-hal paling sederhana.
Menjelang petang, cahaya matahari kian meredup. Warna keemasan memudar di permukaan air, digantikan kesejukan senja yang memeluk kota. Angin sepoi-sepoi membuat kami enggan beranjak. Hari itu, Sungai Musi menjadi ruang refleksi: tentang perjalanan, tentang kebersamaan, tentang keindahan ciptaan Tuhan yang hadir tanpa diminta.
Menyusuri Sungai Musi pada Sabtu sore itu menjadi penutup yang sempurna bagi rangkaian perjalanan kami di Palembang—sebuah pengalaman sederhana, hangat, dan sarat makna, yang akan selalu hidup dalam kenangan sebagai bagian dari perjalanan bersama keluarga. (#)
Jurnalis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni












