
Dari Padang Panjang ke Kairo, Rahmah El Yunusiyah menoreh sejarah. Pendidik tangguh ini bukan hanya melahirkan sekolah perempuan, tetapi juga diakui dunia Islam sebagai Syekhah dari Al-Azhar. Sangat tepat pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Oleh M. Anwar Djaelani
Tagar.co – Rahmah El Yunusiyah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025. Dia memang seorang mujahidah. Dengan demikian, gelar itu, insyaallah, anugerah yang tepat.
Baca juga: Soeharto hingga Marsinah Dapat Gelar Pahlawan Nasional
Rahmah El Yunusiyah aktif dalam pergerakan nasional, sebelum dan sesudah kemerdekaan. Sejak masa penjajahan, dia giat memajukan pendidikan, terutama untuk meningkatkan derajat kaum perempuan sesuai dengan tuntunan Islam. Muridnya banyak yang sukses. Model pendidikannya bahkan diadopsi Universitas Al-Azhar Mesir.
Tak Pernah Diam
Rahmah El Yunusiyah lahir pada 20 Desember 1900 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Dia berasal dari keluarga terpelajar dan religius. Ayah Rahmah, Muhammad Yunus bin Imanuddin, adalah seorang hakim agama dan ahli ilmu falak. Kakeknya seorang ulama.
Rahmah hanya sempat menempuh pendidikan formal selama tiga tahun. Saat berusia 15 tahun, dia belajar bahasa Arab dan pelajaran lainnya di Diniyah School serta kepada kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid.
Baca juga: Menghidupkan Rahmah dalam Diri: Ketika Sejarah Menyapa Hati Perempuan Muslimah
Pada usia remaja itu, setiap sore dia rutin mengaji kepada Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka) di Surau Jembatan Besi, Padang Panjang. Dia belajar berbagai hal seperti bahasa Arab, fikih, ushul fikih, dan kedudukan wanita.
Dia pun menimba ilmu kepada sejumlah ulama terkemuka lainnya seperti Tuanku Muda Abdul Hamid Hakim (pimpinan Sekolah Thawalib Padang Panjang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Abdul Latif Rasjidi, dan Syekh Daud Rasjidi.
Tak hanya ilmu agama, Rahmah juga mempelajari berbagai keterampilan. Dia pernah belajar kebidanan, olahraga (termasuk senam), cara bertenun tradisional, dan jahit-menjahit.
Seluruh ilmu dan pengalaman Rahmah turut memengaruhi metode pendidikan di Diniyah Putri School, sekolah yang didirikannya pada 1 November 1923. Sekolah khusus perempuan itu berdiri antara lain berkat dukungan kakaknya, Zaenuddin Labay, dan teman-teman perempuannya di Persatuan Murid-Murid Diniyah School (PMDS).
Rahmah mendirikan Diniyah Putri School karena gelisah melihat perempuan di daerahnya belum mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi Rahmah, pendidikan perempuan harus menjadi sarana agar mereka dapat berperan dengan baik di keluarga maupun di tengah masyarakat.
Pada awalnya, muridnya berjumlah 71 orang, terdiri dari ibu-ibu muda. Pelajaran yang diberikan meliputi ilmu agama dan tata bahasa Arab. Belakangan, sekolah itu menerapkan penggabungan pendidikan agama, pelajaran umum, dan keterampilan. Misalnya, bertenun dan jahit-menjahit juga masuk dalam kurikulum.
“Diniyah Putri School ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya dibanding kaum lelaki… Inilah yang menyebabkan terjauhnya perempuan Islam dari penerangan agamanya sehingga menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan,” kata Rahmah (Mantovani, thisisgender.com).
Baca juga: Menggali Ibrah di Situs-Situs Bersejarah Sumatra Barat
Pendirian Diniyah Putri School tampaknya sesuai dengan cita-cita Rahmah bahwa wanita Indonesia harus memiliki kesempatan penuh untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan kodratnya, sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan pendidikan yang dirumuskan Rahmah adalah agar wanita sanggup menjadi ibu dan pendidik yang cakap, aktif, dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa.
Rahmah adalah pelopor pendidikan muslimah di Indonesia—bahkan di dunia. Langkahnya sangat maju karena tak hanya memberikan pelajaran agama dan umum, tetapi juga mengajarkan berbagai keterampilan yang diperlukan oleh muslimah sebagai ibu yang mandiri.
Pada 1926, gempa hebat melanda Sumatra Barat. Sekolah yang baru dirintis Rahmah hancur, tetapi dia tegar dan segera bangkit. Dengan bahan bambu, berdirilah kembali bangunan dua lantai berukuran 12 x 7 meter persegi.
Usaha itu dirasa belum cukup. Bersama pamannya, Rahmah menjelajahi Sumatra Utara, Aceh, bahkan menyeberangi Selat Malaka menuju Malaysia untuk mengumpulkan dana. Upaya itu berbuah hasil: terkumpul sekitar 1.569 gulden.
Sekolah Rahmah terus berkembang. Pada 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Syekh Abdurrahman Taj, berkunjung ke Diniyah Putri School. Ia tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan di sekolah tersebut. Tak lama kemudian, Al-Azhar membuka pendidikan khusus perempuan bernama Kulliyyat Al-Banat, yang sebelumnya belum dimilikinya.

Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan Rahmah, pada 1957 Al-Azhar menganugerahinya gelar Syekhah (guru besar perempuan) yang belum pernah diberikan sebelumnya. Gelar ini istimewa karena hanya diberikan kepada orang yang memiliki keahlian tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman.
Sekadar contoh, dua di antara banyak anak didiknya yang berhasil adalah Aisyah Aminy dan Aisyah Gani. Aisyah Aminy adalah politisi dari salah satu partai Islam di Indonesia dan sangat terkenal pada zamannya. Sementara itu, Aisyah Gani pernah menjabat sebagai Menteri Kebajikan Masyarakat di Malaysia.
Rahmah tak hanya berkonsentrasi pada bidang pendidikan. Di kancah politik (baca: pergerakan nasional), dia aktif menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Ia bersama rekan-rekannya menolak pengerahan perempuan Indonesia—terutama di Sumatra Tengah—yang diperlakukan sebagai jugun ianfu (perempuan penghibur) oleh tentara Jepang.
Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dapur asrama dan harta miliknya diserahkan untuk pembinaan TKR, yang anggotanya kebanyakan berasal dari Laskar Rakyat dan masih berusia muda. Rahmah juga mengayomi barisan pejuang lainnya seperti Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah.
Rahmah pernah dipenjarakan Belanda dan baru dibebaskan pada 1949 setelah pengakuan kedaulatan Indonesia. Pada 1952–1954, Rahmah menjadi anggota Pimpinan Pusat Masyumi dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementra untuk periode 1955–1958. Ia juga tercatat pernah menentang Sukarno saat sang presiden dekat dengan kalangan komunis.
Rahmah telah berjuang di bidang pendidikan. Ia telah berperan dalam usaha merebut dan mengisi kemerdekaan. Setelah Rahmah El Yunusiyah wafat pada 26 Februari 1969, kehadiran “Rahmah-Rahmah” berikutnya sangat ditunggu umat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni













