Rileks

Keajaiban Fosil Kayu di Gorontalo: Kisah Jutaan Tahun yang Tersimpan di Museum

83
×

Keajaiban Fosil Kayu di Gorontalo: Kisah Jutaan Tahun yang Tersimpan di Museum

Sebarkan artikel ini
Terletak di Desa Bongo, Gorontalo, Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia menyimpan fosil berusia jutaan tahun. Dikelilingi panorama indah dan nuansa sejarah, museum ini menjadi destinasi edukatif yang menggabungkan keajaiban geologi dan budaya Gorontalo.
Papan nama di depan pintu masuk Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia di Gorontalo (Foto infopublik.id)

Terletak di Desa Bongo, Gorontalo, Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia menyimpan fosil berusia jutaan tahun. Dikelilingi panorama indah dan nuansa sejarah, museum ini menjadi destinasi edukatif yang menggabungkan keajaiban geologi dan budaya Gorontalo.

Oleh Kholis Ernawati, dosen dan tinggal di Bekasi

Tagar.co – Sore itu, 5 Februari 2025, setelah menyelesaikan tugas asesmen untuk program studi bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, saya bersama seorang rekan asesor dari Jakarta diantar oleh pihak kampus mengunjungi sebuah tempat wisata unik. Kami berkunjung ke Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia.

Perjalanan dimulai dari pusat kota Kabupaten Gorontalo menuju Desa Bongo di Kecamatan Batudaa Pantai, yang juga dikenal sebagai Desa Wisata Religi Bubohu. Jalan menuju lokasi cukup berkelok melalui perbukitan, tetapi keindahan panorama Teluk Tomini di sisi kiri perjalanan membuat perjalanan terasa menyenangkan. Dengan jarak sekitar 10–15 km dari pusat kota, kami ditemani pemandangan laut biru yang memukau hingga tiba di desa.

Baca juga: Pesona Raja Lima: Keajaiban Taman Hutan Raya Sultan Adam Kalimantan Selatan

Sesampainya di Desa Bongo, suasana religius yang kental langsung terasa. Desa ini dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Bubohu sebelum berubah nama pada tahun 1937. Nama “Bongo” berarti “kelapa” dalam bahasa Gorontalo. Salah satu ikon utamanya adalah Masjid Walima Emas, sebuah masjid megah yang berdiri di atas bukit dan sering menjadi pusat peringatan Maulid Nabi Saw.

Saat kami berkunjung, museum tampak sepi karena bukan akhir pekan. Menurut keterangan pendamping, museum ini ramai dikunjungi saat acara Maulid Nabi Saw yang dipusatkan di Masjid Walima Emas, yang berjarak sekitar 1,6 km dari lokasi. Sayangnya, waktu dan medan perjalanan yang menantang membuat kami tidak sempat mampir ke masjid itu.

Terletak di Desa Bongo, Gorontalo, Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia menyimpan fosil berusia jutaan tahun. Dikelilingi panorama indah dan nuansa sejarah, museum ini menjadi destinasi edukatif yang menggabungkan keajaiban geologi dan budaya Gorontalo.
Penulis dengan latar belakang bangunan tradisional dan taman di dalam area museum. Tampak burung-burung merpati yang terbang ketika ada pengunjung yang melewatinya. (Tagar.co/Kholis Ernawati)

Indah dan Kaya

Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia didirikan untuk melestarikan fosil kayu berusia 3,6 hingga 18 juta tahun yang ditemukan di wilayah Geologi Lembar Tilamuta. Fosil-fosil ini telah melalui analisis ilmiah seperti X-ray Diffraction dan XRF (X-ray Fluorescence), sehingga museum ini tidak hanya menjadi tempat pelestarian geologi, tetapi juga pusat edukasi yang menarik bagi masyarakat dan peneliti.

Di dalam area museum, kami melihat fosil kayu yang dipamerkan secara apik di atas hamparan batu kecil. Di sekelilingnya terdapat taman hijau yang tertata rapi, dihiasi tanaman tropis dan pepohonan rindang. Bangunan tradisional berbentuk rumah khas Gorontalo dengan atap ijuk melengkapi suasana, memberikan kesan hangat dan ramah kepada pengunjung. Latar belakang perbukitan hijau, termasuk “Gunung Tidur”, sebuah bukit karst besar, menambah keindahan alami tempat ini.

Area museum juga dilengkapi dengan jalur pejalan kaki, kolam kecil, dan berbagai papan informasi yang menjelaskan tata tertib, sejarah fosil, dan warisan budaya lokal. Keberadaan puluhan burung jinak di taman memberikan kesan hidup, menyatu dengan harmoni alam.

Salah satu papan yang menjelaskan silsilah Raja-Raja Hulontalo I (Tagar.co/Kholis Ernawati)

Sejarah dan Budaya

Di area museum, kami melihat banyak fosil kayu yang dipamerkan dengan apik. Fosil-fosil ini, yang merupakan peninggalan geologi berusia 3,6 hingga 18 juta tahun, disusun rapi di atas hamparan bebatuan kecil, menciptakan kesan alami yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

Di sekitar area pameran, terdapat taman hijau yang tertata dengan baik, dihiasi dengan berbagai tanaman tropis dan pepohonan rindang, menambah kesejukan dan keindahan tempat ini. Suasana asri ini semakin lengkap dengan adanya bangunan tradisional berbentuk rumah Gorontalo, yang menggunakan atap ijuk dan material kayu sebagai ciri khas arsitektur lokal. Bangunan ini tidak hanya mencerminkan kearifan budaya lokal, tetapi juga memberikan kesan hangat dan ramah kepada pengunjung.

Di Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia, terdapat sejumlah elemen sejarah yang memberikan gambaran mendalam tentang perjalanan panjang Desa Bongo dan wilayah Gorontalo. Salah satu papan informasi mencatat keberadaan 17 kerajaan kecil (Linula) yang dahulu ada di wilayah ini, lengkap dengan nama-nama rajanya seperti Biawu, Bilinggata, dan Dumati. Informasi ini menyoroti keberagaman budaya dan struktur sosial yang menjadi bagian dari jaringan kerajaan besar di masa lampau, sekaligus memperkuat identitas sejarah desa.

Ada juga papan yang menjelaskan silsilah Raja Hulontalo I, Raja Wadipalapa (1385–1427), yang menampilkan garis keturunan kerajaan di Gorontalo. Informasi ini memberikan gambaran tentang hubungan kekeluargaan dan sistem politik yang menjadi fondasi sejarah daerah ini.

Dinding museum dihiasi foto-foto tua yang menggambarkan kehidupan masyarakat Desa Bongo pada masa lampau. Beberapa foto menunjukkan masyarakat mengenakan pakaian adat, sementara lainnya menampilkan bangunan tradisional desa, memberikan gambaran visual tentang perubahan sosial budaya yang telah terjadi.

Papan sejarah Pemerintahan Desa Bongo (Tagar.co/Kholis Ernawati)

Di dinding museum, pengunjung juga dapat melihat beberapa foto tua yang menggambarkan kehidupan masyarakat Desa Bongo pada masa lampau. Salah satu foto menunjukkan sekelompok masyarakat mengenakan pakaian adat, mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Foto lainnya menampilkan bangunan tradisional dan suasana desa, memberikan gambaran visual tentang transformasi wilayah ini selama berabad-abad. Kombinasi elemen-elemen ini menjadikan museum sebagai tempat yang tidak hanya menyimpan peninggalan geologi, tetapi juga melestarikan dan menceritakan sejarah budaya dan sosial Gorontalo.

Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia menawarkan pengalaman wisata yang lengkap, yaitu dari belajar geologi purba, memahami budaya lokal, hingga menikmati keindahan alam. Dengan perpaduan elemen edukasi, sejarah, dan rekreasi yang harmonis, museum ini menjadi destinasi yang cocok bagi semua kalangan, baik pelajar, peneliti, maupun keluarga. Museum ini tidak hanya menjadi tempat pelestarian fosil, tetapi juga warisan budaya yang memperkaya pengetahuan tentang Gorontalo. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni