
Sumatra Barat tak hanya indah, tapi juga kaya sejarah—warisan pemikiran dan perjuangan para tokoh bangsa yang menginspirasi.
Ibrah di Situs-Situs Bersejarah Sumatra Barat; Oleh M. Anwar Djaelani, peminat sejarah dan penulis 13 buku.
Tagar.co – Pada 24-26 Februari 2022, saya berkesempatan menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di di Hotel Pangeran, Padang, Sumatra Barat.
Kamis 24 Februari 2022 pagi kami berangkat dari Bandara Juanda Surabaya. Adapun yang dimaksud kami adalah tiga orang pengurus DDII Jatim, yaitu Farhur Rohman (Ketua), Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan), dan saya (Wakil Ketua Bidang Pemikiran Islam).
Di Padang, Kamis itu menjelang Magrib, dari Hotel Pangeran peserta Rakornas ke rumah dinas Gubernur Sumatera Barat. Hal ini karena selepas makan malam akan dilakukan pembukaan rakornas oleh Gubernur, di rumah dinasnya. Sang Gubernur, Mahyeldi Ansharullah, menyambut kami ramah. Dia lahir di Bukittinggi 25 Desember 1966.
Baca juga: Wisata Religi Viral di Pantura Gresik: Masjid Moedhar Arifin yang Bikin Takjub!
Jumat pagi 25 Februari 2024 acara Rakornas mulai berlangsung di Hotel Pangeran. Acara baru saja dibuka, semua peserta kaget karena ruang bergoyang cukup terasa. Benar, gempa!
Panitia meminta peserta keluar ruangan, untuk menjaga keamanan masing-masing. Setelah dirasa aman, kami masuk lagi dan melanjutkan acara. Belakangan kami mendengar dan membaca media: Telah terjadi gempa bumi pada Jumat 25 Februari 2022 pukul 08:39:29 WIB dengan magnitude 6,2. Adapun pusat gempa bumi di Pasaman Sumatra Barat.
Masjid Cakep
Saat di Padang, kami berkesempatan salat berjemaah di sebuah masjid cantik. Kala kami ke sana, namanya adalah Masjid Raya Sumatra Barat. Lokasinya tak jauh dari hotel kami, sekitar 1,5 km. Dua kali kami berjemaah Subuh di masjid itu dengan berjalan kaki, Sabtu dan Ahad, 26 dan 27 Februari 2022.
Saat tulisan ini dibuat (Februari 2025), nama masjid tersebut telah diganti menjadi Masjid Raya Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Itu, dilakukan pada 1 Muharam 1446 yang bertepatan 7 Juli 2024.
Nama Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860-1916) memang pantas dipilih karena sangat menginspirasi. Hal itu, tidak hanya bagi warga Minangkabau atau Sumatra Barat saja tapi bagi bangsa ini. Sang ulama yang lahir di Bukittinggi itu adalah Imam dan Guru Besar di Masjid Al-Haram Makkah.
Muridnya banyak yang lalu menjadi ulama berpengaruh, di antaranya adalah Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul (ayah Hamka). Juga, Jamil Jambek (ahli falak), Abdullah Ahmad (ulama pembaharu pendidikan Islam), Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Hasyim Ay’ari (pendiri NU).
Masjid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi terletak di Jalan Khatib Sulaiman Kota Padang, Sumatra Barat. Setidaknya ada tiga poin menarik dari masjid itu: Pertama, salah satu masjid terbesar di Indonesia. Sementara, di Sumatra Barat, adalah masjid terbesar. Di dalamnya dilengkapi berbagai fasilitas seperti perkantoran Baznas Sumatra Barat.
Kedua, masjid dengan arsitektur indah. Pada bagian dinding ruang utama masjid, dipenuhi ukiran interior khas adat Minangkabau dan kaligrafi. Juga, terdapat mihrab yang bentuknya menyerupai batu Hajar Aswad dan terdapat ukiran kaligrafi Asmaul Husna. Di dalam masjid tidak ada tiang pada bagian tengah ruangan, sehingga tampak sangat lapang.
Ketiga, dari luar fisik masjid tampak ”rasa Minangkabau”. Atap masjid berbentuk gonjong. Ini merupakan representasi paling ikonik dari warisan arsitektur Minangkabau.

Niat Belajar
Sampai acara Rakornas ditutup pada Sabtu 26 Februari 2022, alhamdulillah, tak ada gempa susulan. Sebagian peserta langsung pulang ke daerah asal masing-masing. Hal ini berbeda dengan kami (saya dan Fathur Rohman), karena kami memutuskan untuk rihlah ke beberapa tempat bersejarah senyampang berada di Sumatra Barat. Sementara, teman kami-yaitu Adil Mastjik-tidak ikut rihlah karena harus segera pulang ke Surabaya untuk sebuah keperluan yang tak bisa ditunda.
Dengan kendaraan sewaan, pada Ahad 27 Februari 2022 kami berangkat dari Padang sekitar pukul 08.30. Kami bertiga, yaitu Fathur Rohman, Hadi Nur Ramadhan, dan saya. Orang kedua yang saya sebut adalah pengurus DDII Pusat. Dia, yang tinggal di Depok adalah pendiri Rumah Sejarah Indonesia.
Tujuan utama kami, jika bisa, tiga tempat:
- Rumah kelahiran M. Natsir di Alahan Panjang, Solok.
- Sumatera Thawalib di Padang Panjang.
- Maninjau, tempat lahir Buya Hamka.
Spirit Natsir
Kami pun sampai di rumah kelahiran Natsir di Alahan Panjang, Solok. Siapa Natsir? Di negeri ini, Natsir (1908-1993) adalah tokoh bernama harum. Dia Pahlawan Nasional. Dia, dengan Mosi Integral-nya pada 3 April 1950, dikenal sebagai Bapak NKRI. Dia Perdana Menteri RI 1950-1950.
Terutama bagi umat Islam, nama Natsir lekat dengan Masyumi yaitu partai Islam terbesar di zamannya. Setelah Masyumi terpaksa membubarkan diri di masa Orde Lama, Natsir mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) pada 26 Februari 1967 di masa Orde Baru.
Lebih dari itu, ketokohannya bahkan berskala dunia. Lelaki sederhana itu pernah mendapat amanah sebagai Wakil Presiden World Muslim Congress yang bermarkas di Karachi Pakistan, 1967-1993. Juga, anggota Majelis Ta’sisi Rabithah Alam Islami yang berpusat di Makkah, Saudi Arabia, 1969-1993. Pun, anggota Dewan Masjid se-Dunia yang berpusat di Makkah, 1976-1993.
Di rumah kelahiran Natsir kami sekitar 90 menit. Dijamu oleh cucu pemilik rumah, Tuti Murniati, yang berusia 69 tahun. Kakek dia, Kamal Sutan Rajo Ameh, berteman baik dengan orang tua Natsir yang berasal dari Bukittinggi. Ya, rumah itu dulu dipinjamkan oleh si pemilik kepada ayah Natsir yang keduanya bersahabat. Di rumah sederhana itulah Natsir lahir.

Rahmah El-Yunusiah
Sebelum Zuhur, dari Alahan Panjang kami berangkat menuju Padang Panjang. Kami sampai kala sudah masuk waktu Asar. Kami salat jamak qasar takhir duhur-asar di Masjid Agung Ashliyah di Pasar Usang Padang Panjang.
Setelah itu, kami menyeberang jalan, bertemulah kami dengan Museum Rahmah El-Yunusiah. Sayang, saat itu museum tutup karena hari Ahad. Museum dibuka Senin sampai Jumat.
Museum itu adalah rumah kelahiran Rahmah El-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyyah Putri – Padang Panjang. Museum itu bisa memberi inspirasi bagi siapapun dan terutama perempuan masa kini. Bahwa, Rahmah El-Yunusiyah yang lahir pada 1900 dan tumbuh di masa penjajahan memiliki pemikiran dan perjuangan yang luar biasa.
Dari kaca pintu, kami hanya bisa melongok bagian ruang utama dari museum itu. Hal yang pasti, di dalamnya banyak informasi dan dokumentasi kegiatan Rahmah El-Yunusiyyah (bersama Perguruan Diniyyah Puteri). Ada barang-barang peninggalan Rahmah El-Yunusiyah seperti buku-buku dan mesin tik.
Rahmah El-Yunusiah berguru ke banyak ulama, termasuk kepada Dr. Haji Abdul Karim Amrullah. Pada 1 November 1923, dia mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri. Sekolah ini berhasil, dengan salah satu indikatornya berupa banyak muridnya yang sukses. Di antaranya, Aisyah Gani yang pernah menjadi Menteri Kebajikan Masyarakat di Malaysia. Muridnya yang lain adalah Rasuna Said (1910-1965) sang Pahlawan Nasional.
Di belakang hari, Nurhayati Subakat juga lulusan Perguruan Diniyyah Puteri. Dia pendiri PT Paragon Technology and Innovation yang bergerak di bidang kosmetik. Salah satu brand perusahaan Paragon adalah Wardah, sebagai kosmetik halal yang sudah luas diakui oleh konsumen.
Rahmah El-Yunusiah pelopor pendidikan khusus muslimah. Sekolah yang didirikannya berhasil, sedemikian rupa menarik perhatian Universitas Al-Azhar Mesir yang kala itu belum punya perguruan khusus putri.
Pada 1955 Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Syekh Abdurrahman Taj, berkunjung ke Perguruan Diniyyah Puteri. Dia tertarik dengan sistim pembelajaran khusus yang ada di sekolah tersebut. Tak lama setelah itu, Universitas Al-Azhar membuka pendidikan khusus perempuan bernama Kulliyyat Al-Banat yang memang belum dimilikinya.
Mengapresiasi perjuangan Rahmah El-Yunusiah, pada 1957 Universitas Al-Azhar menganugerahinya gelar Syaikhah (Guru Besar Wanita). Gelar ini istimewa karena hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman.
Rahmah El-Yunusiah yang wafat pada 1969 adalah pejuang dalam arti luas. Dia aktif di pergerakan nasional sebelum dan setelah kemerdekaan. Terutama, dia pemikir sekaligus praktisi pendidikan yang sangat berhasil.
Sumatra Thawalib
Bisa dibilang, Sumatra Thawalib bersebelahan dengan Museum Rahmah El-Yunusiah di Padang Panjang. Sumatra Thawalib adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Abdul Karim Amrullah (1879-1945). Dia, yang merupakan ayah Hamka, adalah pendidik dan pemikir besar.
Setelah sebelumnya pemikiran-pemikirannya disebarkan melalui forum-forum seperti pengajian, ceramah-ceramah, dan tulisan-tulisan di media Al-Munir, Abdul Karim Amrullah lalu mendirikan Sumatera Thawalib pada 1918. Ini, sekolah Islam modern pertama di Indonesia.
Para pelajarnya tak hanya berasal dari sekitar Padang Panjang atau Sumatera Barat saja, melainkan juga daerah lain di seluruh pelosok Indonesia. Di antara yang pernah belajar di Sumatera Thawalib dan kemudian menjadi ulama dan tokoh masyarakat adalah Hamka, AR Sutan Mansur, dan Duski Samad. Juga, Imam Zarkasyi sang pendiri Pondok Modern Gontor. Pun, Zainal Abidin Ahmad sang profesor, penulis, dan jurnalis.
Mengingat keberhasilannya di bidang pembaharuan dan di aspek pendidikan agama khususnya, Abdul Karim Amrullah dianugerahi gelar Dr. (HC) oleh Universitas Al-Azhar Kairo – Mesir pada 1926. Prestasi itu sangat membanggakan karena tercatat sebagai orang Indonesia terawal yang memperoleh gelar doktor kehormatan dari universitas terkemuka dan tertua di dunia itu.

Museum Bung Hatta
Dari Padang Panjang kami ke Bukittinggi dan sampai sekitar pukul 17.00. Dengan situasi seperti itu tak mungkin kami ke Maninjau, tempat Hamka lahir. Terlebih, karena untuk ke sana harus melewati Kelok 44.
Sore itu, kami ke Museum Bung Hatta. Dulu, museum tersebut adalah rumah kelahiran Bung Hatta. Alamatnya, di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi. Di situ, dia melewati masa kecilnya sampai berusia 11 tahun.
Sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta. Begitupun, tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

Jam Gadang
Terakhir, kami ke Jam Gadang yang beken itu. Mengingat hari sudah malam dan harus kembali ke Padang, kami hanya ”memutari” Jam Gadang itu tanpa turun dari mobil dan tanpa mengambil satu fotopun.
Jam Gadang itu, bukan hanya penanda waktu dalam arti sesungguhnya. Melainkan, juga penanda zaman. Setelah di alam merdeka, Jam Gadang kemudian ”berkopiah”-kan gonjong, arsitektur khas Minangkabau. Sebelumnya, ”kopiah”-nya macam-macam tergantung siapa yang berkuasa (https://www.rri.co.id).

Pulang, Alhamdulillah!
Dari Jam Gadang di Bukittinggi kami pulang ke Padang. Sampai di Padang sudah di tengah malam. Kami pun istirahat.
Esoknya, dengan pesawat kami pulang ke Surabaya pukul 08.25 dan sampai di Bandara Juanda sekitar pukul 14.30. Terlihat lama, karena kami harus transit di Jakarta. Begitu juga, saat berangkat sebelumnya, Surabaya-Padang harus transit di Jakarta.
Alhamdulillah, pulang-pergi selamat dan mendapat banyak tambahan pengetahuan. Meski demikian, perjalanan ini masih menyisakan satu ”mimpi” lama yang belum menjadi kenyataan: Mengunjungi Maninjau, tempat lahir Hamka. Di sana, ada Museum Hamka.
Memang, kata Baihaqi-pengemudi mobil yang mengantar kami-, setidaknya perlu tiga hari untuk mengunjungi situs-situs bersejarah di Sumatera Barat secara agak lengkap. Dengan itu insya Allah bisa mengunjungi rumah kelahiran Pahlawan Nasional Agus Salim di Kotogadang, rumah keliharan Prof. Mahmud Yunus (ulama besar dan ahli pendidikan) di Batu Sangkar, dan lain-lain. Semoga Allah beri kesempatan di lain waktu, amin. (#)
Sidoarjo, 19 Februari 2025
Pemyunting Mohammad Nurfatoni













