Feature

Menjadi Santri Sejenak, Guru SD Mumtas Surabaya Perdalam Ilmu Islam di Bangil

46
×

Menjadi Santri Sejenak, Guru SD Mumtas Surabaya Perdalam Ilmu Islam di Bangil

Sebarkan artikel ini
Ustaz Hefzi, LC, menyampaikan materi pengantar ilmu Al-Qur’an kepada para guru SD Muhammadiyah 10 Surabaya dengan suasana gayeng, santai dan akrab (Tagar.co/Mumtazah)

Tak hanya siswa, para guru SD Mumtas juga nyantri! Selama dua hari, mereka mengikuti dauroh di Pesantren Persis Bangil, memperdalam ilmu agama untuk mengajar dengan lebih bermakna.

Tagar.co – Para guru SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) membuktikan bahwa semangat belajar tidak hanya milik anak didik mereka. Selama dua hari, 3-4 Maret 2025, para pendidik ini “nyantri” di Pesantren Persis Bangil, Pasuruan, mengikuti daurah keislaman guna memperdalam dan memperbarui wawasan agama mereka.

Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas 4A ini terdiri dari dua sesi setiap harinya. Sesi pertama digelar pukul 16.30-17.30 bersama Ustaz Hefzi, Lc., sementara sesi kedua dilaksanakan pukul 20.00-21.00 dengan Ustaz Ahsin Lathif Muhammad Arham sebagai pemateri. Dengan penuh antusias, para guru mengikuti rangkaian kajian ini layaknya santri yang tengah menimba ilmu.

Di tempat yang sama para siswa kelas 4-6 SD Mumtas sedang mengikuti Ramadan Language Camp.

Dua Hari Siswa SD Mumtas Surabaya Nyantri di Pondok Pesantren Persis Bangil

Baca Juga:  Mengetuk Langit, Menegakkan Bumi Pendidikan

Belajar Al-Qur’an dengan Semangat yang Menginspirasi

Ustaz Hefzi, Lc., yang juga menjabat sebagai Mudir Pesantren Persis Putri Bangil, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat para guru SD Mumtas dalam memperdalam ilmu agama. Ia menyampaikan materi pengantar ilmu Al-Qur’an, khususnya tentang keutamaan membaca dan mengajarkan kitab suci ini.

Dalam pemaparannya, ia mengutip sabda Rasulullah Saw.: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari)

Tak hanya itu, Ustaz Hefzi juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki keistimewaan tersendiri, termasuk perannya sebagai pemberi syafaat bagi mereka yang membacanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Dalam suasana yang penuh kehangatan, para guru menyimak setiap penjelasan dengan tekun, menyadari betapa pentingnya pemahaman mendalam tentang kitabullah dalam peran mereka sebagai pendidik.

Ust. Ahsin Lathif M Arham menjelaskan materi pengantar ilmu fiqih di ruang kelas 4A Pesantren Persis Putri Bangil (Tahar.co/Mumtazah)

Mengupas Perbedaan Fikih dengan Bijak

Sesi kedua yang dibawakan oleh Ustaz Ahsin Lathif Muhammad Arham lebih berfokus pada pembahasan usul fikih yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disampaikan meliputi hukum-hukum Islam dalam transaksi jual beli online, hukum isbal (memanjangkan pakaian di bawah mata kaki), serta perbedaan pendapat dalam fikih.

Baca Juga:  SD Mumtas Hadirkan Keceriaan Ramadan di Panti Muhammadiyah Semampir

Sebagai seorang pendakwah asal Laren, Lamongan, Ustaz Ahsin membawakan materinya dengan pendekatan yang bijak. Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam fikih adalah sesuatu yang wajar dan harus disikapi dengan sikap saling menghormati. Gaya penyampaiannya yang santai namun berbobot membuat para peserta semakin antusias dalam menggali ilmu.

Kesan Mendalam dari para Guru

Aidia Prita Islami, salah satu guru SD Mumtas yang mengikuti daurah ini, mengungkapkan betapa berartinya pengalaman ini baginya.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami tidak hanya menunggu anak-anak selesai belajar, tetapi juga ikut menambah wawasan agama. Ini menjadi pengalaman berharga yang bisa kami terapkan di sekolah,” ungkapnya.

Dengan adanya daurah ini, para guru SD Mumtas semakin diperkaya dengan ilmu keislaman yang tidak hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi anak didik yang mereka bimbing setiap hari. Ini adalah bukti bahwa belajar agama adalah proses yang tiada henti, dan para pendidik memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang lebih berilmu dan berakhlak.

Baca Juga:  Getaran Hati di Serambi Nabawi

Dengan semangat yang terus menyala, para guru SD Mumtas membuktikan bahwa mereka tidak hanya mendidik, tetapi juga terus belajar—menjadikan ilmu sebagai cahaya dalam perjalanan mereka membentuk generasi masa depan. (#)

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni