
Menemukan ketenangan melalui seni di Kano Art Space Gresik, peserta menyalurkan emosi dengan teknik pottery dan painting dalam suasana hangat yang mendukung kreativitas serta pengembangan potensi diri.
Tagar.co — Ahad pagi, jarum jam menunjukkan pukul 09.55 WIB. Pintu Studio 2 Hos Cafe terbuka lebar, menyambut para peserta kelas seni yang telah memesan tempat. Di dalam ruangan, deretan meja dan kursi tertata rapi. Nuansa bersih bersanding dengan pemandangan berbagai karya seni yang terpajang cantik. Mulai dari lukisan, cangkir, keramik, hingga buket bunga yang memanjakan mata.
Mauliyanah, S.Sn., sang mentor, menyambut dua peserta pagi itu dengan senyum hangat yang lebar. Ia melangkah masuk ke salah satu ruangan membawa dua gelas air. Bukan sebagai minuman melainkan media mencuci kuas. Dengan cekatan, ia juga menghadirkan gelas berisi kuas berbagai ukuran, alat ukir dengan ujung beragam, palet warna, serta tatakan kayu persegi sebagai alas kerja untuk masing-masing peserta.
Bahan utama pun tiba di atas meja. Tryas Ngudi Lestari, S.Pd. memilih media pouch atau tepak kain, lengkap dengan pilihan model ritsleting atau kerut. Sementara itu, rekannya, Sayyidah Nuriyah, S.Psi., menerima segenggam stoneware clay. Tepat pukul 10.05 WIB, petualangan artistik mereka resmi bermula (11/1/2026).
Sayyidah memulai dengan pembuatan kerangka utama kepala orangutan selama pukul 10.00 hingga 10.35 WIB. Fokus utama terletak pada pembentukan tonjolan dahi, rambut, dan cheekpad. Kemudian, ia mendetailkan bagian mata, hidung, dan mulut hingga pukul 10.55 WIB sebelum mengeringkannya selama 5 menit menggunakan hot air gun. Sesi ini menuntut ketelitian tinggi agar karakter yang mereka bentuk tampak hidup.
Empat puluh lima menit berikutnya, Sayyidah lanjut mengukir kelokan rambut. Lalu ia melanjutkan sesi mewarnai dengan cat akrilik hingga pukul 12.45 WIB.
Maul—sapaan akrab Mauliyanah—sangat informatif. Ia mengajarkan cara menempel clay dengan air sebagai lemnya. Ia juga turut membantu Sayyidah pada proses mengeringkan dengan hot air gun. Teknik melukis dari gelap-terang juga ia ajarkan. Ia pun membantu Tryas di sesi akhir, mengolesi lukisannya dengan cairan khusus agar cat tidak mudah luntur.

Terapi Sabar di Balik Sebongkah Tanah
Sesi pertama yang seharusnya berakhir pukul 12.00 WIB, ternyata molor hingga 45 menit. Namun, keramahan Maul membuat suasana tetap santai. Ia berkenan memberikan bonus waktu agar peserta bisa merampungkan karyanya dengan sempurna.
“Wah, tidak terasa ya. Padahal tadi sudah saya rencanakan waktunya pas,” ujar Sayyidah sambil menatap karyanya yang hampir jadi. Ia setengah tidak menyangka pada pengalaman perdana ini langsung berhasil membentuk kepala orangutan.
Bagi Sayyidah, mengikuti kelas pottery di Kano Art Space bukan sekadar mengisi waktu luang. Ia mengaku merasa jauh lebih tenang setelahnya.
“Ini cara baru untuk healing! Di Gresik, saya baru tahu ada art space seperti ini. Sepertinya saya akan ketagihan,” ungkapnya dengan antusias.
Membentuk tanah liat ternyata memberikan tantangan tersendiri. Meski terlihat mudah, proses ini menuntut kesabaran ekstra yang melampaui bayangan awalnya. “Kesabaran saya jadi terlatih,” tambah Sayyidah.
Ia meyakini, pelan tapi pasti, clay yang awalnya berbentuk bundar itu lama-lama menyerupai kepala orang utan. Proses meremas dan memencet tanah liat menjadi wadah positif bagi Sayyidah untuk menyalurkan emosi.
Sejak dari rumah, ia memang sudah menyiapkan inspirasi foto patung kepala orang utan yang dia cari di internet. Dengan teknik hand-built pijit dan ukir, ia mewujudkan imajinasinya perlahan-lahan.
Keseruan sempat pecah menjadi tawa saat Sayyidah berniat mengeluarkan alat penekan komedo dari tasnya. Ia membawanya dari rumah sebagai antisipasi jika pengelola tidak menyediakan alat runcing.
“Alhamdulillah, ternyata fasilitas di sini lebih lengkap dari perkiraan saya. Akhirnya saya memakai alat ukir profesional yang tersedia untuk mengukir stoneware clay ini,” katanya sambil tertawa.
Baca Juga: Jeda dari Layar, Digital Detox Art Jam Momen Temukan Ketenangan di Sualoka Hub

Berbagi Cerita dalam Warna
Pengalaman berbeda dirasakan oleh Tryas Ngudi Lestari. Ini merupakan kali keduanya berkunjung ke Kano Art Space. “Pastinya senang, karena kehadiran art space seperti Kano membuat kita bisa memanfaatkan waktu luang secara positif. Kita bisa mengembangkan potensi dan hobi di bidang seni,” jelasnya.
Bagi Tryas, berkarya di ruang publik memberikan energi yang berbeda jika dia bandingkan di rumah. Interaksi dan obrolan dengan peserta lain atau teman menjadi nilai tambah yang ia cari. Meski sudah pernah melukis sebelumnya, ia mengaku pengalaman pottery pertamanya jauh lebih menantang dan mendebarkan.
Pada sesi kali ini, ketegangan sempat muncul di ujung sesi. Baju Tryas terkena noda cat akrilik dari tangannya. Ia sempat khawatir noda tersebut tidak akan hilang. Padahal, sejak awal Maul sudah menyarankan peserta untuk mengenakan apron yang tergantung di dinding ruangan, namun Tryas menolaknya.
“Segera ke kamar mandi untuk mencucinya, Kak,” saran Maul dengan tenang.
Setelah mengucek pakaiannya dengan sabun, kekhawatiran Tryas sirna. Noda cat tersebut hilang tanpa bekas. Tawa kembali pecah di ruangan berukuran 3×1,5 meter itu, mencairkan suasana yang sempat tegang.
Kano Art Space yang berlokasi di Samping 2 Hos Cafe, Jalan Proklamasi Blok GG 307, Gresik, menjadi oase bagi pencinta seni. Tempat ini menawarkan berbagai kelas menarik mulai dari pottery hand-built, melukis mug keramik, hingga melukis di atas topi, kanvas, dan tas. Dengan sistem reservasi minimal H-1, siapa pun bisa mencoba mengekspresikan diri setiap Selasa hingga Ahad. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












