Opini

Mengagungkan Budaya, Membumikan Agama: Merajut Harmoni Menuju Peradaban Luhur

34
×

Mengagungkan Budaya, Membumikan Agama: Merajut Harmoni Menuju Peradaban Luhur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/freepik.com premium

Dengan memahami titik temu ini, kita dapat mengagungkan budaya tanpa mencederai ajaran agama, sekaligus membumikan agama dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan identitas budaya yang kita banggakan

Mengagungkan Budaya, Membumikan Agama; Opini oleh Maria Hanim, Guru SMK Muhammadiyah 2 Gresik

Tagar.co – Indonesia, negeri kepulauan dengan mozaik budaya dan tradisi, adalah anugerah yang tak ternilai. Di tengah keragaman yang mempesona ini, agama hadir laksana kompas, memberi arah dan pedoman hidup bagi masyarakat untuk menuju kebaikan.

Namun, pertanyaan yang kerap menggantung adalah: bagaimana kita, sebagai bangsa yang majemuk, mampu menyandingkan kekayaan budaya yang diwariskan leluhur dengan nilai-nilai luhur agama yang kita anut?

Nurcholish Madjid, dalam bukunya Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, menyatakan, “Budaya adalah ekspresi nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh manusia, dan agama menjadi sumber nilai-nilai tersebut.” Pemikiran ini menyiratkan bahwa budaya dan agama, pada hakikatnya, memiliki muara yang sama: membentuk manusia yang beradab, bermartabat, dan berakhlak mulia.

Baca juga: Mencetak Wirausaha Muda dengan Bazar Proyek Penciptaan Bisnis

Baca Juga:  Wakaf 12 Hektare Jadi Fokus Syawalan Muhammadiyah Benjeng

Ambil contoh falsafah Jawa memayu hayuning bawana, yang mengajarkan tentang pentingnya menjaga harmoni dan keseimbangan alam semesta. Falsafah ini sejalan dengan spirit ajaran agama yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, maupun alam sekitar.

Dengan memahami titik temu ini, kita dapat mengagungkan budaya tanpa mencederai ajaran agama, sekaligus membumikan agama dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan identitas budaya yang kita banggakan.

Menemukan Titik Temu: Dialog dan Pendidikan sebagai Jembatan

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa gesekan antara tradisi budaya dan ajaran agama terkadang tak terhindarkan. Sebagian kalangan mungkin menganggap praktik budaya tertentu bertentangan dengan nilai-nilai agama, sementara di sisi lain, ada yang memandang agama sebagai penghalang bagi ekspresi budaya.

Di sinilah kearifan dan kebijaksanaan kita diuji. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Gus Dur, “Agama dan budaya tidak boleh saling meniadakan, tetapi harus saling menghidupkan.”

Untuk mencapai titik temu, dialog yang konstruktif antara para pemuka agama dan tokoh budaya menjadi sebuah keniscayaan. Ruang dialog ini harus dibuka selebar-lebarnya agar kedua belah pihak dapat saling memahami, menghargai, dan menemukan solusi terbaik.

Baca Juga:  Lazismu Benjeng Bantu Pemulihan Masjid Al-Furqon dan Dukung Dakwah PPEM

Selain dialog, langkah konkret untuk menyelaraskan budaya dan agama dapat dimulai dari pendidikan, sebagai hulu dari peradaban. Sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat memegang peranan krusial dalam menanamkan nilai-nilai luhur budaya yang selaras dengan ajaran agama kepada generasi penerus.

Sebuah artikel di The Jakarta Post (2020) berjudul “Cultural Harmony in Religious Practices” menyebutkan, “Festival budaya yang mengintegrasikan nilai-nilai agama tidak hanya memperkaya tradisi tetapi juga memperkuat moralitas generasi muda.”

Sebagai contoh nyata, kita dapat menyelenggarakan festival seni yang memadukan tarian tradisional dengan pesan-pesan moral atau religius. Melalui pendekatan yang kreatif dan edukatif seperti ini, anak-anak dapat memahami dan menghayati nilai-nilai budaya dan agama sebagai satu kesatuan yang utuh dan harmonis.

Merajut Harmoni dalam Keseharian

Mengagungkan budaya berarti melestarikan, mengembangkan, dan menghidupkan tradisi serta nilai-nilai kearifan lokal sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan sebagai identitas bangsa.

Sementara itu, membumikan agama berarti mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan moral ke dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, menjadikannya sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Ketika keduanya berjalan beriringan, selaras dan harmonis, maka akan terwujud masyarakat yang tidak hanya kaya secara tradisi, tetapi juga unggul dalam moralitas dan spiritualitas.

Baca Juga:  Dua Skema Kurban Jadi Fokus Rakorsus Lazismu Gresik

Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa budaya dan agama terus hidup berdampingan secara harmonis, saling menguatkan, dan saling melengkapi. Ki Hajar Dewantara, dalam bukunya Pendidikan dan Kebudayaan, pernah berpesan, “Kebudayaan adalah buah dari budi manusia, dan budi yang luhur adalah inti dari agama.”

Melalui sinergi antara budaya yang berakar pada nilai-nilai agama dan agama yang membumi dalam kehidupan budaya, kita sedang merajut fondasi yang kokoh bagi bangsa yang kuat, bermartabat, dan berperadaban luhur. Inilah warisan terbaik yang dapat kita berikan kepada generasi mendatang.

Penyunting Mohammad Nurfatoni