Rileks

Menjelajah Lorong Waktu di Fort Willem I Ambarawa

105
×

Menjelajah Lorong Waktu di Fort Willem I Ambarawa

Sebarkan artikel ini
Ahmad Wildan Pradana (kanan) bersama dengan adik dan ibunya di salah satu area wisata Fort Willem I Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 26 Desember 2025 (Tagar.co/Sri Utami)

Benteng kolonial Fort Willem I di Ambarawa kembali memikat wisatawan setelah pemugaran besar-besaran. Perpaduan sejarah, edukasi, dan rekreasi menjadikannya destinasi liburan akhir tahun yang unik.

Tagar.co — Liburan akhir tahun tak selalu harus diisi dengan hiruk-pikuk pusat perbelanjaan atau destinasi modern. Di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sebuah bangunan tua berdiri kokoh, mengajak setiap pengunjungnya berjalan perlahan menembus masa lalu. Namanya Fort Willem I, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa.

Jumat pagi, 26 Desember 2025, benteng bersejarah itu menjadi saksi langkah-langkah wisatawan yang datang membawa rasa ingin tahu, kamera, dan kekaguman. Mengunjungi Fort Willem I terasa seperti membuka pintu lorong waktu—menyusuri kisah kolonial yang kini menjelma ruang rekreasi edukatif.

Baca juga: Menyusuri Jejak “Ular Besi” di Museum Kereta Api Ambarawa

Benteng yang dibangun pada tahun 1834 ini baru saja menyelesaikan proses pemugaran selama hampir setahun penuh. Revitalisasi rampung di penghujung 2025, menghadirkan wajah baru yang lebih rapi, bersih, dan elegan, tanpa menghilangkan karakter aslinya sebagai situs sejarah. Barak pasukan, hornwork, dan caponier kini berdiri dengan balutan plester putih, memberi kesan anggun sekaligus kokoh.

Baca Juga:  Jalan Pulang
Fort Willem I Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 26 Desember 2025 (Tagar.co/Sri Utami)

Tak heran, Fort Willem I yang resmi dibuka untuk umum pada 15 November 2025 langsung menyedot perhatian masyarakat. Lokasinya yang strategis—berdekatan dengan Museum Kereta Api Ambarawa, di belakang RSUD Ambarawa, serta berada di kompleks Lapas Kelas II Ambarawa—membuatnya mudah dijangkau wisatawan.

Daya tariknya kian lengkap dengan harga tiket yang bersahabat: Rp10.000 di hari biasa dan Rp15.000 saat akhir pekan maupun hari libur nasional.

“Nuansa tempo dulunya sangat terasa. Keren,” ujar Ahmad Wildan Pradana, pengunjung asal Gresik, Jawa Timur.

Wildan datang bersama ibu, adik, bibi, dan sepupunya. Mereka tiba sejak pukul tujuh pagi demi menghindari kepadatan pengunjung yang biasanya memuncak menjelang siang.

“Semakin siang semakin ramai. Lebih baik datang pagi supaya lebih leluasa menikmati semua area,” tambah Sri Utami, bibi Wildan, sambil tersenyum menikmati udara pagi yang masih sejuk di halaman benteng.

Tulisan sejarah Fort Willem I Ambarawa (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Berjalan menyusuri kompleks Fort Willem I, pengunjung dapat melihat langsung berbagai fasilitas yang dahulu menjadi denyut kehidupan militer Belanda: barak pasukan, rumah petinggi, rumah sakit, istal kuda, gedung pertemuan, pos penjagaan, hingga menara pengawas. Setiap sudutnya menyimpan cerita.

Baca Juga:  Jejak Manis di Balik Es Krim

Di beberapa dinding area kafe, terpajang tulisan-tulisan sejarah yang menjelaskan peran benteng ini dalam dinamika kolonialisme di Nusantara. Wildan dan keluarganya pun memanfaatkannya sebagai ruang belajar—membaca, berdiskusi, sekaligus merenungkan jejak perjuangan bangsa.

Fort Willem I bukan sekadar bangunan tua yang dipugar. Ia kini menjadi ruang temu antara masa lalu dan masa kini—menggabungkan nilai sejarah sebagai markas militer kolonial dengan fungsi baru sebagai destinasi wisata yang nyaman dan edukatif.

Liburan pun terasa lebih utuh: bukan hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga menyentuh kesadaran tentang perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni