Buku

Menimba Adab dari A. Hassan: Panduan Murid dan Guru Sepanjang Zaman

518
×

Menimba Adab dari A. Hassan: Panduan Murid dan Guru Sepanjang Zaman

Sebarkan artikel ini
Menggali pelajaran dari karya klasik A. Hassan, “Kesopanan Tinggi Secara Islam”, tentang hubungan ideal antara murid dan guru.
Buku karya klasik A. Hassan, “Kesopanan Tinggi secara Islam”

Menggali pelajaran dari karya klasik A. Hassan, “Kesopanan Tinggi secara Islam”, tentang hubungan ideal antara murid dan guru.

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya

Tagar.co – Nama A. Hassan begitu kuat terpatri dalam sejarah pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia. Ulama besar kelahiran Singapura ini bukan hanya dikenal sebagai pendebat tangguh dan pemikir rasional yang menjunjung tinggi Al-Qur’an dan sunah, tetapi juga sebagai pendidik yang melahirkan generasi pembelajar—para murid yang kemudian menjadi pemimpin umat dan bangsa.

Salah satu muridnya yang masyhur adalah M. Natsir, Bapak NKRI dan perdana menteri pertama setelah Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan.

Sebagai guru utama Persatuan Islam (Persis), A. Hassan menulis banyak karya penting yang bukan hanya menjelaskan persoalan fikih atau tafsir, tetapi juga membimbing akhlak dan etika dalam menuntut ilmu. Dua di antaranya yang cukup populer adalah Tafsir Al-Furqan dan Pengajaran Shalat. Namun, ada pula karya yang lebih membumi dan menyentuh sendi kehidupan pendidikan, yakni Kesopanan Tinggi secara Islam—sebuah buku yang sarat nasihat, terutama bagi para murid dan guru.

Ahmad Hassan, Ulama yang Menanamkan Akhlak

Pada 2023, Mufi Alzihad menulis skripsi berjudul Peran Ahmad Hassan di Pondok Pesantren Persis Pajagalan Bandung (1936–1940). Di dalamnya disebutkan bahwa untuk membentuk karakter atau akhlak santrinya, Ahmad Hassan memberikan perhatian yang luar biasa. Bahwa agar santrinya berakhlak dan kelak berguna di masyarakat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah, Ahmad Hassan memberikan pengajaran seperti kedisiplinan, keteladanan, kejujuran, dan mencintai buku.

Baca Juga:  Tohir Bawazir: 36 Tahun Menjaga Jalan Sunyi Penerbitan Buku Islam

Baca juga: Imam Zarnuji dan Buku Ta’limul Al-Muta’allim yang Legendaris

Di atas disebut bahwa di antara yang dikerjakan A. Hassan agar santrinya (pada 1936–1940) punya akhlak baik dan berguna bagi masyarakat adalah dengan mengondisikan mereka untuk mencintai buku. Agar mencintai buku, harus tersedia banyak buku. Terkait hal ini, Ahmad Hassan konsisten. Ia menulis banyak buku. Salah satunya berjudul Kesopanan Tinggi Secara Islam. Buku ini terbit pertama kali pada 1939.

Buku yang disebut di atas telah dicetak ulang beberapa kali. Mari kita buka buku itu, terbitan A-Muslimun (Pasuruan) pada 2021. Tebalnya, vii + 96 halaman. Isinya berupa nasihat-nasihat A. Hassan kepada masyarakat umum.

Kita lihat daftar isinya:

Pendahuluan

  1. Kesopanan Manusia terhadap Tuhan

  2. Kesopanan Umat terhadap Nabi-Nya

  3. Kesopanan Anak terhadap Ibu/Bapak-Nya

  4. Kesopanan Anak(-Anak) terhadap Orang Tua-Nya

  5. Kesopanan Manusia terhadap Orang Alim

  6. Kesopanan Seseorang terhadap Jiran (Tetangga)-Nya

  7. Kesopanan Manusia dalam Perkawinan dan Rumah Tangga

Guru, Kunci Ilmu dan Pintu Cita-Cita

Kita baca Kesopanan Tinggi Secara Islam. Di halaman 30, dibahas Kesopanan Manusia terhadap Orang Alim. Bahwa, tiap-tiap manusia yang belajar pasti ingin mendapat ilmu. Meskipun ilmu itu tertulis di buku-buku, tetapi kunci dan rahasianya ada di tangan guru (h. 30).

Pokok-pokok ilmu patut kita dapatkan dari guru-guru. Hikmahnya, antara lain, agar kita bisa mendapatkan ilmu dengan lekas, terang, dan jelas. Benar, waktu kita bisa termanfaatkan dengan lebih baik saat mencari ilmu.

Baca Juga:  Dari Madrasah, Nurkhan Menulis Manusia: Resensi Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti

Hendaknya kita menjaga adab kepada guru. Yakinilah, murid yang disukai guru akan lebih mudah mencapai cita-cita yang tinggi. Teruslah bersikap manis kepada guru. Hormatilah guru dengan bersikap sopan di hadapannya dan menuruti perintah-perintahnya (baik di hadapan maupun di belakangnya).

Nabi Saw. bersabda, “Muliakanlah orang yang kamu belajar darinya” (HR Abdul Hasan al-Mawardi). Sabda Nabi Saw. yang lain, “Muliakanlah guru-guru agama karena barang siapa memuliakan mereka berarti ia memuliakan aku” (HR Abul Hasan al-Mawardi).

Hindari Sikap Tak Sopan kepada Guru

Ada hal-hal lain yang seharusnya menjadi pedoman dasar, yaitu jangan pernah bersikap tidak memuliakan guru. Berikut ini contoh perkara-perkara yang tidak sopan terhadap guru di dalam kelas:

  1. Bertingkah laku kasar

  2. Bercakap-cakap dengan teman, apalagi sampai tertawa

Berhati-hatilah! Perbuatan-perbuatan seperti di atas dinamakan perbuatan murid yang tidak mengindahkan gurunya. Begitu pula dengan perbuatan-perbuatan lain yang serupa (h. 31).

Orang yang tidak menghormati guru dinamakan tidak sopan kepada guru dan kepada ilmu yang diajarkan. Adapun orang yang tidak memuliakan ilmu adalah orang yang tidak memuliakan perintah Allah. Padahal, telah bersabda Nabi Saw., “Barang siapa menghormati orang alim berarti ia menghormati Tuhannya” (HR Abul Hasan al-Mawardi). Hal ini karena menghormati orang alim berarti menghormati ilmunya, dan menghormati ilmu berarti menghormati perintah Allah (h. 32).

Ada contoh lain terkait perbuatan tak terpuji dari murid. Misalnya, murid menyiapkan pertanyaan (yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya), lalu ia tanyakan kepada gurunya di hadapan murid-murid atau orang lain. Ia merasa senang jika gurunya tidak bisa menjawab. Bersamaan dengan itu, ia berharap dipuji teman atau orang lain karena dikira pintar. Kelakuan murid seperti ini, selain tidak sopan, juga termasuk menghina guru (h. 32).

Baca Juga:  Di Balik Capita Selecta: Jejak Natsir dan Peran Senyap D.P. Sati Alimin

Menghormati Guru, Menghargai Murid

Hal yang mesti, kata A. Hassan, antara murid dan guru harus saling menghormati. Murid menghormati guru dan guru menghormati murid. Untuk yang terakhir ini, Nabi Saw. bersabda, “Hormatilah orang yang kamu ajar” (HR Abul Hasan al-Mawardi). Maka, guru yang tidak menghormati murid sebagaimana mestinya tentulah tidak mendapat kehormatan dari murid sebagaimana mestinya (h. 33).

Dengan demikian, tak hanya murid yang harus menghormati guru. Guru pun harus menghormati murid. Hanya dengan “keseimbangan” itu akan tercipta situasi belajar-mengajar yang kondusif.

Menjalankan Warisan Adab A. Hassan

A. Hassan seorang ulama besar. Tentu semua pendapatnya didasarkan terutama pada Al-Qur’an dan hadis. Di titik ini, kita tak meragukan berbagai nasihatnya dalam buku Kesopanan Tinggi Secara Islam.

A. Hassan adalah ulama besar sekaligus pendidik yang sudah teruji. Atas fakta ini, sangat beralasan jika kita mengikuti berbagai nasihatnya di karya-karya tulisnya. Khusus kepada murid dan guru, perlu kiranya mencermati dan mengamalkan nasihat A. Hassan dalam bagian bertajuk Kesopanan Manusia terhadap Orang Alim. Semoga Allah memudahkan. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni