Tagar.co – Perjalanan kami di Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2024), berlanjut ke sebuah tempat yang menyimpan sejarah panjang perkeretaapian Indonesia: Museum Kereta Api Ambarawa. Setelah puas menikmati keindahan Bukit Cinta Rawa Pening , kami pun bergegas menuju museum yang berlokasi di Jalan Stasiun Nomor 1, tepat di jantung kota Ambarawa ini.

Museum ini buka dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuknya pun ramah di kantong. Untuk dewasa, cukup merogoh kocek Rp20.000, sementara pelajar berseragam dan anak-anak usia 3-12 tahun hanya Rp10.000. Wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp30.000.

Baca juga: Bukit Cinta Rawa Pening: Pesona Alam di Ujung Selatan Kabupaten Semarang

Nah, jika ingin merasakan sensasi naik Kereta Api Wisata, siapkan dana tambahan Rp125.000 per orang. Kereta wisata ini beroperasi tiga kali sehari, yaitu pukul 09.30, 11.00, 13.00, dan 14.30 WIB, dengan rute Ambarawa-Tuntang, menyuguhkan pemandangan perbukitan dan keindahan Rawapening di sepanjang perjalanan. Karena hanya tersedia tiga gerbong dengan kapasitas 40 seat per gerbong, kami pun harus sabar mengantre bersama pengunjung lainnya.

Baca Juga:  Kue Lebaran Tersaji di Kelas, Momen Indah Halalbihalal di TK  Handayani

Memasuki area museum, nuansa tempo dulu langsung menyergap. Bukan hanya deretan lokomotif tua yang menjadi daya tarik utama, tetapi juga kisah perjalanan “ular besi” di Tanah Air yang terpampang jelas di papan informasi dekat pintu masuk. Dari gagasan awal hingga perkembangan terkini, semuanya tersaji apik, menjadikan museum ini tak hanya tempat wisata, tetapi juga ruang edukasi yang menarik.

Menikmati kuliner di Museum Kereta Api Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2024)(Tagar.co/Nofia Firdawati)

Namun, godaan kuliner yang berjejer di pujasera rupanya lebih kuat. Aroma aneka jajanan, mulai dari gorengan, pecel, sate, bakso, mie ayam, ayam geprek, hingga camilan kekinian seperti sosis bakar dan sempol ayam, sukses membuat kami menepi sejenak. Setelah perut terisi dan dahaga terpuaskan oleh segarnya es teh manis, barulah petualangan sesungguhnya dimulai.

Kami menyusuri barisan lokomotif tua yang berjajar rapi. Sebanyak 26 lokomotif uap, empat lokomotif diesel, lima kereta, dan enam gerbong dari masa Hindia Belanda hingga pra-kemerdekaan menjadi saksi bisu perkembangan teknologi perkeretaapian. Anak-anak pun tampak antusias diajak berkeliling museum dengan menaiki Cho Cho Train, cukup dengan membayar Rp15.000.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal
Sultan Ahmad Ateem (kanan) menikmati kenyamanan gerbong kereta api yang disulap menjadi kereta pustaka, Musem Kereta Api Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2024)(Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Tak hanya lokomotif, sebuah gerbong yang disulap menjadi perpustakaan pun mencuri perhatian. Anak bungsu saya, Sultan Ahmad Ateem (6), yang baru belajar membaca, terlihat asyik membolak-balik buku cerita di rak-rak buku.

Tepat di depan gerbong pustaka, tiga seniman lokal tengah menghibur pengunjung. Tanpa ragu, saya pun bergabung dan menyumbangkan tiga buah lagu: Rindu, Rungkat, dan Ikan dalam Kolam, meski sadar diri bahwa suara saya jauh dari merdu.

Sebelum meninggalkan museum, kami menyempatkan diri bersantai di bawah pohon rindang, ditemani secangkir kopi Gondhessia, salah satu menu andalan di sini.

Bersama seniman lokal di Museum Kereta Api Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/1/2024)(Tagar.co/Nofia Firdawati)

Hari itu, Museum Kereta Api Ambarawa tak hanya menawarkan wisata sejarah, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan, dari kuliner yang menggugah selera, hiburan musik yang menghangatkan, hingga edukasi yang mencerahkan.

Sebuah perjalanan yang membawa kami menyelami jejak “ular besi” dan merasakan denyut peradaban masa lampau di tanah Ambarawa.

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni