
Tak hanya di laut dan tanah, mikroplastik kini ditemukan juga di udara dan air hujan. Para ilmuwan mengingatkan, partikel ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup maupun makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Oleh Kholis Ernawati, Dosen Universitas YARSI, Jakarta
Tagar.co – Beberapa waktu lalu, media nasional melaporkan hasil riset yang cukup mengejutkan: hujan di Jakarta ternyata mengandung mikroplastik. Dalam sampel yang diteliti, rata-rata ditemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari di kawasan pesisir Ibu Kota (Liputan6.com, 2025).
Fakta ini mengingatkan kita bahwa plastik yang kita gunakan sehari-hari bukan hanya menumpuk di darat atau laut, tetapi juga bisa terangkat ke udara lalu turun kembali lewat hujan.
Dari Jalanan ke Langit: Perjalanan Plastik yang Tak Terlihat
Pernahkah Anda membayangkan bahwa debu halus dari ban mobil yang bergesekan di jalan, atau serat kain dari baju sintetis yang kita kenakan, bisa berakhir di awan?
Penelitian internasional menunjukkan partikel plastik berukuran mikro dapat terbawa angin, bercampur dengan uap air, lalu ikut turun dalam bentuk hujan maupun salju.
Baca juga: PSEL Rp91 Triliun, Solusi Sampah yang Menyimpan Ancaman Baru bagi Lingkungan
Fenomena ini bahkan ditemukan di daerah terpencil, jauh dari kota besar. Itu artinya, polusi plastik sudah menjadi bagian dari siklus alam global. Hujan yang seharusnya menyegarkan kini juga bisa menjadi “kendaraan” bagi polusi tak kasatmata.
Apa Bahayanya bagi Kita?
Mikroplastik dapat masuk ke tubuh kita dengan cara sederhana: terhirup saat bernapas, tertelan bersama makanan atau air minum, bahkan menempel pada sayuran yang kita konsumsi.
WHO menyebut paparan jangka panjang terhadap mikroplastik bisa menimbulkan risiko kesehatan, mulai dari peradangan jaringan, stres oksidatif, hingga gangguan metabolisme (WHO, 2019).
Lebih jauh, mikroplastik juga bisa menjadi “taksi” bagi racun lain. Logam berat, pestisida, hingga bahan kimia tambahan seperti BPA dapat menempel pada permukaannya dan ikut terbawa masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan.
Dari sisi lingkungan, partikel yang jatuh bersama hujan akan meresap ke tanah, terbawa ke sungai, lalu ke laut. Siklus ini membuat mikroplastik hadir di mana-mana: di udara yang kita hirup, di air yang kita minum, bahkan di ikan dan garam yang kita makan.
Bagaimana Menghadapinya?
Berita ini memang mengkhawatirkan, tetapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ada beberapa langkah nyata yang bisa kita ambil sebagai masyarakat:
-
Kurangi plastik sekali pakai
Bawa botol minum sendiri, gunakan tas kain, dan pilih produk isi ulang. Semakin sedikit plastik sekali pakai, semakin kecil peluangnya berubah menjadi mikroplastik. -
Jangan membakar sampah plastik
Pembakaran terbuka melepaskan mikroplastik dan zat beracun ke udara. Solusinya: kelola sampah dengan memilah dan mendukung daur ulang. -
Pilih bahan alami
Saat membeli pakaian, pertimbangkan bahan katun atau linen. Tekstil sintetis lebih mudah melepaskan serat mikro ke lingkungan. -
Bijak berkendara
Rem mendadak dan ban aus dapat menghasilkan mikroplastik. Berkendara lebih tenang bukan hanya aman, tetapi juga lebih ramah lingkungan.
Hujan Plastik, Alarm untuk Kita Semua
Hujan adalah anugerah. Namun, ketika ia membawa partikel plastik, kita harus sadar bahwa masalah sampah kini telah menembus batas darat, laut, bahkan udara. Mikroplastik menjadi simbol dari gaya hidup konsumtif manusia modern yang tak lagi bisa ditutupi.
Jika hujan di Jakarta mengandung mikroplastik, maka kita tidak punya pilihan selain bergerak bersama: masyarakat mengurangi penggunaan plastik, industri berinovasi menciptakan bahan ramah lingkungan, dan pemerintah menegakkan aturan yang tegas.
Karena pada akhirnya, setiap plastik yang kita buang bisa kembali kepada kita — bahkan lewat setetes hujan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












