
Rahmah El Yunusiyah tak sekadar tokoh sejarah. Ia cahaya yang menuntun perempuan muslimah hari ini untuk berani berpikir, bersuara, dan mencipta perubahan lewat iman dan ilmu.
Oleh Kholis Ernawati
Tagar.co – Namanya Rahmah El Yunusiyah. Ia bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah gema dari masa lalu yang terus mengetuk hati perempuan muslimah masa kini—termasuk saya.
Lahir pada 29 Desember 1900 di Padang Panjang dari keluarga ulama, Rahmah adalah putri dari Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah.
Ia wafat pada 26 Februari 1969, namun perjuangannya tak pernah mati. Justru semakin hidup dalam tiap keresahan, harapan, dan langkah perempuan hari ini yang ingin menjadikan iman dan ilmu sebagai pelita hidupnya.
Aku dan Cahaya dari Padang Panjang
Saya mengira cukup menjadi baik, cukup taat, cukup diam. Lalu suatu hari, saya membaca tentang Diniyah Puteri Padang Panjang—sekolah Islam khusus perempuan yang didirikan oleh seorang perempuan berusia 23 tahun, pada 1923—saat banyak yang percaya bahwa perempuan tak perlu sekolah tinggi.
Baca juga: Rahasia Cepat Paham Ilmu: Tiga Kunci Utama dari Langit
Hati saya bergetar. Bagaimana mungkin, hampir seabad yang lalu, ada perempuan yang lebih berani daripada diri saya hari ini—yang hidup di zaman dengan segala kemudahan akses? Apakah saya telah menyia-nyiakan warisan yang dititipkan untuk saya?
Rahmah: Nama yang Membelah Sunyi
Rahmah El Yunusiyyah adalah perempuan yang jauh melampaui masanya. Ia tidak hanya mendidik, tapi membebaskan. Ia tidak hanya berdakwah, tapi memperjuangkan.
Selain mendirikan Diniyah Puteri, ia memimpin organisasi Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), mendirikan Perserikatan Guru-Guru Poetri Islam, dan menjadi anggota DPR RI periode 1955–1958 mewakili Sumatera Tengah (Syarif & Rafki, 2018).
Ia memimpin rapat umum kaum ibu untuk menolak kawin paksa dan dominasi kolonial Belanda. Bahkan ketika dikenai denda oleh pemerintah kolonial karena keberaniannya, ia tidak gentar. Ia sadar: keberanian perempuan bukanlah kesalahan, melainkan keharusan (Tempo.co, 2023).
Ia juga mendirikan Khuttub Khannah, taman bacaan bagi rakyat kecil, menyuplai kebutuhan logistik bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di masa revolusi, dan menjadi bagian dari pendiri Partai Masyumi di Minangkabau (Syarif & Rafki, 2018).
Prestasi puncaknya datang dari Mesir, ketika Universitas Al-Azhar menganugerahkan gelar syekhah—pengakuan tertinggi terhadap keilmuan dan dedikasinya dalam dunia Islam.
Ia adalah satu-satunya perempuan Indonesia yang menerima gelar tersebut, yang lazimnya hanya diberikan kepada laki-laki, sebagai bentuk pengakuan atas komitmen dan kontribusinya terhadap pendidikan Islam perempuan (Mubadalah.id, 2022).
Jika Aku Berkaca pada Rahmah
Kadang saya bertanya dalam sepi, “Jika Rahmah hidup hari ini, apa yang akan ia lakukan?” Mungkin ia akan membangun pesantren digital, berbagi ilmu lewat YouTube, menginisiasi gerakan perempuan sadar literasi lewat media sosial. Tapi satu yang pasti—ia tidak akan diam.
Sementara saya?
Masih sering ragu menulis sesuatu yang benar.
Masih takut disebut sok alim ketika mengajak pada kebaikan.
Masih menyembunyikan identitas sebagai muslimah karena takut dianggap kolot.
Saya merasa ingin kembali duduk di bangku kecil Diniyah Puteri—bukan untuk belajar fikih semata, tapi untuk belajar menjadi perempuan beriman yang tidak pasrah pada batasan, melainkan melejitkan potensi dengan kasih dan keberanian.
Perempuan Muslimah Hari Ini, Dengarlah Suara Sejarah
Kita hidup di zaman yang disebut serba canggih, cepat, dan terbuka. Tapi mengapa masih banyak di antara kita—perempuan muslimah—yang merasa kecil, merasa tak pantas, merasa hanya sebagai pelengkap?
Mengapa suara kita masih sering kita bungkam sendiri, meski dunia kini memberi lebih banyak ruang?
Padahal jauh sebelum zaman ini, Rahmah El Yunusiyah telah menorehkan jejak keberanian. Ia telah membuktikan bahwa perempuan muslimah mampu berdiri di garis depan: memimpin, membangun, dan menerangi jalan bagi umat.
Ia tidak berjuang demi nama besar. Ia tidak mencari sorotan. Yang ia inginkan hanyalah agar kita—perempuan setelahnya—tidak lagi takut melangkah.
Rahmah tidak sedang meminta kita menirunya dalam bentuk yang sama. Ia hanya sedang berpesan lewat sejarahnya:
Bahwa menjadi muslimah bukan sekadar menjalani takdir, tapi menghidupkan harapan.
Menjadi muslimah adalah menghadirkan nilai di mana pun kita berada—di rumah, di ruang kelas, di lingkungan kerja, di komunitas, bahkan di dunia digital yang sering kali bising.
Setiap langkah kecil dengan niat yang besar adalah lanjutan dari perjuangannya. Dan kini, giliran kita yang menulis bab berikutnya.
Warisan Rahmah adalah Janji yang Harus Kita Tepati
Kini, Diniyah Puteri masih berdiri di Padang Panjang. Tapi ia bukan sekadar sekolah.
Ia adalah monumen spiritual bagi perempuan muslimah:
Bahwa iman dan ilmu tidak harus bertolak belakang.
Bahwa keteguhan tidak berarti kehilangan kelembutan.
Bahwa diam bukan pilihan ketika kebenaran harus disuarakan.
Kita mungkin tak sekuat Rahmah, tapi kita bisa belajar dari jejaknya.
Kita mungkin tak punya panggung besar, tapi kita bisa menjadikan setiap tempat sebagai ladang kebaikan.
Jika Rahmah Menyapa Kita Hari Ini
Saya membayangkan, dalam hening malam ketika semua hiruk-pikuk dunia mereda, sepucuk surat itu tiba—bukan di kotak pos, bukan di layar gawai, tapi langsung ke ruang batin perempuan-perempuan muslimah zaman ini.
“Wahai anak-anakku, jangan malu menjadi muslimah yang berpikir dan berbicara. Jangan takut mengajar dan memimpin. Jangan menyerah hanya karena langkahmu berbeda. Jika hatimu terpaut pada Allah, dan akalmu diasah oleh ilmu, maka seluruh dunia akan berubah dari tangan-tangan lembutmu. Dunia tak selalu ramah, tapi keteguhanmu adalah cahaya. Jadilah pelita bagi yang lain.”
Surat itu seperti bisikan lembut yang menggugah keberanian. Bukan hanya kata-kata, tapi doa yang mengendap dalam setiap keraguan kita.
Dan saya ingin menjawabnya dengan suara hati yang selama ini bersembunyi:
“Rahmah, terima kasih. Engkau tidak pernah mengenalku, tapi semangatmu telah membangunkanku dari tidur panjang ketakutan. Aku belum sekuat engkau, belum seberani engkau. Tapi aku ingin mencoba. Mencoba menjadi suara di tengah sunyi. Cahaya di tengah bimbang. Menjadi muslimah yang berdiri, bukan karena ingin dipuji, tapi karena ingin meneruskan doa-doa yang engkau titipkan dari zamanmu. Dengan cinta. Dengan ilmu. Dan dengan Allah yang tak pernah meninggalkan.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












