Feature

Zakarija Achmat, Dosen UMM di Balik Sukses EMT Muhammadiyah Lolos Verifikasi WHO

68
×

Zakarija Achmat, Dosen UMM di Balik Sukses EMT Muhammadiyah Lolos Verifikasi WHO

Sebarkan artikel ini
Zakarija Achmat (kanan berkacamata) bersama tim Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah berfoto usai verifikasi lapangan WHO di Aula Masjid KH Sudja’, Bantul, Yogyakarta, Ahad (19/10/2025). (Foto Humas UMM)

Di balik keberhasilan EMT Muhammadiyah menjadi tim medis Indonesia pertama yang diakui WHO, ada peran strategis Zakarija Achmat, dosen UMM yang menjaga kesehatan mental tim di garis depan.

Tagar.co — Sejarah baru tercipta dalam kiprah kemanusiaan Muhammadiyah. Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) resmi menorehkan prestasi internasional setelah Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah dinyatakan lulus verifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pengumuman bersejarah itu disampaikan pada Ahad (19/10/25) di Aula Masjid KH Sudja’, Bantul, Yogyakarta.

Baca juga : Catat Sejarah, EMT Muhammadiyah Jadi Tim Medis Darurat Internasional Pertama Indonesia Terverifikasi WHO

EMT Muhammadiyah berhasil memperoleh pengakuan sebagai EMT Type 1 Fixed, yaitu tim medis darurat yang memberikan layanan medis dasar dan kegawatdaruratan secara menetap di satu lokasi.

Dengan keberhasilan ini, Muhammadiyah menjadi organisasi pertama di Indonesia yang memiliki EMT terverifikasi WHO, sekaligus tercatat sebagai anggota ke-63 dalam jaringan EMT global.

Namun di balik keberhasilan tersebut, terdapat sosok penting yang berperan menjaga kekuatan mental dan kesiapan tim: Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga menjabat Koordinator Bidang Pelatihan Penanggulangan Bencana MDMC PP Muhammadiyah.

Baca Juga:  Menghidupkan Kembali Budaya Bertanya di Kelas

Peran Psikolog: Menjaga Kesiapan Jiwa di Tengah Krisis

Zakarija menjelaskan, keterlibatan psikolog dalam tim EMT bukan pelengkap, melainkan bagian vital dalam memastikan psychological well-being seluruh anggota.

“Sebelum berangkat, setiap anggota harus melalui proses screening psikologis untuk memastikan kesiapan mereka menghadapi situasi bencana yang berat dan tidak menentu. Setelah kembali, kami juga melakukan asesmen untuk memastikan kondisi mental mereka tetap stabil,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM, Jumat 24/10/25).

Selain melakukan pemantauan psikologis, Zakarija turut menyusun standar operasional prosedur (SOP) bidang kesehatan mental yang menjadi bagian dari dokumen verifikasi WHO.

Ia juga menyiapkan panduan triase pasien dan protokol pelayanan Psychological First Aid (PFA) bagi masyarakat terdampak.

“Karena jumlah psikolog di tim terbatas, kami juga melatih seluruh anggota agar mampu memberikan bantuan psikologis awal di lapangan,” tambahnya.

Uji Ketat WHO dan Pengakuan Global

Proses verifikasi WHO terhadap EMT Muhammadiyah berlangsung dalam dua tahap: pemeriksaan dokumen dan verifikasi lapangan pada 18–19 Oktober 2025.

Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal

Semua komponen diuji secara detail, mulai dari SOP, kelengkapan peralatan, hingga instrumen asesmen seperti DASS-21.

Tujuannya memastikan bahwa seluruh standar internasional benar-benar diterapkan di lapangan.

Hasilnya, EMT Muhammadiyah dinyatakan memenuhi seluruh kriteria. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafiq Mughni, menyebut capaian ini sebagai “bukti nyata profesionalitas dan komitmen Muhammadiyah dalam bidang kemanusiaan global.”

Awal dari Tanggung Jawab Baru

Bagi Zakarija, keberhasilan ini bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Dengan verifikasi WHO ini, EMT Muhammadiyah harus siap jika sewaktu-waktu ditugaskan di kawasan Asia-Pasifik untuk misi kemanusiaan lintas negara,” ungkapnya.

Ia berharap, capaian tersebut dapat menginspirasi semakin banyak pihak untuk terlibat dalam misi kemanusiaan yang digerakkan Muhammadiyah.

Pengakuan internasional ini juga menjadi hadiah istimewa menjelang Milad Ke-113 Muhammadiyah, sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan gerakan sosial-keagamaan mampu melahirkan karya nyata bagi kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun global. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni